
Uwrite.id - Di dompetnya ada dua kartu identitas.
Yang satu asli. Yang satu tidak pernah ia pakai di kantor kelurahan.
Kartu yang asli jarang disentuh. Disimpan rapi, dilipat bersama surat penting lain. Kartu yang palsu—atau setidaknya, bukan nama sebenarnya—lebih sering berpindah tangan. Diselipkan ke tas kecil, dikeluarkan saat perlu, dimasukkan kembali sebelum subuh.
Malam itu, ia memeriksa keduanya sebelum berangkat. Kebiasaan kecil yang membuatnya merasa masih punya kendali.
Di depan cermin, ia berdandan cepat. Tidak berlebihan. Tidak juga seadanya. Ia memilih pakaian yang sama seperti minggu lalu—yang tidak menimbulkan pertanyaan, yang tidak memancing ingatan.
Anaknya sudah tidur. Napasnya teratur. Buku pelajaran terbuka di samping bantal. Ia menutupnya pelan, mengecup dahi kecil itu, lalu berdiri lama di pintu kamar.
Ia selalu berdiri lama di sana. Seperti ingin memastikan satu dunia tertinggal utuh sebelum memasuki dunia lain.
Motor dinyalakan. Jalanan malam menyambut tanpa ekspresi. Ia hafal rutenya, lubang-lubang kecil di aspal, lampu merah yang terlalu lama. Kota ini terasa lebih jujur setelah pukul dua.
Di tempat kerjanya, lampu menyala redup. Musik belum terlalu keras. Beberapa wajah yang sama sudah datang lebih dulu. Mereka saling sapa dengan nama yang tidak ada di akta kelahiran siapa pun.
“Malem,” katanya singkat.
“Malem,” balas yang lain.
Nama malamnya dipanggil. Ia menoleh. Mengangguk. Senyum tipis. Semua berjalan seperti biasa.
Di ruangan kecil belakang, ia mengganti sepatu. Menggantung tas. Mengeluarkan kartu identitas palsu, memastikannya ada. Ia tidak tahu kenapa masih menyimpannya. Mungkin sebagai pengingat bahwa sesuatu ini tidak permanen. Atau justru karena takut suatu hari ia lupa siapa dirinya di siang hari.
Jam berlalu. Tamu datang dan pergi. Ia tertawa saat perlu, diam saat harus. Ada obrolan ringan, ada sentuhan yang dijaga jaraknya. Ia pandai membaca batas.
Sekitar pukul tiga, seorang lelaki memintanya duduk. Nada bicaranya tenang. Wajahnya lelah.
“Kamu kerja lama di sini?” tanyanya.
“Cukup,” jawabnya.
“Punya keluarga?”
Pertanyaan itu seperti benda jatuh di lantai—tidak keras, tapi terasa.
Ia tersenyum. “Di sini saya kerja.”
Lelaki itu mengangguk, paham. Ia tidak melanjutkan. Mereka diam sejenak, ditemani musik yang tidak mereka dengarkan.
Ketika lelaki itu pergi, ia menarik napas panjang. Satu bahaya terlewati. Bukan bahaya fisik. Bahaya cerita.
Menjelang subuh, ia pulang. Seperti biasa. Terakhir. Kota sudah mulai berubah warna. Bau malam tergantikan bau pagi.
Di rumah, ia meletakkan tas, melepas sepatu, mencuci muka. Wajah siangnya muncul perlahan. Lebih tenang. Lebih polos.
Ia tidur sebentar. Mimpi datang terputus-putus. Potongan suara. Lampu. Nama yang salah dipanggil.
Ia terbangun oleh cahaya matahari dan suara anaknya bersiap sekolah.
“Bu, hari ini ada tugas,” kata anaknya sambil mengikat sepatu.
“Iya,” jawabnya. “Apa?”
“Harus ditandatangan wali.”
Ia terdiam sebentar. “Mana bukunya?”
Anaknya menyerahkan buku penghubung. Ia membacanya cepat. Matanya berhenti di kolom tanda tangan wali.
Ia menandatangani dengan nama aslinya. Tangannya sedikit gemetar.
“Besok ada rapat orang tua,” kata anaknya.
“Jam berapa?”
“Siang.”
Ia mengangguk. “Iya.”
Setelah anaknya berangkat, ia duduk lama di meja makan. Buku itu masih terbuka. Nama aslinya tertera jelas. Ia menatapnya seperti menatap orang lama yang jarang ditemui.
Teleponnya bergetar. Pesan dari tempat kerja: Malam ini masuk ya.
Ia membalas: Iya.
Di siang hari, ia pergi ke kelurahan. Urusan kecil. Perpanjangan berkas. Ia mengeluarkan kartu identitas asli. Petugas melihatnya sekilas, mengetik, mengembalikan.
“Sudah, Bu.”
Ia mengangguk. Mengucapkan terima kasih. Keluar dengan perasaan aneh—lega karena diakui, cemas karena diingat.
Sore hari, ia menjemput anaknya. Mereka membeli gorengan. Anak itu bercerita tentang sekolah. Tentang teman yang berisik. Tentang guru yang galak tapi baik.
Ia mendengarkan. Mengangguk. Tertawa kecil.
Malam datang lagi. Ia berdandan. Mengganti pakaian. Menyimpan kartu identitas palsu ke tas. Kartu asli ditinggalkan di rumah.
Di cermin, ia menatap dirinya lama. Dua versi bertemu di sana. Tidak saling menyapa.
Di tempat kerja, musik lebih keras. Lampu lebih terang. Orang lebih ramai.
Nama malamnya dipanggil lagi. Ia menoleh. Tersenyum. Menjadi versi yang diharapkan.
Di sela-sela waktu, ponselnya bergetar. Pesan dari wali kelas: Besok mohon hadir ya, Bu.
Ia membalas: Iya.
Sekitar pukul tiga, seseorang meminta kartu identitas. Prosedur mendadak. Dadanya mengencang.
Ia menyerahkan kartu palsu. Orang itu melihat sebentar. Mengangguk. Mengembalikan.
Ia menarik napas. Lagi-lagi lolos.
Namun, kelegaan itu pendek. Karena ia tahu, tidak selamanya.
Menjelang subuh, ia pulang. Jalanan sepi. Rumah menyambut sunyi.
Di kamar, ia membuka dompet. Mengeluarkan kedua kartu identitas. Meletakkannya di atas meja.
Nama yang satu rapi. Nama yang lain samar. Keduanya miliknya. Keduanya bukan.
Ia memilih satu, memasukkannya kembali ke dompet. Yang satu lagi disimpan di laci.
Ia berbaring. Menatap langit-langit. Berpikir tentang rapat besok. Tentang tanda tangan. Tentang nama yang akan disebut.
Ia tahu, suatu hari, dua dunia ini akan saling menyenggol lebih keras. Ia tidak tahu kapan.
Yang ia tahu, malam ini ia masih bisa memilih.
Nama mana yang dipakai.
Cerita mana yang disimpan.
Dan di dunia yang menuntut kejelasan,
ia hidup dengan dua nama—
agar satu kehidupan bisa tetap berjalan.

Tulis Komentar