Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Jayapura Telan Korban Tumbang 707 Pelajar

Kuliner | 11 Aug 2026 | 16:51 WIB
Keracunan Massal Program Makan Bergizi Gratis di Jayapura Telan Korban Tumbang 707 Pelajar
Keterangan foto: Para pelajar dari Distrik Depapre ditangani di tenda darurat di halaman RSUD Yowari, Jayapura, Selasa (04/08).

Uwrite.id - Jayapura - Kasus keracunan akibat Program Makan Bergizi Gratis atau MBG kembali terjadi. Sebelum peristiwa di Jayapura, pada awal Juli 2025 Semarang, Jawa Tengah juga mencatat korban mencapai 707 pelajar dari sejumlah sekolah yang menyantap menu MBG.

Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia atau JPPI menunjukkan jumlah korban terus bertambah. Sejak Januari 2025 hingga April 2026, setidaknya 33.626 pelajar dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG di berbagai daerah.

Bagaimana kondisi keluarga yang anaknya menjadi korban?

Di Jayapura, para pelajar yang terdampak berasal dari beberapa sekolah di Distrik Depapre. Distrik yang setara kecamatan ini terletak di sisi utara Kabupaten Jayapura, berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota. Perjalanan dengan mobil ke lokasi biasanya memakan waktu sekitar 1 jam.

Pada Selasa, 4 Agustus 2025, Dominggas, warga Depapre, melihat cucunya yang masih PAUD ikut mengambil makanan MBG. Saat itu jam sekolah sudah selesai, namun mobil pengantar MBG baru tiba.

"Anak-anak sudah pulang, MBG baru masuk. Anak-anak bawa piring, datang lagi ke sekolah," ujar Dominggas saat ditemui di RSUD Yowari.

Sebelum kembali ke sekolah, cucu Dominggas sudah makan di rumah. Ia sempat berpesan agar cucunya hanya mengambil buah dan tidak memakan makanan yang berbau tidak sedap.

Namun menurut cerita teman-temannya, cucu Dominggas justru menghabiskan hampir seluruh hidangan MBG yang datang terlambat itu. "Nenek, dia tadi makan banyak," kata teman sekolahnya kepada Dominggas.

Sore harinya, sang cucu mengeluh pusing dan kepalanya terasa berat. Dominggas mencoba mengobati di rumah dengan mencukur rambut, memberi air kelapa, santan, susu, dan pepaya. Setelah itu anak itu buang air besar.

Keesokan harinya, kondisi tidak membaik. Dominggas akhirnya membawa cucunya ke RSUD Yowari. Saat perawat hendak memasang infus, anak itu menolak.

Data Nasional Tunjukkan Tren Peningkatan Kasus

Selain Jayapura dan Semarang, insiden serupa juga tercatat di Sukoharjo, Cianjur, dan Bogor sepanjang semester pertama 2025. Kemenkes mencatat sebagian besar gejala yang muncul adalah mual, muntah, diare, dan demam yang diduga akibat kontaminasi bakteri pada makanan. Keterlambatan distribusi dan rantai pendingin yang belum merata disebut sebagai salah satu faktor pemicu.

JPPI dalam rilis April 2026 menekankan pentingnya audit menyeluruh terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Mereka meminta pemerintah pusat dan daerah memperketat uji laboratorium bahan baku, pelatihan juru masak, serta mekanisme pelaporan cepat jika terjadi kejadian luar biasa. Tanpa pengawasan ketat, program prioritas nasional ini rawan menimbulkan korban baru.

Di Depapre, sejumlah orang tua mengaku khawatir mengirim anak ke sekolah setelah kejadian ini. Mereka meminta pemerintah daerah dan penyelenggara MBG memberi penjelasan transparan soal penyebab, serta jaminan biaya pengobatan korban. Sementara itu, pemerintah daerah Jayapura menyatakan sudah menurunkan tim untuk menelusuri rantai distribusi dan menghentikan sementara penyaluran MBG di titik yang bermasalah hingga hasil uji selesai. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar