Manfaat Biodiesel B50: Tarikan Mesin Ringan & Stok Terjamin

Peristiwa | 10 Jul 2026 | 14:55 WIB
Manfaat Biodiesel B50: Tarikan Mesin Ringan & Stok Terjamin
Rohman, seorang pengemudi truk yang telah merasakan manfaat penggunaan B50 solar biodiesel untuk kehandalan pemanfaatan kendaraan truknya.

Uwrite.id - Jakarta - Program Biodiesel B50 yang diluncurkan Presiden RI Prabowo Subianto mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan. 

Salah satu yang merasakan langsung adalah para sopir truk yang setiap hari bergantung pada bahan bakar untuk menghidupi keluarga.

Rohman (47), seorang sopir truk, menjadi saksi awal manfaat program tersebut. 

Ia mengisi B50 di SPBU KM 57, Karawang, dan mengaku ada perbedaan yang ia rasakan dibandingkan dengan solar biasa.

Menurut Rohman, kualitas B50 lebih baik. Tarikan mesin terasa lebih ringan dan pembakaran lebih stabil. 

Hal itu membuatnya lebih percaya diri menempuh perjalanan jauh dengan muatan berat.

Kebanggaan juga muncul dari sisi nasionalisme. Rohman mengaku bangga karena Indonesia kini mampu memproduksi bahan bakar sendiri dengan bahan baku kelapa sawit. 

Bagi dia, ini bukti bahwa sumber daya dalam negeri bisa diandalkan.

"Senang rasanya pakai produk sendiri. Sawit kita kan banyak, masa harus impor terus," kata Rohman saat ditemui di area SPBU.

Selain soal kualitas, ketersediaan juga menjadi catatan penting. 

Rohman menyebut kehadiran B50 membuat para sopir lebih mudah mendapatkan solar. Antrean tidak sepanjang dulu dan stok di SPBU lebih terjaga.

Kemudahan akses bahan bakar ini sangat membantu aktivitas sehari-hari para sopir. 

Waktu tempuh bisa lebih efisien karena tidak perlu muter mencari SPBU yang masih punya stok.

B50 sendiri merupakan campuran 50 persen bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit dengan 50 persen solar. Komposisi ini lebih tinggi dari program sebelumnya, dan ditargetkan menekan ketergantungan impor.

Pemerintah menilai program ini punya tiga keuntungan sekaligus. 

Pertama, menghemat devisa karena impor solar bisa dikurangi. Kedua, menyerap hasil sawit petani sehingga harga TBS lebih stabil. Ketiga, menekan emisi karena BBN lebih ramah lingkungan.

Bagi sektor logistik, penggunaan B50 juga diharapkan menekan biaya operasional dalam jangka panjang. Mesin yang lebih bersih dan perawatan yang lebih ringan bisa menjadi penghematan tambahan bagi pemilik armada.

Para pengusaha truk menyambut baik uji coba ini. 

Mereka berharap distribusi B50 bisa merata ke seluruh wilayah, tidak hanya di jalur pantura dan tol Trans Jawa.

Tantangan ke depan adalah memastikan kualitas B50 konsisten di setiap SPBU. Standarisasi dan pengawasan perlu diperketat agar tidak ada perbedaan kualitas yang membuat sopir ragu.

Dari sisi petani sawit, program ini memberi harapan baru. Dengan adanya serapan untuk B50, permintaan dalam negeri meningkat dan tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor. Kementerian terkait juga menyiapkan sosialisasi lebih luas agar masyarakat, terutama pengguna kendaraan diesel, memahami manfaat dan cara penggunaan B50 yang tepat.

Rohman berharap program ini terus berlanjut dan dikembangkan. Baginya, setiap kebijakan yang membuat hidup sopir lebih mudah dan negara lebih mandiri patut didukung. Peluncuran B50 menjadi langkah konkret menuju kemandirian energi. 

Dan dari pengakuan Rohman di SPBU KM 57, manfaatnya sudah mulai terasa langsung oleh orang-orang yang bekerja di jalan setiap hari. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar