Menyongsong Beroperasinya Transjakarta Perairan, Publik Inginkan Juga Ada Armada Sungai TJ

Uwrite.id - Jakarta - Transjakarta bersiap meluncurkan layanan perairan. Rute pertama akan menghubungkan Dermaga Angke menuju Kepulauan Seribu. Layanan ini menggantikan sebagian fungsi penyeberangan yang selama ini ditangani Dishub Jakarta.
"Kalau BUMD yang pegang, semoga jadwalnya pasti dan tarifnya wajar," kata Bahrudin, 48 tahun, warga Pulau Tidung, Kepulauan Seribu.
Selama ini ia dan warga pulau bergantung pada kapal swasta yang harganya naik-turun. Ia berharap tiketnya bisa memakai JakLingko supaya terkoneksi sehingga biaya total perjalanan jadi jauh lebih murah.
Pemprov DKI menargetkan operasional akhir tahun ini. Dua kapal penumpang berkapasitas sedang disiapkan dengan standar keselamatan laut. Integrasi sistem tiket sedang diuji.
Di sisi lain, warga daratan mulai bersuara. Mereka tidak hanya menginginkan kapal laut, tapi juga angkutan di sungai.
Siti Aminah, 39 tahun, dari Kampung Melayu, Jakarta Timur, menilai Ciliwung terlalu lama dibiarkan jadi tempat sampah. Menurutnya, kalau ada perahu mikro antarshelter, mobilitas warga bantaran akan jauh lebih cepat.
"Macet di Krukut itu tiap pagi nggak ketulungan. Saya pilih naik 'bus air' kalau ada," ujar Dedi, 31 tahun, Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Ia membayangkan rutenya dari Grogol ke Tanah Abang. Jarak antar pemberhentian cukup 800 meter, tarifnya disamakan Rp3.500 biar orang mau berpindah dari sepeda motor pribadi.
Dinas Perhubungan menyebut sedang mengkaji ulang hidrologi. Kedalaman, arus, dan sedimentasi jadi tantangan utama. Tanpa pengerukan, armada akan cepat rusak.
Soal kebersihan, warga Jakarta Utara tidak mau ketinggalan. Rina Hufaidilah, 42 tahun, Ancol, Jakarta Utara, menegaskan percuma ada kapal kalau sungainya masih kotor. Ia menyarankan program armada digabung dengan gerakan bersih sungai. Dengan begitu kesadaran warga ikut naik.
Transjakarta menyatakan terbuka. Dirutnya mengatakan bahwa pihaknya tengah mempelajari skema integrasi darat, laut, dan sungai. Tapi prioritas awal tetap Angke-Kepulauan Seribu karena dukungan anggaran lebih siap.
"Anggap aja bikin satu koridor percontohan dulu. Ciliwung Kampung Melayu-Manggarai itu paling ideal," ungkap Janiun, 35 tahun, warga Tebet, Jakarta Selatan.
Ia lalu menambahkan contoh Bangkok dan Seoul yang sukses dengan angkutan sungai. Kuncinya, halte air harus terhubung langsung dengan LRT dan Transjakarta.
Warga Kepulauan Seribu menyorot harga.
Ibu Nurlaila, 50 tahun, Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, mengeluh ongkos kapal cepat sekarang terlalu mahal. Ia berharap kapal BUMD datang dengan subsidi dan jadwal tetap. Anak sekolah dan pekerja yang tiap hari ke daratan akan sangat terbantu.
Dari Jakarta Pusat muncul ide baru. "Kalau KBT dibikin jalur, bisa tembus Pulo Gadung ke Tanjung Priok. Tinggal bikin dermaga dekat pasar," komentar Faisal Rahman, 27 tahun, yang tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Pusat.
Ia menilai kanal itu lebar dan lurus, cocok untuk perahu mikro.
Keamanan juga jadi perhatian. Mulyadi, 45 tahun, salah satu Ketua RW di kawasan Kebon Pala, Jakarta Timur, meminta ada pelampung, radio, dan operator bersertifikat.
Dirinya juga mengusulkan jam operasi diperpanjang sampai malam, bukan hanya siang.
Pemerintah kelurahan menyatakan siap menyediakan lahan. Beberapa RW di Jakarta Timur sudah memetakan titik dermaga. Tinggal menunggu komitmen anggaran Pemprov.
"Selama ini sungai cuma dianggap saluran banjir. Padahal bisa jadi urat nadi transportasi," kata seorang pengamat tata kota dalam forum.
Pernyataan itu diamini Lina Kartika, 33 tahun, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Ia menambahkan, warga butuh pilihan selain jalanan yang macet.
DPRD DKI mendorong program ini masuk RPJMD. Dengan payung hukum, proyek tidak berhenti di tengah jalan. Pengawasan anggaran juga bisa lebih transparan.
"Kapalnya boleh kapal laut dulu, tapi jangan lupakan sungai," ucap Bahrudin lagi saat ditanya kelanjutan program.
Ia menegaskan warga pulau dan warga bantaran sama-sama butuh kepastian.
Siti Aminah menimpali, "Kalau lihat perahu lewat tiap hari, orang jadi malu buang sampah ke sungai."
Harapannya, efek ganda dari transportasi dan lingkungan bisa jalan bareng.
Dedi Saputra lalu menyelipkan kritik. Ia khawatir proyek berhenti jadi wacana. "Jangan kayak dulu, uji coba 2018 cuma beberapa bulan," katanya.
Menanggapi itu, Dishub berjanji evaluasi menyeluruh. Teknologi dan manajemen sekarang dianggap lebih siap dibanding 2018. Petugas juga akan dilatih untuk evakuasi saat hujan deras.
Rina menambahkan, "Libatkan komunitas di tiap kelurahan buat jaga dermaga." Ibu dua anak ini yakin bahwa keterlibatan warga akan membuat fasilitas lebih awet.
Faisal Rahman menyarankan integrasi tarif. "Naik perahu, naik bus, naik LRT, satu kartu. Itu yang bikin orang pindah," ujarnya singkat.
Hamid setuju. Ia menyebut tanpa integrasi, moda baru akan sepi penumpang. "Orang Jakarta maunya praktis," tegasnya.
Ibu Nurlaila berharap waktu tempuh ke Muara Angke dipangkas. "Jangan nunggu penuh baru jalan. Kasihan yang buru-buru," pintanya.
Mulyadi justru memberi usulan teknis. Dermaga harus ada atap dan lampu. "Biar aman buat ibu-ibu dan anak sekolah," katanya.
Lina Kartika mengingatkan soal anggaran. "Buka aja rinciannya. Satu dermaga berapa, satu perahu berapa. Biar kami bisa awasi," ujarnya.
Siti Aminah tidak mempersoalkan jumlah armada yang diluncurkan di awal. "Mulai dari satu sungai dulu nggak apa-apa. Kalau bagus, baru kembangkan," katanya sambil tersenyum.
Dedi Saputra menyambut dengan optimis. "Jakarta butuh wajah baru. Bukan cuma macet dan banjir," katanya.
Di sisi lain, Rina berpendapat. "Air itu aset. Sayang kalau nggak dipakai," ujarnya.
Hamid mengemukakan bahwa dua lintasan moda harus diwujudkan untuk Jakarta, “Laut untuk antarpulau, sungai untuk dalam kota. Itu mimpi kami,” ungkapnya.
Hamid menghargai rintisan ini. "Transjakarta Perairan bisa jadi awal. Armada Sungai TJ harus nyusul," seloroh Hamid.
Dirinya berharap 2026 bukan hanya ada kapal, tapi juga perahu yang hilir mudik di sungai Jakarta. (*)

Tulis Komentar