Libur Akhir Tahun: Tren Pendakian Triple Summit di Jawa Tengah

Uwrite.id - Surakarta - Masa liburan akhir tahun dalam 6 bulan ke depan akan tiba, dan gairah masyarakat untuk berwisata alam kembali meningkat. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, destinasi pegunungan kini menjadi pilihan utama keluarga dan komunitas pendaki di berbagai daerah, termasuk Jawa Tengah.
Data dari sejumlah basecamp di lereng Gunung Lawu, Merbabu, dan Sindoro mencatat lonjakan pemesanan kuota pendakian hingga 40 persen dibanding bulan biasa. Tren ini dipicu oleh cuaca yang mulai bersahabat dan jadwal libur sekolah yang panjang.
Salah satu rute yang paling diburu adalah konsep "Triple Summit". Istilah ini merujuk pada pendakian tiga puncak dalam satu jalur atau satu rangkaian perjalanan selama masa liburan. Aktivitas ini menarik minat pendaki pemula hingga menengah.
Contoh paling populer di wilayah Jawa Tengah adalah kombinasi Gunung Merbabu, Merapi, dan Sumbing. Paket tiga hari dua malam itu menawarkan pengalaman berbeda di setiap gunung, mulai dari sabana luas, jalur lava, hingga sunrise di atas awan.
Ketua Komunitas Pendaki Sukoharjo, Riko Adi, menyebut Triple Summit diminati karena efisien dari segi waktu. "Libur terbatas, tapi pengalaman maksimal. Sekali cuti bisa dapat tiga gunung berbeda dengan karakter unik," ujarnya saat ditemui di basecamp Cunthel.
Selain efisiensi, faktor media sosial juga berperan besar. Banyak pendaki memburu konten video dan foto di tiga titik puncak berbeda untuk diunggah selama musim liburan. Hashtag #TripleSummit kini ramai digunakan di platform digital.
Pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu mencatat antrean pendaki mulai padat sejak pekan pertama Desember 2025. Kuota harian 200 orang di jalur Selo dan Wekas kerap habis dipesan H-7 sebelum tanggal pendakian.
Tren ini juga berdampak pada ekonomi warga sekitar. Homestay, jasa ojek basecamp, penyewaan alat, dan warung makan mengalami peningkatan omzet signifikan. Banyak UMKM baru bermunculan untuk melayani kebutuhan pendaki.
Namun, peningkatan peminat membawa tantangan tersendiri. Petugas Balai Taman Nasional mengingatkan pentingnya menjaga kapasitas daya dukung gunung. Sampah dan kerusakan jalur menjadi sorotan utama setiap musim liburan.
Untuk itu, sejumlah basecamp kini mewajibkan briefing konservasi sebelum naik. Pendaki diminta membawa turun sampahnya sendiri dan mengikuti aturan jam malam di area camp. Sanksi berupa blacklist berlaku bagi pelanggar.
Dari sisi keselamatan, BMKG Stasiun Meteorologi Jawa Tengah mengimbau pendaki memantau prakiraan cuaca secara berkala. Meski musim hujan belum puncak, potensi kabut tebal dan angin kencang di atas 2.500 mdpl masih sering terjadi sore hari.
Tim SAR Gunung Lawu juga meningkatkan siaga personel selama periode liburan. Posko tambahan dibuka di Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang untuk mempercepat respon jika terjadi insiden pendakian.
Bagi pemula yang ingin mencoba Triple Summit, para guide menyarankan persiapan fisik minimal dua minggu sebelumnya. Cardio, latihan beban kaki, dan simulasi carrier 10 kilogram dinilai cukup membantu mengurangi risiko cedera.
Perlengkapan standar juga tidak boleh diabaikan. Headlamp cadangan, jas hujan, sleeping bag dengan rating dingin, dan logistik kalori tinggi menjadi daftar wajib yang dicek petugas saat registrasi.
Pemerintah daerah setempat melihat tren ini sebagai peluang wisata berkelanjutan. Dinas Pariwisata Sukoharjo dan sekitarnya mulai menyiapkan paket edukasi geologi dan budaya lereng gunung agar pendakian tidak hanya soal mendaki, tetapi juga belajar.
Dengan manajemen yang baik dan kesadaran pendaki, liburan di pegunungan diharapkan menjadi pengalaman yang aman dan berkesan. Triple Summit mungkin hanya tren musiman, tetapi kecintaan pada alam diharapkan terus tumbuh setelah liburan berakhir. (*)

Tulis Komentar