Mengungkap Asal-Usul Mitos Nyi Roro Kidul: Dari Kekalahan Sultan Agung hingga Larangan Memakai Baju Hijau

Budaya | 15 Jun 2026 | 14:30 WIB
Mengungkap Asal-Usul Mitos Nyi Roro Kidul: Dari Kekalahan Sultan Agung hingga Larangan Memakai Baju Hijau
Gambar Ilustrasi

Uwrite.id - Hampir setiap orang Indonesia pernah mendengar nama Nyi Roro Kidul. Sosok yang dikenal sebagai Ratu Laut Selatan ini telah menjadi bagian dari budaya Jawa selama ratusan tahun. Kisahnya hidup dalam cerita rakyat, pertunjukan seni, ritual budaya, hingga berbagai pemberitaan modern yang sering mengaitkan setiap kecelakaan laut di Pantai Selatan dengan keberadaan sang ratu.

Bagi sebagian masyarakat, Nyi Roro Kidul dipercaya sebagai makhluk gaib yang menguasai Samudera Hindia. Konon, ia memiliki kerajaan megah di dasar laut dan mampu memanggil siapa saja yang dikehendakinya. Tidak sedikit pula yang mempercayai bahwa para raja Mataram memiliki hubungan spiritual dengannya.

Namun di balik kisah yang begitu terkenal itu, terdapat pandangan sejarah yang jauh lebih menarik. Sejumlah budayawan dan sejarawan berpendapat bahwa legenda Nyi Roro Kidul bukanlah catatan peristiwa nyata, melainkan sebuah konstruksi budaya dan politik yang lahir pada masa tertentu dalam sejarah Jawa.

Salah satu tokoh yang pernah mengemukakan pandangan tersebut adalah sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer.

Mataram dan Ambisi Menguasai Jawa

Untuk memahami asal-usul legenda ini, kita perlu kembali ke awal abad ke-17.

Pada masa itu, Kesultanan Mataram merupakan kekuatan politik terbesar di Pulau Jawa. Di bawah kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Mataram berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hampir ke seluruh Jawa.

Sultan Agung memiliki cita-cita besar: menyatukan Jawa di bawah satu kekuasaan dan mengusir VOC Belanda yang saat itu mulai menguasai Batavia.

VOC bukan hanya ancaman militer. Mereka juga menguasai jalur perdagangan yang sangat penting bagi perekonomian Nusantara. Selama Batavia berada di tangan VOC, Mataram tidak akan pernah menjadi penguasa penuh di Jawa.

Karena itulah Sultan Agung melancarkan dua ekspedisi besar ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629.

Kekalahan yang Mengubah Sejarah

Serangan pertama pada tahun 1628 sebenarnya sempat membuat VOC khawatir. Pasukan Mataram datang dalam jumlah besar dan mengepung Batavia dari berbagai arah.

Namun VOC memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Mataram: benteng yang kuat, persenjataan modern, dan jalur logistik laut yang stabil.

Baca Juga: Kemajuan Teknologi vs Keyakinan Klenik: Mampukah Kita Menjadi Bangsa yang Berpikir Rasional?

Pasukan Mataram mengalami kesulitan besar dalam memasok makanan dan perbekalan. Banyak prajurit yang jatuh sakit, kelaparan, dan akhirnya kehilangan daya tempur.

Setahun kemudian, Sultan Agung kembali mengirim ekspedisi kedua dengan kekuatan yang lebih besar. Namun hasilnya tetap sama. Serangan tersebut gagal menaklukkan Batavia.

Kegagalan ini bukan sekedar kekalahan militer biasa.

Batavia tetap menjadi pusat kekuasaan VOC di Nusantara. Jalur perdagangan utama di Pantai Utara Jawa tetap berada di luar kendali Mataram. Ambisi Sultan Agung untuk mengusir Belanda pun kandas.

Bagi kerajaan sebesar Mataram, kekalahan tersebut merupakan pukulan besar terhadap wibawa politik dan simbol kekuasaan kerajaan.

Teori Pramoedya: Lahirnya Nyi Roro Kidul Sebagai Simbol Kekuasaan

Dalam pidato tertulisnya saat menerima penghargaan Ramon Magsaysay tahun 1988, Pramoedya Ananta Toer mengemukakan analisis yang menarik.

Menurut Pramoedya, setelah gagal menguasai Pantai Utara Jawa dan jalur perdagangan laut, para pujangga istana Mataram menciptakan narasi baru yang menempatkan kerajaan sebagai penguasa simbolik Laut Selatan.

Dalam narasi tersebut lahirlah sosok Nyi Roro Kidul.

Jika Mataram gagal menguasai laut utara yang menjadi pusat perdagangan, maka kerajaan masih dapat digambarkan memiliki hubungan khusus dengan Laut Selatan yang misterius dan sakral.

Melalui mitos tersebut, kekuasaan Mataram tidak lagi hanya bersifat politik, tetapi juga kosmis dan spiritual.

Raja tidak sekedar menjadi pemimpin manusia, melainkan juga tokoh yang memiliki hubungan dengan kekuatan alam dan dunia gaib.

Dari sinilah berkembang cerita bahwa setiap raja Mataram memiliki hubungan khusus dengan Nyi Roro Kidul.

Cerita tersebut kemudian diwariskan turun-temurun hingga menjadi bagian dari tradisi keraton di Jawa.

Politik dan Mitos Selalu Berjalan Bersama

Bagi sebagian orang, teori ini mungkin terdengar kontroversial. Namun sebenarnya praktik seperti ini bukan hal yang asing dalam sejarah dunia.

Hampir semua kerajaan besar menggunakan mitos untuk memperkuat legitimasi kekuasaannya.

Di Mesir kuno, Firaun dianggap keturunan dewa.

Di Jepang, Kaisar dipercaya berasal dari garis keturunan Dewi Matahari Amaterasu.

Baca Juga: Mengapa Pocong Begitu Ditakuti? Membaca Mitos, Budaya, dan Psikologi Masyarakat Indonesia

Di Eropa abad pertengahan berkembang konsep Divine Right of Kings, yaitu keyakinan bahwa raja memperoleh hak memerintah langsung dari Tuhan.

Mitos semacam itu berfungsi memperkuat loyalitas rakyat sekaligus meningkatkan kewibawaan penguasa.

Dalam konteks Jawa, hubungan antara raja Mataram dan Nyi Roro Kidul dapat dipahami sebagai bagian dari mekanisme yang sama.

Mengapa Nyi Roro Kidul Selalu Dikaitkan dengan Warna Hijau?

Salah satu mitos yang paling populer hingga saat ini adalah larangan memakai pakaian hijau di Pantai Selatan.

Banyak wisatawan yang datang ke pantai selatan Jawa masih mendengar peringatan tersebut.

Konon, warna hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Siapa pun yang mengenakan warna hijau akan menarik perhatian sang ratu dan berisiko "dipanggil" ke laut.

Cerita ini begitu kuat sehingga masih dipercaya sebagian masyarakat hingga sekarang.

Namun ketika ditinjau secara rasional, terdapat penjelasan yang jauh lebih masuk akal.

Penjelasan Keselamatan yang Sering Terlupakan

Pantai Selatan Jawa terkenal memiliki ombak besar dan arus balik (rip current) yang sangat berbahaya.

Setiap tahun selalu ada wisatawan yang terseret ombak karena meremehkan kondisi laut.

Dalam situasi darurat seperti itu, warna pakaian memiliki peran penting.

Warna hijau sangat mudah menyatu dengan warna air laut dan vegetasi pantai.

Ketika seseorang terseret ombak, pakaian hijau menjadi lebih sulit dikenali dari kejauhan.

Sebaliknya, warna merah, kuning, jingga, atau putih jauh lebih mencolok dan mudah terlihat oleh tim penyelamat.

Karena itu muncul dugaan bahwa larangan memakai pakaian hijau awalnya merupakan bentuk edukasi keselamatan yang kemudian dibungkus dalam cerita mitologis agar lebih mudah dipatuhi masyarakat.

Pada masa lalu, ketika tingkat pendidikan masih rendah dan ilmu keselamatan pantai belum berkembang, pendekatan berbasis mitos sering kali lebih efektif dibandingkan penjelasan ilmiah.

Alih-alih mengatakan "jangan memakai hijau karena sulit terlihat saat tenggelam", masyarakat mungkin lebih mudah patuh jika diberi tahu bahwa "warna hijau adalah warna kesukaan Ratu Laut Selatan."

Versi Lain dari Pramoedya

Pramoedya juga pernah mengemukakan pandangan bahwa tabu terhadap warna hijau mungkin memiliki dimensi politik.

Menurut interpretasinya, warna hijau pada masa kolonial sering diasosiasikan dengan seragam tertentu yang digunakan pasukan Kompeni.

Para pujangga Mataram diduga berupaya menghilangkan asosiasi tersebut melalui simbol dan mitos yang berkembang dalam masyarakat.

Meski teori ini masih menjadi bahan diskusi, hal tersebut menunjukkan bahwa sebuah mitos sering kali memiliki lebih dari satu lapisan makna.

Di balik cerita mistis bisa saja terdapat alasan politik, sosial, ekonomi, bahkan keselamatan publik.

Ketika Ombak Menjadi Mitos

Menariknya, hampir setiap kecelakaan di Pantai Selatan sering dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul.

Padahal para ahli kelautan telah lama menjelaskan bahwa Pantai Selatan Jawa memang memiliki karakteristik laut yang sangat berbahaya.

Baca Juga: Danyang Gunung Sewu Masih Ada: Tapi Bukan Seperti yang Kamu Bayangkan

Samudera Hindia merupakan salah satu samudera dengan energi gelombang terbesar di dunia.

Arus bawah laut yang kuat, gelombang tinggi, dan fenomena rip current mampu menyeret orang ke tengah laut dalam hitungan detik.

Banyak wisatawan yang tidak memahami bahaya ini kemudian menganggap korban kecelakaan laut sebagai "korban panggilan" Nyi Roro Kidul.

Padahal penjelasan ilmiahnya jauh lebih sederhana dan dapat dibuktikan.

Antara Menghormati Budaya dan Berpikir Kritis

Mitos Nyi Roro Kidul merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang sangat kaya.

Kisah tersebut telah melahirkan karya sastra, seni tari, musik tradisional, hingga berbagai tradisi budaya yang masih lestari hingga sekarang.

Sebagai warisan budaya, tentu legenda tersebut layak dihormati.

Namun menghormati budaya tidak berarti harus menerima semua cerita sebagai fakta sejarah atau fakta ilmiah.

Justru dengan memahami konteks sejarahnya, kita dapat melihat bagaimana masyarakat masa lalu membangun simbol-simbol yang membantu mereka menjelaskan dunia, memperkuat identitas, dan menjaga stabilitas sosial.

Pada akhirnya, Nyi Roro Kidul mungkin bukan sekadar kisah tentang penguasa laut selatan. Ia juga merupakan cermin bagaimana politik, sejarah, budaya, keselamatan masyarakat, dan imajinasi manusia saling bertemu membentuk sebuah legenda yang mampu bertahan selama ratusan tahun.

Dan mungkin pelajaran terpenting dari legenda ini bukanlah tentang keberadaan sosok gaib di lautan, melainkan tentang pentingnya membedakan antara warisan budaya yang patut dihargai dan fakta yang perlu dipahami secara rasional.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar