Larang Penggunaan Atribut, NU-Muhammadiyah Tegaskan Tak Terlibat Dukung Capres-Cawapres

Politik | 23 Oct 2023 | 13:36 WIB
Larang Penggunaan Atribut, NU-Muhammadiyah Tegaskan Tak Terlibat Dukung Capres-Cawapres
Ilustrasi. Logo Dua Ormas Islam yang terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Uwrite.id - Dalam menghadapi Pemilihan Presiden 2024, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak akan terlibat dalam mendukung pasangan calon presiden dan calon wakil presiden tertentu. Keputusan ini diumumkan seiring dengan munculnya tiga pasangan calon yang akan berkontestasi pada Pilpres 2024.

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah, Abdul Mu'ti, menyampaikan bahwa secara kelembagaan, Muhammadiyah tidak akan terlibat dalam proses dukungan terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden. Namun, ia memberikan kebebasan bagi warga Muhammadiyah secara pribadi untuk mendukung capres tertentu. Namun penting untuk dicatat bahwa Muhammadiyah melarang penggunaan atribut organisasi saat memberikan dukungan kepada calon tertentu.

"Secara kelembagaan Muhammadiyah tidak akan terlibat dan melibatkan diri dalam proses atau kegiatan dukung-mendukung pasangan capres-cawapres tertentu," kata Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhamadiyah Abdul Mu'ti dikutip CNNIndonesia, Senin (23/10/23).

"Tapi tidak menggunakan fasilitas dan atribut Muhammadiyah untuk kegiatan dukungan pasangan capres-cawapres," lanjutnya.

Mu'ti juga mengungkapkan harapannya bahwa pemilu 2024 akan diikuti oleh empat pasangan calon, meskipun saat ini ada tiga pasangan yang telah muncul.

"Walaupun idealnya ada empat pasangan calon," kata dia

Ditempat terpisah, Ketua PBNU, Gus Fahrurrozi juga menyatakan bahwa PBNU tidak akan terlibat secara resmi dalam mendukung atau memihak kepada calon presiden dan wakil presiden mana pun. NU, sebagai ormas keagamaan, memegang prinsip netralitas dan tidak memihak pada salah satu kandidat. Gus Fahrurrozi menekankan bahwa semua calon presiden yang muncul adalah putra terbaik bangsa Indonesia, dan NU berpegang pada sikap menghormati mereka tanpa mencaci maki.

"Sampai saat ini kita belum menerima arahan dari Rais Aam tentang sikap secara khusus, namun sesuai aturan organisasi yang berlaku kita menyatakan tidak akan terlibat dalam dukung mendukung siapapun kandidat secara resmi atas nama PBNU," kata Gus Fahrur, Senin (23/10/23)

Sementara ada tokoh NU yang mungkin mendukung salah satu pasangan capres-cawapres, hal tersebut dianggap sebagai pendapat pribadi dan tidak mewakili organisasi PBNU. Gus Fahrurrozi juga menegaskan bahwa atribut NU dan fasilitas NU tidak boleh digunakan sebagai alat kampanye pemilihan presiden.

"Atribut NU dan semua fasilitas NU tidak diperbolehkan untuk menjadi alat dan tempat kampanye pilpres," kata dia.

"Kita boleh berbeda pilihan namun tetap wajib saling menghargai satu sama lainnya dan menjaga kesantunan berpolitik di ruang publik," tambahnya.

Kedua organisasi ini, baik Muhammadiyah maupun NU, menekankan pentingnya menjaga kesantunan dalam berpolitik di ruang publik dan meminta semua pihak untuk bersaing secara cerdas dan ksatria. Mereka juga meminta penyelenggara pemilu untuk bekerja secara profesional, netral, dan adil demi menjaga kelancaran dan kualitas pemilihan presiden.

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar