Muhammadiyah Serukan Islam Damai, Singgung Konflik Timur Tengah

Uwrite.id - Garut - Silaturahmi Ba’da Idul Fitri yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Cibiuk, Kabupaten Garut, pada Jumat (10/04), berlangsung dalam suasana hangat dan penuh refleksi keagamaan.
Bertempat di Pesantren Al-Furqon Garut, kegiatan itu tidak hanya menjadi ajang saling memaafkan, tetapi juga momentum mempertegas wajah Islam yang damai, terbuka, dan menghargai perbedaan.
Hadir sebagai pembicara utama, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menyampaikan pesan penting tentang bagaimana umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah, harus mengedepankan sikap moderat dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan, termasuk dalam penentuan hari raya Idul Fitri.
Menurutnya, perbedaan penetapan Idul Fitri yang kerap terjadi tidak seharusnya dipahami sebagai bentuk ketidaktaatan terhadap pemerintah.
Ia menegaskan anggapan tersebut tidak tepat dan justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Kalau Muhammadiyah Idul Fitrinya berbeda, itu bukan berarti tidak taat kepada pemerintah. Jadi kalau ada yang mengatakan seperti itu, sangat tidak tepat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah ijtihad dalam Islam yang harus dihormati. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah bagaimana umat tetap menjaga persatuan melalui silaturahmi dan saling menghargai.
“Kita harus memperbanyak silaturahmi. Dengan silaturahmi, perbedaan tidak akan menjadi sumber konflik, tetapi justru menjadi kekayaan,” ujarnya.
Muhadjir juga menekankan pentingnya sikap terbuka atau open minded sebagai karakter utama gerakan Muhammadiyah.
Menurutnya, sebagai gerakan tajdid, Muhammadiyah tidak boleh terjebak dalam cara pandang sempit yang menutup diri terhadap perbedaan.
“Kita harus open minded. Kalau tidak open minded, itu bukan gerakan tajdid,” katanya lugas.
Soroti Konflik Global
Dalam konteks global, Muhadjir turut menyinggung dinamika konflik di Timur Tengah yang kerap memengaruhi persepsi umat Islam di Indonesia.
Ia mengingatkan, persoalan di kawasan tersebut sangat kompleks dan tidak bisa dilihat secara hitam-putih.
Muhammadiyah, jelasnya, secara konsisten mendukung solusi damai berupa skema dua negara sebagaimana pernah diperjuangkan oleh Yasser Arafat melalui faksi Fatah.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis dalam mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan antara Palestina dan Israel.
“Kita mendukung skema dua negara yang dulu diperjuangkan Fatah. Itu jalan damai yang rasional,” ungkapnya.
Sebaliknya, ia menegaskan Muhammadiyah tidak mengambil posisi mendukung Hamas yang memiliki keterkaitan dengan Iran. Ia mengingatkan, persepsi publik yang menyederhanakan konflik Timur Tengah sering kali menyesatkan.
“Kita tidak mendukung Hamas yang didukung Iran. Di sinilah kita harus paham, mengapa kita sering dikesankan tidak mendukung Iran. Karena persoalan konflik Timur Tengah ini tidak sederhana,” jelasnya.
Muhadjir mengajak umat Islam untuk lebih bijak dalam memahami geopolitik global dan tidak mudah terjebak dalam narasi yang emosional tanpa landasan analisis yang memadai. Baginya, sikap rasional dan proporsional merupakan bagian dari ajaran Islam yang berkemajuan.
Kepentingan Nasional Jadi Prioritas
Lebih jauh, ia juga menekankan pentingnya menempatkan kepentingan nasional Indonesia sebagai prioritas utama dalam menyikapi berbagai isu internasional.
Dalam konteks hubungan luar negeri, Indonesia memiliki kerja sama strategis dengan berbagai negara, termasuk Arab Saudi, khususnya dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Yang utama adalah bagaimana kita mengedepankan kepentingan nasional kita. Kita banyak bekerja sama dengan Arab Saudi, terutama dalam urusan haji,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa sikap keagamaan tidak dapat dilepaskan dari realitas kebangsaan.
Muhammadiyah, sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil Indonesia, dituntut untuk mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan kepentingan nasional secara seimbang.
Perkuat Ukhuwah dan Wawasan
Kegiatan silaturrahmi ini pun menjadi ruang refleksi bersama bagi para peserta yang hadir, mulai dari pengurus Muhammadiyah, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar.
Diskusi yang berlangsung memperlihatkan antusiasme tinggi dalam merespons berbagai isu keagamaan dan kebangsaan yang disampaikan.
Ketua PCM Cibiuk, KH. Yanto Asyatibie dalam sambutannya menegaskan kegiatan itu merupakan bagian dari upaya memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperluas wawasan keagamaan warga Muhammadiyah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
“Silaturahmi ini bukan hanya tradisi, tetapi juga sarana untuk memperkuat pemahaman kita tentang Islam yang damai dan berkemajuan,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya polarisasi di berbagai lini kehidupan, pesan-pesan yang disampaikan dalam forum ini menjadi sangat relevan.
Islam yang damai, terbuka, dan menghargai perbedaan bukan hanya menjadi ideal, tetapi juga kebutuhan mendesak dalam menjaga keutuhan bangsa.
Dari Cibiuk, Garut, Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya sebagai gerakan tajdid yang tidak hanya berorientasi pada pemurnian ajaran, tetapi juga pada pembangunan peradaban yang inklusif dan berkeadaban.
Silaturahmi pun menjadi jembatan penting untuk merawat persatuan di tengah keberagaman. (*)

Tulis Komentar