Laporkan Rugi Bersih 334,93 M, Kimia Farma Berencana Lakukan Penguatan Struktur Keuangan

Kesehatan | 08 Apr 2026 | 06:28 WIB
Laporkan Rugi Bersih 334,93 M, Kimia Farma Berencana Lakukan Penguatan Struktur Keuangan
Penurunan penjualan disertai berkurangnya, beban pokok penjualan sebesar 11,9% menjadi Rp6,15 triliun, dari Rp6,99 triliun pada 2024 jadi pemicu kerugian perseroan.

Uwrite.id - Jakarta – Emiten farmasi, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) membukukan rugi bersih sebesar Rp334,93 miliar pada 2025, turun 60,23% dari rugi Rp842,27 miliar pada tahun 2024. Kerugian perseroan disebabkan antara lain, oleh penjualan bersih yang merosot 7,2% menjadi Rp9,22 triliun pada 2025 dari Rp9,93 triliun pada 2024. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dipublikasi di Jakarta, kemarin.

Perseroan menyebutkan, penurunan penjualan sepanjang tahun 2025 dari produk obat ethical  yakni sebesar 16,12% menjadi Rp2,43 triliun, dari Rp2,90 triliun.  Disusul, jasa klinik, lab klinik, dan alkes dan lain-lain Rp1,47 triliun, obat over the counter (OTC), khususnya obat generik  yang turun jadi Rp1,08 triliun. Adapun produk kosmetik naik menjadi Rp1,40 triliun, dibanding  Rp1,35 triliun pada 2024.

Penurunan penjualan disertai berkurangnya, beban pokok penjualan sebesar 11,9% menjadi Rp6,15 triliun, dari Rp6,99 triliun pada 2024. Ini mendorong laba kotor Perseroan naik 3,96% menjadi  Rp3,06 triliun pada 2025 dari  Rp2,94 triliun. Di sisi lain, beban usaha KAEF turun 12,64% menjadi Rp3,31 triliun pada 2025, dari Rp3,79 triliun pada 2024. Namun, KAEF masih menderita rugi usaha sebesar Rp79,75 miliar pada 2025, turun 90% dari rugi usaha Rp810,72 miliar pada 2024.

Dari sisi neraca keuangan, KAEF memiliki total aset Rp14,18 triliun per Desember 2025, turun 4,99% dari Rp14,92 triliun per Desember 2024. Jumlah liabilitas dan ekuitas KAEF, masing-masing sebesar Rp11,44 triliun dan Rp2,73 triliun. Tahun 2026, perseroan membidik pertumbuhan kinerja high single digit. Target tersebut didukung prospek industri farmasi dan kesehatan yang masih menjanjikan.

Direktur Utama Kimia Farma, Djagad Prakasa Dwialam seperti dikutip Kontan pernah mengatakan, Kimia Farma akan memperkuat sinergi antarentitas dalam grup serta mendorong percepatan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi, daya saing, dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

KAEF, lanjutnya juga memfokuskan pengembangan bisnisnya pada layanan dan produk yang memberikan kontribusi margin lebih tinggi, memperkuat sinergi antar entitas dalam grup, serta mendorong percepatan digitalisasi guna meningkatkan efisiensi dan daya saing serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. “Perusahaan menargetkan pertumbuhan kinerja pada kisaran high single digit. Untuk mencapai target tersebut, Perseroan akan terus memperkuat fundamental perusahaan, khususnya melalui penguatan struktur keuangan,” kata Djagad.

Disampaikannya, sebagai negara dengan produk domestik bruto (PDB) terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki potensi pasar kesehatan yang besar. Di sisi lain, belanja kesehatan per kapita Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan.

Menurutnya, kondisi ini mencerminkan ruang pertumbuhan industri farmasi yang masih terbuka lebar, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, perluasan akses layanan, serta kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar