Kepemimpinan Ahmad Luthfi di Jateng: Kinerja Positif, Tapi Gaya Komunikasi Jadi Catatan

Uwrite.id - Satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Gus Yasin diwarnai berbagai dinamika, baik dari sisi capaian program maupun persepsi publik yang berkembang di media sosial.
Narasi “Jateng Tak Punya Gubernur” sempat ramai diperbincangkan, terutama saat banjir rob melanda Demak pada 2025, serta banjir di Pekalongan dan Batang pada awal 2026. Fenomena ini menjadi sorotan publik, khususnya terkait ekspektasi masyarakat terhadap respons kepemimpinan daerah.
Namun demikian, pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menilai bahwa isu tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja pemerintahan.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama justru terletak pada komunikasi publik yang belum optimal.
“Problemnya adalah apa yang dilakukan, apa yang dicapai oleh seorang gubernur... persepsi itu sangat dibangun oleh cara berkomunikasi,” ujar Nur Hidayat.
Menurutnya, capaian kinerja yang baik tidak akan terlihat oleh masyarakat apabila tidak disampaikan secara intensif dan efektif.
Capaian Program yang Berdampak Nyata
Di balik kritik terhadap komunikasi publik, berbagai program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dinilai menunjukkan hasil positif. Nur Hidayat Sardini menyebut sejumlah program telah memberikan dampak konkret bagi masyarakat.
Program tersebut antara lain layanan dokter spesialis keliling (Speling), pengembangan desalinasi air untuk wilayah pesisir, serta gerakan lingkungan seperti penanaman mangrove. Program-program ini dinilai mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat, terutama di daerah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses layanan dasar.
Selain itu, upaya pengendalian inflasi melalui stabilisasi harga bahan pokok juga menjadi bagian penting dari kinerja pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat.
“Program-program tersebut memberikan dampak konkret untuk masyarakat,” demikian penilaian Nur Hidayat Sardini terkait capaian satu tahun pemerintahan.
Tantangan Komunikasi di Era Digital
Meski memiliki kinerja yang cukup solid, tantangan terbesar terletak pada bagaimana capaian tersebut dikomunikasikan kepada publik. Dalam era digital, arus informasi yang cepat membuat persepsi publik mudah terbentuk, bahkan sebelum klarifikasi resmi disampaikan.
Nur Hidayat Sardini menilai bahwa kepala daerah perlu lebih aktif berkomunikasi secara langsung kepada masyarakat, tidak hanya melalui jalur formal seperti humas atau dinas komunikasi.
“Apa pun prestasi yang sangat bagus... tidak akan masyarakat lihat jika tidak rajin menyampaikan secara intensif,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar kepala daerah lebih sering hadir di ruang publik, baik melalui media sosial maupun forum dialog langsung, guna membangun kedekatan dengan masyarakat.
Peluang Perbaikan
Terlepas dari berbagai kritik yang ada, kepemimpinan Ahmad Luthfi tetap dinilai berada pada jalur yang positif. Fondasi program yang telah dibangun menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Tengah.
Ke depan, penguatan komunikasi publik diyakini menjadi kunci penting untuk memperkuat kepercayaan masyarakat. Dengan strategi komunikasi yang lebih terbuka, aktif, dan personal, berbagai capaian yang telah diraih berpotensi mendapatkan apresiasi yang lebih luas.
Dengan demikian, narasi negatif yang sempat berkembang di ruang digital dapat diimbangi dengan informasi yang lebih utuh, sehingga masyarakat dapat melihat secara objektif kinerja pemerintah daerah.

Tulis Komentar