Minuman Gratis untuk Lelaki yang Kesepian

Seni | 04 Jan 2026 | 11:02 WIB
Minuman Gratis untuk Lelaki yang Kesepian
Minuman Gratis untuk Lelaki yang Kesepian/Image by AI

Uwrite.id - Di balik bar, Andi belajar satu hal sejak tahun pertama:

orang datang bukan karena haus.

Gelas-gelas berjajar rapi. Botol berlabel asing berdiri seperti tentara yang lelah. Lampu bar sengaja dibuat redup—cukup untuk melihat tangan, tidak cukup untuk membaca wajah terlalu jelas. Di tempat seperti ini, samar adalah kenyamanan.

Jam menunjukkan pukul dua lewat dua puluh. Musik masih sama. Lagu berganti, tapi perasaan tidak.

“Bir satu,” kata seorang lelaki sambil duduk di kursi bar.

Andi mengangguk. “Dingin?”

“Dingin.”

Andi menuang. Busa naik sedikit, ia miringkan gelas. Gerakan itu otomatis. Tangannya bekerja lebih cepat dari pikirannya.

Lelaki itu menatap ponselnya, lalu menaruhnya telungkup. Ia minum seteguk, menghela napas.

“Kerja di sini lama?” tanyanya.

“Cukup,” jawab Andi.

“Cukup itu berapa?”

“Buat lupa tanggal.”

Lelaki itu tertawa kecil. “Masih muda.”

Andi tersenyum tipis. Ia sudah berhenti menjelaskan. Di balik bar, usia tidak dihitung dari angka, tapi dari seberapa sering kau mendengar cerita yang sama dengan nama berbeda.

Lelaki lain duduk dua kursi dari sana. Kemeja rapi. Jam mahal. Ia memesan whisky tanpa es.

“Langsung?” tanya Andi.

“Iya.”

Whisky dituangkan. Lelaki itu menatap cairan di gelas sejenak, seolah sedang menimbang sesuatu.

“Gratis satu,” kata Andi setelah lelaki itu meneguk setengah. “Dari saya.”

Lelaki itu mengangkat alis. “Serius?”

Andi mengangguk. “Sering datang.”

“Terima kasih,” katanya. Nada suaranya berubah. Lebih hangat.

Minuman gratis selalu bekerja. Bukan karena alkoholnya, tapi karena perasaan dianggap.

Sekitar jam tiga, bar mulai penuh oleh orang-orang yang ingin istirahat dari dentuman. Mereka berdiri, bersandar, bicara setengah teriak.

“Mas, satu lagi!”

Andi bergerak cepat. Menuang. Mengelap meja. Mendengar setengah cerita.

“Aku capek, Mas,” kata seorang lelaki sambil tertawa. “Di rumah ribut terus.”

Andi mengangguk. “Minumnya apa?”

“Yang keras.”

“Semua di sini keras,” jawab Andi ringan.

Lelaki itu tertawa. “Bener juga.”

Di sela-sela itu, seorang perempuan duduk sendirian di ujung bar. Jaket tipis. Rambut diikat asal. Ia memesan air mineral.

“Air doang?” tanya Andi.

“Iya.”

Andi menyerahkan botol. Mereka diam sebentar.

“Pulang terakhir?” tanya Andi.

Perempuan itu mengangguk. “Biasanya.”

Andi tidak bertanya kenapa. Di tempat ini, biasanya sudah cukup sebagai jawaban.

Sekitar pukul tiga lewat lima belas, lelaki dengan jam mahal kembali bicara.

“Mas,” katanya pelan. “Kalau orang minum sendirian itu aneh nggak?”

Andi menatapnya. “Di sini? Nggak.”

“Di luar?”

“Di luar, semua orang aneh. Cuma beda cara.”

Lelaki itu tersenyum. “Saya ke sini bukan buat mabuk.”

“Terus?”

“Buat nggak pulang cepat.”

Andi menuang whisky gratis yang tadi ia janjikan. “Minum pelan.”

Lelaki itu menatap gelas. “Di rumah, saya harus jadi versi yang benar.”

“Di sini?”

“Saya nggak harus apa-apa.”

Andi mengangguk. Ia sudah mendengar versi itu ratusan kali. Lelaki mapan. Pekerjaan stabil. Rumah rapi. Tapi ada ruang kosong yang tidak bisa diisi gaji.

“Mas sendiri?” tanya lelaki itu.

Andi berhenti sejenak. “Saya kerja.”

“Itu bukan jawaban.”

Andi tersenyum. “Jawaban paling aman.”

Lelaki itu tertawa kecil. Minum lagi. “Saya sering iri sama orang-orang yang bisa pulang dan benar-benar istirahat.”

Andi tidak menimpali. Ia mengelap gelas yang sudah bersih.

Di sudut bar, dua lelaki mulai bicara lebih keras. Andi mendekat.

“Pelan, Pak,” katanya.

“Iya, iya,” jawab salah satu, tapi suaranya turun.

Andi kembali ke tempatnya. Malam berjalan seperti biasa. Percakapan pecah-pecah. Tawa yang terlalu keras. Diam yang terlalu panjang.

Jam mendekati empat. Musik dikecilkan. Orang-orang mulai pergi.

Lelaki pertama yang pesan bir berdiri. “Mas,” katanya. “Makasih ya.”

“Iya.”

“Enak ngobrol sama Mas.”

Andi mengangguk. Lelaki itu pergi. Mereka tidak bertukar nama.

Lelaki jam mahal masih duduk. Gelasnya hampir kosong.

“Mas,” katanya. “Boleh satu lagi?”

Andi melihat jam. “Terakhir.”

“Bayar.”

Andi menuang. “Yang ini gratis.”

Lelaki itu terdiam. “Kenapa?”

“Biar pulangnya nggak terlalu sepi.”

Lelaki itu tersenyum, kali ini lebih tulus. Ia minum pelan.

“Mas tahu nggak,” katanya, “kadang saya berharap bar ini buka siang.”

“Siang orang jujur,” jawab Andi. “Malam orang berani.”

Lelaki itu mengangguk. Ia berdiri. Menyisakan tip di meja.

“Terima kasih,” katanya. “Bukan minumannya.”

Andi hanya mengangguk.

Bar mulai sepi. Perempuan di ujung bar berdiri.

“Mas,” katanya. “Airnya berapa?”

“Gratis.”

Perempuan itu tersenyum kecil. “Terima kasih.”

“Ati-ati pulang.”

“Iya.”

Ia pergi.

Andi merapikan bar. Menghitung botol. Menyimpan uang tip. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya masih bekerja.

Di balik bar, ia mematikan lampu satu per satu. Ruangan berubah jadi biasa. Tidak istimewa. Tidak jujur.

Di luar, udara subuh menyambut. Andi berdiri sebentar di pintu belakang, menyalakan rokok.

Ia tahu, besok malam, orang-orang itu akan kembali. Dengan cerita yang sama, luka yang sama, dan harapan kecil yang disamarkan.

Dan ia akan tetap di sini.

Menuangkan minuman.

Mendengar tanpa menyimpan.

Karena di dunia malam,

minuman gratis bukan tentang alkohol—

tapi tentang diberi alasan untuk tinggal sedikit lebih lama.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar