Napak Tilas Dan Pelarasan Panca Nada Alat Musik Tradisional Lampung Talo Balak

Budaya | 18 Jun 2023 | 07:31 WIB
Napak Tilas Dan Pelarasan Panca Nada Alat Musik Tradisional Lampung Talo Balak
Potret para pelestari seni sedang memainkan alat musik tradisional Lampung Talo Balak

Uwrite.id - LAMPUNG,- Jika berbicara tentang musik tentu tak akan lepas dari peran sebuah alat atau media yang dimainkan untuk menghasilkan nada-nada yang elok nan indah, dengan adanya itulah musik bisa diterima oleh khalayak ramai.

Salah satunya alat musik tradisional, alat musik yang berkembang secara turun menurun pada suatu daerah. Alat musik tersebut biasanya digunakan untuk mengiringi sebuah musik-musik yang terdapat di kalangan masyarakat daerah tersebut.

Setiap suku bangsa yang ada di Indonesia memiliki alat musik khas daerah yang berbeda-beda. Biasanya disebut alat musik tradisional, yaitu alat musik yang diciptakan dan berkembang atas suatu daerah setempat.

Pada kesempatan ini kita akan membahas alat musik berasal dari daerah Lampung yakni Talo Balak, sekilas alat tersebut mirip seperti alat musik tradisional talempong dari Minangkabau, reyong dari Bali dan bonang dari Jawa Tengah.

Alat musik ini memegang peranan sangat penting terutama dalam acara adat Gawi Adat. Hal ini dibuktikan dengan adanya tabuhan yang memiliki fungsi penting dalam gawi dimaksud seperti memanggil para kerabat, Penyambut tamu, dan sebagainya. Karena musik talo balak ini memiliki arti yang sangat penting dalam dalam sebuah Gawi.

awalnya memiliki banyak nama istilah sesuai dengan daerah masing-masing. Ada yang menyebut dengan istilah Gamolan, Kakhumung, Kulitang, Kelenongan, Kelitang, dan beberapa istilah lain. Sehingga berdasarkan kesepakatan dari beberapa tokoh-tokoh adat Lampung membuat kesepakatan dengan memberikan sebutan bahwa alat musik ini disebut Talo Balak.

Sehingga sampai saat ini alat musik ini disebut dengan musik Talo Balak, kendatipun masih ada kecendrungan beberapa masyarakat Lampung menyebut dengan istilah di daerah mereka masing- masing.

•Asal-usul Talo Balak.

Menurut informasi dari beberapa budayawan dan seniman Lampung yang dihimpun menjelaskan, bahwa pada abad ke-15 Masehi saat itu Keratuan Pugung dan Melinting mempunyai hubungan khusus dengan kesultanan Banten atas penyebaran islam di tanah Lampung.

Diketahui pada zaman itu masyarakat sangat menggemari pesta dan hiburan yang disuguhkan oleh kerajaan, tiba pada waktunya kesultanan Banten membawa beberapa alat musik tabuh gamelan berikut pemainnya dari tanah seberang untuk menghibur masyarakat keratuan pugung.

Melihat antusiasme dari rakyat pugung tersebut, penghibur kesenian kesultanan banten berniat meninggalkan alat musiknya di keratuan pugung agar bisa dipelajari dan dimainkan oleh masyarakat sekitar sebagai sarana hiburan.

Sehingga dengan adanya itu lambat laun masyarakat lampung mulai mempelajari dan lihai dalam memainkan alat musik tabuhan tersebut dengan versi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan hiburan dan budaya di keratuan Pugung dan masyarakat Lampung sepakat menamai alat tabuhan itu dengan menyebut Gamelan Talo Balak.

•Talo Balak Mengalami Pergeseran Tangga Nada

Seiring menjamur nya Talo Balak di daerah-daerah Provinsi Lampung dari kurun waktu yang cukup lama, ada beberapa faktor menyebabkan kesimpangsiuran dalam menentukan pakem tangga nada Talo Balak dikarenakan minim nya teori dan pengetahuan.

Ditambah lagi masyarakat saat itu mempunyai kebiasaan memberikan satu bagian alat talo balak kepada seseorang yang dianggapnya istimewa dan itu berangsur-angsur terjadi tiap keturunannya, hal itulah yang membuat Talo Balak tercerai berai dan meruntuhkan originalnya.

Begitupun dengan tangga nada Talo Balak, setiap besi mempunyai estimasi waktu perubahan dalam bentuk dan suara. Itu dikarenakan pemain selalu memukulkan nya secara terus-menerus dan fatalnya pemain tidak acuh adanya perubahan nada Talo Balak tersebut.

•Napak Tilas Penyempurnaan Panca Nada Talo Balak

Karena terjadi nya perkara tersebut, maka pada tahun 1993 Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Provinsi Lampung membentuk satu kelompok yang bertujuan mencari pelarasan tangga nada daripada Talo Balak dan Cetik.

Di dalam tim itu mengumpulkan beberapa budayawan dari berbagai penjuru Lampung yaitu; 


1.Hafidzi Hasan (Taman Budaya Provinsi Lampung)
2. I Gusti Nyoman Arsana (Taman Budaya Provinsi Lampung)
3. Razi Arifin (Seniman & Budayawan)
4.Tarmizi Nawawi (Seniman & Budayawan)
5. Khadin Marwan (Ketua TMII)
6. Ja'far (Budayawan Lampung Timur)
7. Usman Ahmad (Budayawan Lampung Utara)
8. Syapril Yamin (Budayawan Lampung Barat)
9. Kamsadi (Seniman & Budayawan)
10. Azhari Kadir (Seniman & Budayawan)

Sesudah terbentuk, tim napak tilas mengadakan perjalanan dari Lampung menuju daerah Bogor untuk melakukan investigasi pelarasan nada tangga Talo Balak. Sembari menempuh perjalanan menuju Bogor, tim tersebut beberapa kali membahas persoalan sekaligus mencari solusi jalan keluar.

Dalam perjalanan, salah satu anggota tim bernama Ja'far menceritakan pengalamannya ketika ia berhasil mendapat kesempatan untuk menampilkan tarian dan musik tradisional Lampung di Istana Negara pada tahun 1985.

Beliau menuturkan bahwa saat itu ia membawa Talo Balak miliknya yang sudah berwarna hitam dan kusam, seketika juga Paspampres menghampiri dan menegur beliau untuk segera membersihkan alat musik tersebut.

Atas instruksi dari Paspampres itu lantas Ja'far berusaha membersihkan alatnya seharian namun tak juga kunjung bersih, sampai pada akhirnya beliau memutuskan untuk meminjam alat musik tradisional dari Bali yang bernama Reyong yang berjumlah 12 sebagai pengganti Talo Balak.

Menurut pengakuan beliau ketika memainkan alat musik reyong disaat pertunjukan di Istana Negara, tangga nada yang digunakan sama percis dengan tangga nada Talo Balak miliknya. Semua terasa pas dan tak ada nada yang meleset sedikit pun.

Sontak hal tersebut disambut oleh I Gusti Nyoman Arsana, karna ia tahu betul formasi nada tangga alat musik Reyong dari bali tesebut, hingga akhirnya tim menyepakati untuk coba memastikan kebenaran itu.

Sesampainya di Bogor lebih tepatnya dikawasan daerah Pancasan, Rumah pengrajin Gamelan Gong Hum. Lanjut  I Gusti Nyoman Arsana meminta kepada Pak Sukarna untuk dibuatkan Degung 12 nada pelog.

Selepas proses pembuatan alat tersebut rampung, dimulai lah uji coba oleh seluruh budayawan dan seniman dipenjuru lampung tentang keselarasan antara tangga nada Talo Balak dengan alat yang dipesan.

Alhasil uji coba tersebut akhirnya berbuah positif dan muncul kesepakatan seluruh Seniman dan Budayawan Lampung dengan menyatakan bahwa Talo Balak bertangga nada jenis Pelog, Sampai saat ini belum ada nama penyebutan dari Seniman dan Budayawan Lampung perihal penyebutan nada pelog.(AL)
 

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar