Dari Tanah Suci, Ketum ZARKA Teuku Z. Arifin Bersama Keluarga Telusuri Jejak Perjuangan Rasulullah

Uwrite.id - MADINAH – Perjalanan ibadah umrah Ketua Umum Perkumpulan Zirah Amanat Rakyat untuk Keadilan (ZARKA), Teuku Z. Arifin, bersama keluarga ke Tanah Suci pada Oktober 2026 menghadirkan pengalaman spiritual yang sarat makna. Bersama Azkana Tour & Travel, salah satu agenda perjalanan tersebut adalah mengunjungi Masjid Quba di Madinah, Arab Saudi, masjid bersejarah yang menjadi saksi perjuangan hijrah Rasulullah SAW, kekasih Allah SWT, dalam menegakkan ajaran Islam.
Di tengah kemegahan arsitektur Masjid Quba yang didominasi warna putih dengan menara-menara menjulang, Arifin mengabadikan momen kunjungannya. Di balik keindahan masjid tersebut, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan iman Rasulullah SAW beserta para sahabat yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Islam.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa sebelum Rasulullah SAW memasuki pusat Kota Madinah, beliau terlebih dahulu singgah di perkampungan Quba, tempat berdirinya masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW setelah hijrah dari Makkah pada tahun 622 Masehi atau tahun pertama Hijriah.
Peristiwa tersebut merupakan bagian dari perjalanan hijrah yang penuh ujian. Ketika tekanan dan ancaman kaum Quraisy semakin besar, Rasulullah SAW bersama sahabat setianya, Abu Bakar Ash-Shiddiq RA, meninggalkan Makkah demi menyelamatkan dakwah Islam dan melanjutkan perjuangan membangun kehidupan umat yang berlandaskan tauhid, keadilan, serta persaudaraan.
Dalam perjalanan itu, Rasulullah SAW dan Abu Bakar sempat berlindung selama tiga malam di Gua Tsur untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy. Di tengah situasi yang mengancam keselamatan mereka, Rasulullah SAW menenangkan sahabatnya dengan kalimat yang kemudian diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah ayat 40:
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Kalimat tersebut menjadi pengingat sepanjang zaman bahwa perjuangan yang dilandasi keimanan tidak boleh kehilangan harapan, bahkan ketika manusia dihadapkan pada keadaan yang paling sulit sekalipun.
Setelah menempuh perjalanan panjang, Rasulullah SAW akhirnya tiba di Quba dan disambut kaum Muslimin yang telah menantikan kedatangan beliau. Menurut sejumlah catatan sirah nabawiyah, Rasulullah SAW tinggal selama beberapa hari di kawasan Bani Amr bin Auf sebelum melanjutkan perjalanan menuju pusat Kota Madinah.
Salah satu fakta sejarah yang jarang diangkat adalah bahwa Rasulullah SAW tidak langsung mendirikan pusat pemerintahan atau membangun kediaman besar ketika tiba di wilayah Madinah. Beliau justru mengawali langkahnya dengan membangun masjid sebagai pusat ibadah dan persatuan umat.
Bersama kaum Muhajirin dan Ansar, Rasulullah SAW turut meletakkan fondasi Masjid Quba. Bangunannya ketika itu masih sederhana, menggunakan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kawasan tersebut, jauh berbeda dengan kemegahan arsitektur yang dapat disaksikan jemaah pada masa sekarang.
Masjid Quba bukan hanya menjadi tempat mendirikan salat, melainkan juga simbol persaudaraan antara kaum Muhajirin yang meninggalkan tanah kelahiran mereka dan kaum Ansar yang menyambut serta membantu saudara-saudara seiman.

Ketum ZARKA Teuku Z. Arifin bersama keluarga di Masjid Quba, Madinah.
Keistimewaan Masjid Quba turut dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 108, yang menjelaskan tentang masjid yang didirikan atas dasar ketakwaan sejak hari pertama.
Menariknya, menurut catatan sejarah, nama Quba berasal dari nama sebuah sumur di kawasan tersebut. Masjid ini juga pernah dikenal dengan sebutan Masjid Bani Auf, merujuk pada masyarakat yang mendiami wilayah tempat Rasulullah SAW singgah.
Fakta lain yang tidak kalah istimewa adalah kebiasaan Rasulullah SAW mengunjungi kembali Masjid Quba setelah menetap di Madinah. Dalam Hadis Sahih Bukhari Nomor 1193, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mendatangi Masjid Quba setiap hari Sabtu, terkadang dengan berjalan kaki dan terkadang berkendara.
Hal tersebut memperlihatkan betapa istimewanya tempat ini dalam perjalanan hidup Rasulullah SAW. Meskipun telah menetap di Madinah, beliau tetap menjaga hubungan dengan masjid yang menjadi salah satu saksi awal perjuangan hijrah.
Keutamaan beribadah di Masjid Quba juga dijelaskan dalam Hadis Sunan Ibnu Majah Nomor 1412, bahwa siapa yang bersuci dari rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba dan menunaikan salat di dalamnya, akan memperoleh pahala seperti melaksanakan ibadah umrah.
Sepanjang sejarahnya, Masjid Quba mengalami berbagai pemugaran dan perluasan. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan RA, masjid ini mendapat pembaruan bangunan. Sementara itu, pada masa Umar bin Abdul Aziz, dilakukan pengembangan arsitektur, termasuk pembangunan menara yang menjadi bagian penting dari perkembangan masjid tersebut.
Lebih dari 1.400 tahun berlalu, Masjid Quba tetap berdiri sebagai pengingat bahwa peradaban Islam dibangun bukan semata melalui kekuatan dan kekuasaan, melainkan melalui keimanan, kesabaran, pengorbanan, serta persaudaraan yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Bagi Arifin bersama keluarga, kunjungan bersejarah ini menjadi bagian bermakna dari rangkaian ibadah umrah, sekaligus kesempatan untuk merenungkan kembali keteladanan Rasulullah SAW dalam menjaga amanah, menegakkan kebenaran, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Perjalanan spiritual bersama Azkana Tour & Travel, yang mengusung semangat “Umroh for All Generations”, turut menghadirkan kesempatan bagi jemaah untuk mengenal lebih dekat berbagai tempat bersejarah Islam di Tanah Suci. Azkana Tour merupakan penyelenggara perjalanan ibadah umrah yang memiliki izin PPIU dengan nomor 02240101228430002.
Kunjungan ke Masjid Quba sekaligus memperlihatkan bahwa ibadah umrah tidak hanya menjadi perjalanan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga kesempatan menyelami sejarah perjuangan Rasulullah SAW serta mewariskan nilai-nilai keimanan dan keteladanan kepada keluarga.
Sebab, Masjid Quba mengajarkan satu pesan yang melampaui perjalanan waktu: “Bangunan yang besar dapat berdiri di atas batu, tetapi peradaban yang agung hanya dapat tegak di atas keimanan, ketakwaan, dan pengorbanan.”
Dari tanah Madinah, perjalanan ibadah Arifin bersama keluarga menjadi bagian dari ikhtiar spiritual untuk meneladani Rasulullah SAW, sosok mulia yang membawa risalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Labbaik Allahumma Labbaik. Semoga perjalanan ibadah umrah tersebut senantiasa dilimpahi keberkahan, diterima Allah SWT sebagai amal ibadah, serta membawa pulang semangat kebaikan yang terus tumbuh dalam kehidupan keluarga, pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Tulis Komentar