Membumikan Sains Keanekaragaman Hayati Menjadi Solusi Keseharian Masyarakat

Uwrite.id - Oleh: Mohammad Wildan Habibi, M.Pd., Dosen Tadris IPA Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Sisi Kelam di Balik Megabiodiversitas Indonesia
Indonesia secara global diakui sebagai salah satu pusat megabiodiversity terbesar di dunia (Campbell et al., 2022). Naskah-naskah ilmiah, kurikulum perguruan tinggi, hingga dokumen kebijakan lingkungan kerap membanggakan kekayaan jutaan spesies flora dan fauna yang menghiasi daratan dan lautan nusantara. Namun, jika kita sejenak mengalihkan pandangan dari buku teks ke lingkungan di luar jendela rumah kita, realitas ekologis yang tampak di tingkat lokal sering kali menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan.
Pernahkah kita menyadari mengapa dalam beberapa tahun terakhir iklim mikro di pemukiman kita terasa jauh lebih panas dan gersang? Mengapa keberadaan serangga penyerbuk alami seperti lebah dan kupu-kupu makin jarang terlihat di pekarangan? Mengapa sumur warga makin cepat mengering saat kemarau tiba, atau mengapa serangan hama pertanian di tingkat lokal makin sulit dikendalikan tanpa pestisida kimia berlebih?
Semua persoalan tersebut bukanlah kebetulan belaka, melainkan bentuk manifestasi krisis keanekaragaman hayati yang telah merembet langsung ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Menurut Groom et al. (2023), fragmentasi habitat dan degradasi lingkungan hidup lokal sering kali berakar dari aktivitas manusia yang tidak terevaluasi secara berkelanjutan. Laju pembangunan yang cepat di tingkat tapak kerap dibayar mahal dengan alih fungsi lahan produktif, pembukaan kawasan hijau untuk beton, hingga pencemaran lingkungan akibat limbah domestik. Kerusakan ini tidak hanya terjadi di hutan lindung yang jauh, melainkan tepat di pekarangan rumah, pemukiman, dan kawasan ekosistem sekitar kita.
Gap Epistemologis: Antara Sains Kampus dan Realitas Warga
Sebagai bagian dari akademisi perguruan tinggi, penting untuk melakukan evaluasi kritis terhadap praksis pendidikan sains selama ini. Pembelajaran keanekaragaman makhluk hidup, taksonomi, dan ekologi sering kali terjebak dalam paradigma formalisme akademis yang kaku. Konsep sistematika hayati sering kali berhenti sebagai tumpukan terminologi latin, skema klasifikasi abstrak, atau sekadar pengamatan mikroskopis di laboratorium yang terisolasi dari realitas sosial-ekologis.
Dampaknya, timbul gap epistemologis di mana masyarakat memandang sains keanekaragaman hayati sebagai disiplin yang elit, teoretis, dan kurang memiliki relevansi langsung dengan kesejahteraan hidup mereka. Ketidakpahaman atas konsep dasar ekologi dan taksonomi ini kemudian memicu berbagai tindakan degradatif di lingkungan masyarakat tanpa disadari:
- Destruksi Area Resapan & Peneduh Lokal: Pembabatan vegetasi lokal demi alasan kepraktisan tanpa mempertimbangkan peran ekologis akar tumbuhan dalam menjaga neraca air tanah dan menekan efek pulau panas (urban heat island).
- Penggunaan Pestisida Kimia Non-Selektif: Aplikasi bahan kimia secara masif yang tidak hanya membasmi organisme sasaran, tetapi juga memusnahkan serangga penyerbuk (pollinators) dan biota tanah yang vital bagi kesuburan lahan (Willmer et al., 2021).
- Erosi Keragaman Tumbuhan Lokal bernilai Medis: Ignoransi terhadap taksonomi tumbuhan lokal mengakibatkan berbagai spesies tumbuhan obat keluarga (TOGA) dianggap sebagai gulma (weed) dan dibasmi menggunakan herbisida sintetis.
- Ancaman terhadap Biota Perairan & Pesisir: Kurangnya pemahaman atas taksonomi dan siklus hidup hewan air mengakibatkan eksploitasi berlebih serta penggunaan metode penangkapan yang merusak ekosistem sungai dan laut (Wahidah & Habibi, 2023).
Kerangka Kerja Pemecahan Masalah (Problem Solving Framework)
Untuk meruntuhkan barikade akademik tersebut, kurikulum perguruan tinggi—khususnya pada Mata Kuliah Keanekaragaman Makhluk Hidup—harus ditarik keluar menuju ruang publik melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis riset (Research-Based Learning) dan capaian pembelajaran (Outcome-Based Education/OBE).
Integrasi antara pembelajaran di kampus dan pengabdian masyarakat diwujudkan melalui empat pilar aksi terintegrasi:
Pilar Pertama, Konservasi Micro-Habitat dan Inventarisasi Tumbuhan Lokal
Langkah pemecahan masalah dimulai dari unit ekosistem terkecil, yaitu pekarangan rumah tangga dan kawasan sekitar pemukiman. Melalui pendekatan taksonomi praktis, masyarakat didampingi untuk melakukan inventarisasi dan pembudidayaan kelompok tumbuhan (Spermatophyta).
Sebagaimana ditunjukkan dalam studi inventarisasi Spermatophyta oleh Habibi & Damayanti (2021), pendokumentasian jenis-jenis tumbuhan lokal tidak hanya penting untuk basis data keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk mengidentifikasi spesies yang memiliki fungsi ekologis peneduh, penyerap polutan, dan pemulih kesuburan tanah. Penanaman kembali tumbuhan obat tradisional (TOGA) dan tanaman pakan penyerbuk menciptakan micro-habitat yang mendukung keberlanjutan ekosistem pemukiman.
Pilar Kedua, Literasi Taksonomi Digital dan Analisis Filogeni
Perkembangan teknologi taksonomi modern saat ini memungkinkan literasi sains disampaikan secara interaktif kepada masyarakat luas. Penggunaan aplikasi identifikasi berbasis Artificial Intelligence seperti Pl@ntNet serta perangkat lunak bioinformatika/filogeni seperti MEGA XI dapat ditransformasikan dari alat riset laboratorium menjadi instrumen edukasi komunitas:
- Citizen Science (Sains Warga): Warga dapat secara mandiri melakukan identifikasi spesimen tumbuhan di sekitar mereka menggunakan ponsel pintar, sehingga meningkatkan literasi botani dan kesadaran perlindungan spesies terancam punah.
- Pengelolaan Ekosistem Pesisir & Perairan: Dalam konteks wilayah pesisir dan perairan, pemahaman taksonomi zoologi (Animalia) membantu kelompok nelayan atau pembudidaya lokal memahami struktur kekerabatan dan ekologi spesies, sebagaimana konteks pemanfaatan ikan hias dan biota laut di Selat Bali (Wahidah & Habibi, 2023).
Pilar Ketiga, Edukasi Berbasis Proyek (Project-Based Learning) untuk Generasi Muda
Pendidikan lingkungan berbasis aksi (action-oriented environmental education) diterapkan dengan melibatkan mahasiswa dan pemuda setempat melalui Project-Based Learning (PjBL).
- Pemuda diajak melakukan studi lapangan (field study) untuk memetakan dampak nyata alih fungsi lahan dan deforestasi mikro di wilayahnya.
- Hasil analisis lapangan diolah menjadi media edukasi publik yang aplikatif, seperti penyusunan Lembar Kerja Peserta Didik Elektronik (E-LKPD) berbasis kearifan lokal, infografis taksonomi populer, dan rekomendasi pengelolaan lingkungan desa.
Pilar Keempat, Integrasi Nilai Keislaman dan Kearifan Lokal (Islamic & Local Wisdom Correlation)
Konservasi yang berkelanjutan memerlukan landasan etis dan kultural yang kuat (Primack & Sher, 2020). Dalam kerangka pendidikan Islam (Islamic Correlation Product), edukasi keanekaragaman hayati diintegrasikan dengan doktrin Fiqh Al-Bi'ah (Eko-Teologi Islam).
Keanekaragaman makhluk hidup dipandang sebagai tanda-tanda kebesaran Pencipta (ayat kauniyah), di mana manusia mengemban amanah sebagai khalifah yang dilarang melakukan perusakan lingkungan (fasad). Pendekatan spiritual ini dipadukan dengan kearifan lokal dalam menjaga mata air, tutupan pohon peneduh, dan kelestarian sungai, sehingga memunculkan kesadaran etis internal pada diri masyarakat.
Analisis Komparatif: Dampak Aksi Kontekstual Berbasis Sains
Penerapan program pengabdian masyarakat yang berbasis pada kerangka ilmiah ini memberikan transformasi nyata terhadap pengelolaan lingkungan hidup di tingkat lokal:
| Indikator Ekologis & Sosial | Kondisi Sebelum Intervention (Pra-Edukasi) | Kondisi Setelah Applied Science (Pasca-Aksi) | Rujukan Ilmiah / Kerangka Teori |
|---|---|---|---|
| Literasi Botanis & Kesehatan | Tumbuhan obat dianggap sebagai gulma liar; tingginya ketergantungan pada zat sintetis. | Terbangunnya taman TOGA berbasis inventarisasi Spermatophyta; peningkatan efisiensi kesehatan mandiri. | Habibi & Damayanti (2021) |
| Resiliensi Ekosistem Lokal | Konversi lahan terbuka menjadi area tertutup semen; hilangnya keanekaragaman penyerbuk. | Peningkatan tutupan vegetasi mikro; pulihnya populasi polinator dan produktivitas tanaman pekarangan. | Willmer et al. (2021); Groom et al. (2023) |
| Literasi Digital Komunitas | Penggunaan smartphone terbatas pada media sosial konvensional. | Pemanfaatan aplikasi Pl@ntNet dan pemetaan biodiversitas desa berbasis citizen science. | Campbell et al. (2022) |
| Pengelolaan Biota Pesisir/Perairan | Praktek eksplorasi biota laut/sungai yang tidak ramah lingkungan. | Penerapan prinsip konservasi fauna air berbasis pemahaman taksonomi dan ekologi lokal. | Wahidah & Habibi (2023) |
| Kesadaran Etis-Spiritual | Lingkungan dipandang semata sebagai komoditas ekonomi tanpa batasan etis. | Tumbuhnya perilaku berkesadaran lingkungan berbasis eko-teologi Islam dan kearifan lokal. | Primack & Sher (2020) |
Kesimpulan dan Rekomendasi Kebijakan Lokal
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar wacana global yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan masalah riil yang berdampak langsung pada kualitas air, udara, kesehatan, dan ketahanan pangan masyarakat di tingkat lokal.
Perguruan tinggi, melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berbasis riset, memiliki tanggung jawab strategis untuk mendemokratisasi ilmu pengetahuan. Dengan mentransformasikan materi pengajaran taksonomi, sistematika, dan ekologi menjadi aksi nyata—mulai dari inventarisasi tumbuhan lokal, literasi digital berbasis aplikasi, hingga penguatan etika lingkungan berbasis nilai keislaman—masyarakat dituntun untuk menjadi agen perubahan bagi lingkungannya sendiri.
Menjaga kelestarian keanekaragaman hayati lokal tidak selalu memerlukan proyek berskala besar. Langkah tersebut dapat dimulai dari keputusan kecil di pekarangan rumah kita: mempertahankan pohon peneduh lokal, menanam tumbuhan obat, menyisakan ruang bagi serangga penyerbuk, dan menghentikan pencemaran air lingkungan. Integrasi antara sains akademik dan aksi komunitas adalah kunci utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.(*)

Tulis Komentar