Menelusuri Sejarah Mudik Lebaran di Indonesia, Dari Tradisi Desa hingga Ritual Sosial Nasional

Opini | 17 Mar 2026 | 05:30 WIB
Menelusuri Sejarah Mudik Lebaran di Indonesia, Dari Tradisi Desa hingga Ritual Sosial Nasional
Mudik lebaran di Indonesia dari masa ke masa (Ilustrasi Any)

Uwrite.id - Tradisi mudik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Setiap tahun menjelang Lebaran, jutaan masyarakat meninggalkan kota-kota besar untuk kembali ke kampung halaman. Fenomena ini bahkan disebut sebagai salah satu mobilitas manusia terbesar di dunia. Namun di balik kemeriahan perjalanan pulang kampung tersebut, mudik sebenarnya memiliki akar sejarah panjang yang berkaitan erat dengan budaya dan perubahan sosial masyarakat Indonesia.
Sejumlah sejarawan menilai tradisi pulang kampung telah ada jauh sebelum kedatangan Islam di Nusantara. Dalam masyarakat agraris Jawa, masyarakat memiliki kebiasaan kembali ke desa asal untuk menghadiri berbagai upacara adat atau perayaan panen. Ikatan kekerabatan dan hubungan dengan tanah kelahiran menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat saat itu.
Ketika Islam berkembang di Jawa pada masa kerajaan seperti Kesultanan Demak dan Kesultanan Mataram, tradisi kembali ke kampung halaman kemudian beririsan dengan momentum hari raya keagamaan. Perayaan Lebaran menjadi waktu yang tepat bagi masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga sekaligus mempererat silaturahmi.
Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, menilai mudik mencerminkan kuatnya budaya kekeluargaan di Indonesia. Menurutnya, meskipun masyarakat telah mengalami modernisasi dan urbanisasi, hubungan emosional dengan kampung halaman tetap menjadi bagian penting dari identitas sosial.
“Bagi masyarakat Indonesia, kampung halaman bukan sekadar tempat lahir, tetapi juga simbol identitas dan ikatan sosial keluarga,” ujarnya dalam sejumlah kajian sosiologi masyarakat Indonesia.
Tradisi mudik semakin terlihat jelas pada masa kolonial Belanda ketika banyak penduduk desa bekerja di kota-kota pelabuhan dan pusat ekonomi seperti Batavia dan Surabaya. Mereka bekerja sebagai buruh pelabuhan, pedagang, hingga pekerja rumah tangga.
Ketika hari raya tiba, para perantau tersebut pulang ke desa untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang terus berlanjut hingga sekarang.
Istilah “mudik” sendiri diyakini berasal dari bahasa Jawa “mulih dilik” yang berarti pulang sebentar. Ada pula yang mengaitkannya dengan kata “udik” yang berarti daerah hulu atau kampung. Dalam konteks sosial, mudik kemudian dimaknai sebagai perjalanan kembali ke tempat asal untuk bertemu keluarga.
Fenomena mudik dalam skala besar mulai tampak pada era 1970-an. Saat itu arus urbanisasi meningkat pesat seiring pertumbuhan industri di kota-kota besar, terutama di Jakarta. Banyak masyarakat dari daerah datang ke kota untuk bekerja.
Ketika Lebaran tiba, mereka kembali ke kampung halaman dalam jumlah besar. Pemerintah kemudian mulai mengenal istilah “arus mudik” untuk menggambarkan pergerakan massal tersebut. Sejak saat itu pula, berbagai kebijakan transportasi dan pengaturan lalu lintas mulai diterapkan untuk mengantisipasi lonjakan pemudik setiap tahun.
Pengamat budaya dari Universitas Indonesia, Ariel Heryanto, menyebut mudik sebagai fenomena sosial yang unik di Indonesia. Menurutnya, tradisi ini memperlihatkan bagaimana modernitas tidak sepenuhnya memutus hubungan masyarakat dengan akar budaya dan komunitas asalnya.
“Tradisi mudik menunjukkan bahwa di tengah kehidupan kota yang modern, masyarakat Indonesia masih menjaga nilai kekeluargaan dan hubungan dengan kampung halaman,” katanya.
Kini, mudik tidak hanya menjadi perjalanan pulang kampung, tetapi juga ritual sosial tahunan yang sarat makna. Selain bertemu keluarga, masyarakat biasanya memanfaatkan momen Lebaran untuk berziarah ke makam orang tua, mengunjungi kerabat, serta mengikuti tradisi halal bihalal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa mudik bukan sekadar mobilitas perjalanan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia yang terus bertahan dari generasi ke generasi. (Any)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar