Menelusuri Jejak Geologi Gunungkidul, Fam Trip Geosite Kenalkan Wisata Alam, Budaya, dan UMKM Lokal

Uwrite.id - Gunungkidul – Potensi wisata berbasis geologi di Kabupaten Gunungkidul terus diperkenalkan sebagai daya tarik unggulan Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui kegiatan Fam Trip Geosite yang digelar pada 14–15 April 2026, Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga Gunungkidul menggandeng sejumlah desa wisata untuk memperluas promosi destinasi minat khusus kepada publik.
Kegiatan ini melibatkan influencer, jurnalis, mahasiswa asing yang sedang berada di Yogyakarta, serta Dimas Diajeng dari berbagai wilayah di DIY. Selama dua hari, para peserta diajak menjelajahi sejumlah kawasan wisata alam yang terbentuk dari proses geologi masa lampau, mulai dari gunung api purba hingga bentang karst dan sungai bawah tanah.
Kepala Bidang Pemasaran dan Kerja Sama Pariwisata, Supriyanto, S.Sos., M.M., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkenalkan kekayaan wisata geosite Gunungkidul kepada masyarakat luas.
“Harapannya para peserta dapat menjadi agen promosi yang menyampaikan pengalaman mereka kepada publik sehingga kunjungan wisata ke kawasan geosite di Gunungkidul terus meningkat,” ujarnya.
Perjalanan hari pertama dimulai dari kawasan Desa Wisata Nglanggeran. Peserta diajak menuju Gunung Api Purba Nglanggeran, salah satu ikon wisata alam Gunungkidul yang diperkirakan terbentuk sekitar 60–70 juta tahun lalu.
Dari terminal wisata, rombongan menggunakan kendaraan shuttle khas warga setempat yang populer dengan sebutan “Pajero”, singkatan dari panas njobo njero. Kendaraan bak terbuka tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi peserta sebelum memulai pendakian.

Jalur menanjak menuju pos pertama ditempuh sekitar satu jam. Meski cukup menguras tenaga, pemandangan dari kawasan perbukitan menjadi daya tarik yang membuat perjalanan terasa berkesan.
Salah satu peserta, Nadia, jurnalis asal Yogyakarta, mengaku pengalaman mendaki gunung api purba menjadi momen yang paling berkesan.
“Pemandangannya sangat indah, apalagi saat sampai di titik atas. Ini bukan sekadar wisata, tetapi juga pengalaman belajar tentang sejarah alam Gunungkidul,” katanya.
Setelah turun dari kawasan gunung, rombongan melanjutkan kunjungan ke Griya Coklat Nglanggeran. Di tempat ini, peserta diperkenalkan pada berbagai produk olahan kakao hasil budidaya masyarakat setempat, mulai dari cokelat batangan hingga aneka kudapan.

Menjelang sore, kegiatan berlanjut ke Embung Nglanggeran untuk menikmati panorama matahari terbenam. Embung yang berada di atas kawasan perbukitan ini awalnya dibangun sebagai penampung air hujan untuk kebutuhan pertanian dan perkebunan warga saat musim kemarau.
Malam harinya, para peserta menginap di homestay milik warga desa. Pengalaman tinggal bersama masyarakat lokal menjadi salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tersebut.
“Suasananya hangat sekali. Kami disambut dengan makanan rumahan dan keramahan keluarga pemilik homestay. Rasanya seperti pulang kampung,” ujar Louis, mahasiswa asal Prancis yang turut mengikuti kegiatan.
Pada hari kedua, rombongan menuju objek wisata Kalisuci di kawasan Semanu. Di lokasi ini, peserta merasakan pengalaman cave tubing menyusuri aliran sungai bawah tanah yang berada di dalam sistem gua karst.
Kalisuci dikenal sebagai salah satu pelopor wisata susur gua di Indonesia. Dengan air yang jernih dan bentang gua alami yang eksotis, lokasi ini menawarkan sensasi berbeda bagi wisatawan.
Sebelum memulai aktivitas, peserta dibekali perlengkapan keselamatan lengkap, termasuk pelampung dan helm, serta pendampingan petugas di beberapa titik aliran.
Salah satu mahasiswa asal Amerika Serikat, mengaku baru pertama kali merasakan pengalaman menyusuri sungai bawah tanah.
“Ini sangat luar biasa. Saya belum pernah masuk ke dalam gua dengan sungai seperti ini sebelumnya. Sangat menantang sekaligus indah,” ujarnya.

Setelah dari Kalisuci, perjalanan dilanjutkan ke Desa Wisata Tepus. Menggunakan jeep off-road, peserta diajak menyusuri perbukitan dan lanskap batuan khas Gunungkidul.
Di Padukuhan Blekonang, rombongan melihat langsung sentra kerajinan perak yang menjadi salah satu produk unggulan UMKM setempat. Para pengrajin menunjukkan proses pembuatan perhiasan dan suvenir secara langsung.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan makan siang di Pantai Sundak sebelum ditutup dengan kunjungan ke Pantai Sepanjang.

Garis pantai yang luas dengan pasir putih dan panorama laut selatan menjadi penutup yang sempurna bagi rangkaian perjalanan dua hari tersebut.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap destinasi wisata berbasis geologi, budaya, dan ekonomi kreatif lokal semakin dikenal sebagai potensi unggulan yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. (Any)

Tulis Komentar