Kualitas Udara DKI Jakarta Memburuk Berbahaya Bagi Kesehatan

Kesehatan | 22 Aug 2023 | 00:31 WIB
Kualitas Udara DKI Jakarta Memburuk Berbahaya Bagi Kesehatan
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo sudah mengalami batuk sampai empat minggu alias sebulan. Sebagai seorang kepala negara Jokowi mendapatkan layanan kesehatan kelas satu.

Uwrite.id - Orang menderita sakit batuk adalah berita biasa. Tapi, kalau yang sakit batuk Presiden Jokowi pasti menjadi berita yang luar biasa. Apalagi, Presiden Jokowi sudah mengalami batuk sampai empat minggu alias sebulan.

Sebagai seorang kepala negara Jokowi mendapatkan layanan kesehatan kelas satu. Dokter-dokter terbaik dikerahkan untuk menjaga kesehatan presiden. Karena itu, ketika Jokowi sakit batuk sampai satu bulan tentu ada ‘’something wrong’’, sesuatu yang salah.

Usut punya usut ternyata sakit Jokowi itu disebabkan oleh kualitas udara yang buruk. Beberapa waktu terakhir ini kualitas udara di Jakarta memburuk karena tingkat polusi yang tinggi. Kondisi ini, ditambah dengan cuaca yang berubah-ubah, menyebabkan mudahnya penularan penyakit saluran pernafasan.

Kondisi sudah mendekati darurat. Jokowi memberikan sejumlah instruksi kepada sejumlah menterinya hingga gubernur untuk menangani polusi udara di Jakarta yang semakin mengkhawatirkan. Jokowi memimpin langsung rapat itu di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (14/08).

Indikator kualitas udara di DKI berada pada level angka 156 yang berarti masuk kategori tidak sehat. Salah satu penyebabnya adalah kemarau panjang selama tiga bulan terakhir. Hal itu diperburuk dengan pembuangan emisi dari transportasi, dan juga aktivitas industri di Jabodetabek, terutama yang menggunakan batu bara di sektor industri manufaktur.

Jokowi menginstruksikan berberapa langkah. Yang pertama jangka pendek, secepatnya harus dilakukan intervensi yang bisa meningkatkan kualitas udara di Jabodetabek lebih baik. Jokowi kemudian meminta ada rekayasa cuaca untuk memancing hujan di kawasan Jabodetabek, dan menerapkan regulasi untuk percepatan penerapan batas emisi khususnya di Jabodetabek. Jokowi juga meminta agar ruang terbuka hijau diperbanyak.

Salah satu jalan pintas yang ditempuh adalah melaksanakan WFH (Work From Home) untuk mengurangi emisi dari knalpot mobil. Langkah ini dianggap praktis, tapi oleh para pengamat lingkungan dianggap tidak substansial dan tidak akan bisa berkelanjutan.

Perubahan iklim ini juga bakal menyebabkan perubahan pola cuaca di seluruh dunia. Akibatnya akan semakin sering terjadi gelombang panas dan kekeringan dalam waktu panjang, yang akan memicu kebakaran hutan dengan area yang sangat luas.

Ketika turun hujan maka intensitasnya bisa berlangsung selama berhari-hari tanpa henti, hingga terjadi bencana banjir bandang seperti yang baru saja terjadi di Eropa dan Amerika Serikat. Banjir membawa banyak korban, dan kebakaran hutan mengancam keselamatan jiwa manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Belasan ribu literatur yang berkaitan dengan perubahan iklim menunjukkan bahwa penyebab utama kenaikan suhu adalah pembakaran bahan bakar fosil. Salah satunya industri pembangkit listrik yang mayoritas bahan bakarnya masih menggunakan batubara.

Negeri ini merupakan salah satu penghasil dan pengekspor batubara terbesar di dunia. Karena itu kita bisa tahu seberapa besar dosa kita terhadap lingkungan. Belum lagi pembakaran dan pembalakan hutan liar yang masih tetap menjadi aktivitas yang tidak bisa dihentikan, karena kurangnya tekad politik.

Bumi bisa menjadi planet yang tidak layak dihuni. Wartawan dan pemerhati lingkungan dari Amerika Serikat David Wallace-Wells menulis buku ‘’Uninhabitable Earth’’ atau Bumi yang Tak Bisa Dihuni (2020). Di dalam buku tersebut dipaparkan secara jelas, faktor-faktor yang membuat planet bumi tidak layak huni. (*)
 

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar