Kompetisi di Antara Petinggi TNI Polri: Kasus Aset Jampidsus Febrie Adriansyah

Peristiwa | 09 Jul 2026 | 18:46 WIB
Kompetisi di Antara Petinggi TNI Polri: Kasus Aset Jampidsus Febrie Adriansyah
Sebuah sumber mengungkapkan, rivalitas dua institusi ini memang sudah lama terjadi, dan makin meruncing belakangan ini.

Uwrite.id - Jakarta - Rangkaian penggeledahan polisi atas aset Jampidsus Febrie Adriansyah ternyata kental nuansa kompetisi di antara petinggi TNI dan Polri. Yang terbaru, polisi mengacak-acak aset-aset penting yang ada kaitannya dengan Febrie Adriansyah. 

Adanya pagar betis tentara di rumah terduga korupsi tentu saja memicu tanda tanya. Kapuspen TNI Brigjen TNI Muhammad Nas menjelaskan, TNI hanya melakukan pengamanan atas permintaan Kejaksaan Agung. 

“Ini tidak berkaitan dengan isu yang tengah berkembang," kata Nas, sehari setelah peristiwa pengeledahan. Menurut Nas, aparat berhak menjamin perlindungan jaksa dalam melaksanakan tugasnya, sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 66 Tahun 2025.

Temuan di Resto de Clan

Restoran de Clan dan Koin Money Changer di Jalan Cipete Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (08/07) telah digeledah. Demikian pula, 10 lokasi lain juga sudah diaduk-aduk.

Dari cafe petugas menemukan uang tunai SGD3,1 juta, USS900 ribu, dan Rp259 juta. Totalnya sekitar Rp 60 miliar. 

Sedangkan dari money changer ada uang senilai total Rp7,2 miliar dari 16 jenis mata uang. Kepala Kortastipidkor Polri Irjen Totok Suharyanto mengatakan, semua barang bukti termasuk beberapa dokumen dan dua karyawan cafe telah dibawa untuk diperiksa lebih lanjut.

Namun polisi belum menyentuh rumah Jampidsus Febrie Adriansyah. Rumah di Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tersebut dijaga sedikitnya 20 anggota TNI bersenjata lengkap. Praktis lokasi ini jadi steril, termasuk dari penyidik.

Kehebohan tak berhenti di sini. Setelah saksi-saksi dan barang bukti diangkut ke Polda Metro Jaya, esok harinya sebanyak 50 pria berambut cepak mendatangi Markas Polda Metro Jaya. Para pria berpotongan tentara ini mau mengambil saksi-saksi kunci terkait kasus ini. Tentu saja hal ini ditolak polisi. 

Dan sampai berita ini diturunkan, Mapolda Metro jaga dijaga ketat dengan sejumlah kendaraan Ratis. Petugas bahkan berjaga di depan pintu masuk dari arah kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Sementara 50 orang tadi sudah meninggalkan Mapolda Metro Jaya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan, pihak-pihak yang berusaha menghalangi penggeledahan terkait Febrie Adriansyah akan menghadapi ancaman pemidanaan. 

“Kami mengimbau kepada seluruh pihak untuk kita sama-sama menghormati proses yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Kami menyampaikan kepada siapa pun yang mencoba menghalang-halangi dalam proses penyidikan, dapat diproses berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi,” tegas Budi.

Kompetisi TNI Polri Makin Kuat

Peristiwa ini memperlihatkan aksi kontradiktif antar institusi penegak hukum, baik Kejaksaan-Polri, maupun TNI-Polri. Sebuah sumber mengungkapkan, rivalitas dua institusi ini memang sudah lama terjadi, dan makin meruncing belakangan ini. Penggeledahan aset Jampidsus ini terjadi tidak berselang lama setelah kejaksaan agung mengacak-acak Badan Gizi Nasional (BGN), yang di antara korbannya adalah Brigjen Pol Lalu Muhammad Iwan Mahardan. Yang membuat penetapan tersangka ini semakin menyakitkan adalah dilakukan saat hari ulang tahun Polri, 1 Juli.

Kejadian sebelumnya, pada Maret lalu, Kejaksaan Agung juga menetapkan beneficial owner PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan sebagai tersangka. Selain itu Kejaksaan Agung menetapkan pengusaha tambang asal Kalimantan Barat, Sudianto alias Aseng, sebagai tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola Izin Usaha Pertambangan (IUP) bauksit. Serangkaian langkah berani ini memancing reaksi balik.

Setelah aksi bersih-bersih oleh kejaksaan itu, kini polisi malah membidik Jampidsus Febrie Ardiansyah. Polisi mengeluarkan beberapa kartu langsung, yaitu kasus korupsi pasokan batu bara yang melibatkan PT PLN (Persero), PT Asabri (Persero) dan PT Krakatau Steel. Ketiga kasus tersebut secara korelatif menyebabkan blackout listrik di mana-mana.

Polisi mencium peran Febrie Adriansyah dalam korupsi tersebut, dan ada dugaan pencucian uang di dalamnya. Maka dalam beberapa waktu terakhir, Febrie terus dikuntit oleh polisi. Dalam satu kesempatan, penguntitnya berhasil ditangkap tim pengamanan Kejaksaan Agung. Si penguntit ternyata dua orang anggota Densus 88 Antiteror Polri. Selain itu dalam ponsel Febrie ditemukan malware data profiling. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar