Menanti Senja di Atas Kota, Sensasi Iftar “Sahara in the Sky” Hadirkan Nuansa Timur Tengah di Jantung Malioboro

Uwrite.id - Yogyakarta — Menjelang waktu berbuka puasa, langit Yogyakarta perlahan berubah jingga. Dari ketinggian rooftop sebuah hotel di kawasan Malioboro, siluet Gunung Merapi tampak samar di kejauhan. Di tempat inilah, pengalaman berbuka puasa tak sekadar soal makanan, tetapi juga suasana dan perspektif baru menikmati kota.
Fenomena hotel menghadirkan paket iftar Ramadan memang bukan hal baru di Yogyakarta. Namun, The Malioboro Hotel and Conference Yogyakarta mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda melalui konsep bertajuk Sahara in the Sky, sebuah pengalaman berbuka puasa yang memadukan kuliner Timur Tengah dan Nusantara di area rooftop dengan harga Rp 148.000 per orang untuk konsep buffet all you can eat.
Hotel berbintang empat yang berlokasi di Jalan Gandekan Lor, tak jauh dari kawasan ikonik Malioboro, memanfaatkan ruang terbukanya untuk menawarkan pengalaman berbuka dengan latar panorama kota.
Marketing Communication The Malioboro Hotel Yogyakarta, Yolanda Aditya Ismi Sa’adah, mengatakan konsep tersebut terinspirasi dari suasana khas Ramadan di kawasan Timur Tengah, dipadukan dengan keunggulan lokasi rooftop hotel.
“Sahara itu identik dengan nuansa Ramadan Timur Tengah, sedangkan ‘in the sky’ karena venue kami berada di rooftop Malioboro Sky. Kami ingin memperkenalkan bahwa di tengah kota Jogja, ada tempat berbuka dengan pemandangan yang istimewa,” kata Yolanda saat dihubungi, baru-baru ini.
Menurutnya, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati hidangan, tetapi juga atmosfer.
“Selain outdoor, kami juga menyediakan area semi-outdoor dan indoor, jadi tetap nyaman digunakan meskipun cuaca berubah,” ujarnya.
Beragam hidangan tersaji di meja buffet, mulai dari Baklava yang manis legit, Shish Kebab, Chicken Shawarma Wrap, hingga Lamb Mandi dengan nasi berbumbu rempah khas Timur Tengah. Menu Nusantara seperti nasi kebuli, martabak mini daging, dan berbagai hidangan pembuka juga tersedia.

Aroma rempah yang khas berpadu dengan angin sore menciptakan pengalaman sensorik yang berbeda dibandingkan berbuka puasa di ruang tertutup.
Salah satu pengunjung, Rahmawati (34), warga Sleman, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk mencoba pengalaman berbuka di rooftop tersebut.
“Awalnya tertarik karena lihat fotonya di media sosial, rooftop-nya bagus. Tapi setelah datang, ternyata memang suasananya berbeda. Kita bisa lihat kota Jogja dari atas, itu yang paling berkesan,” kata Rahmawati.
Ia menilai pengalaman berbuka puasa menjadi lebih istimewa karena suasana.
“Biasanya buka puasa itu ya di restoran atau rumah. Di sini ada suasana baru, apalagi pas azan magrib sambil lihat langit berubah warna,” ujarnya.

Pengunjung lain, Dimas Prasetyo (29), wisatawan asal Jakarta, mengatakan konsep rooftop memberikan kesan eksklusif namun tetap santai.
“Menurut saya ini unik, karena Jogja biasanya identik dengan tempat yang tradisional. Tapi di sini kita bisa dapat suasana modern dengan view yang bagus,” katanya.
Ia mengaku paling menyukai variasi menu Timur Tengah yang jarang ditemui di tempat lain.
“Lamb mandi-nya enak, rempahnya terasa tapi tidak terlalu kuat. Shawarma-nya juga autentik,” ujarnya.
Fenomena menjamurnya paket iftar di hotel-hotel Yogyakarta menunjukkan perubahan gaya masyarakat dalam menikmati momen berbuka puasa. Buka puasa kini tidak lagi semata ritual makan setelah seharian berpuasa, tetapi juga menjadi bagian dari pengalaman sosial dan rekreasi.
Rooftop, pemandangan kota, hingga konsep tematik menjadi nilai tambah yang dicari pengunjung.
Di tengah kompetisi tersebut, pengalaman berbuka dengan latar langit senja dan panorama Merapi menjadi daya tarik tersendiri.
Saat azan magrib berkumandang, para pengunjung pun membatalkan puasa mereka. Di atas kota yang mulai dipenuhi cahaya lampu, momen berbuka terasa bukan sekadar rutinitas, melainkan pengalaman yang meninggalkan kesan. (Any)

Tulis Komentar