Kembali ke Core Business, Pemulihan BUMN Karya Mulai Terlihat: PTPP dan ADHI Cetak Laba, WIKA-WSKT Tekan Rugi

Uwrite.id - Jakarta - Emiten BUMN sektor konstruksi mulai menunjukkan perbaikan pada paruh pertama 2026. Empat perusahaan karya negara berhasil memperbaiki kinerja keuangannya, baik lewat kenaikan laba maupun pengurangan kerugian.
Laporan per 30/06 menempatkan PT PP (Persero) Tbk. sebagai yang paling moncer. PTPP membukukan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik Rp193,47 miliar. Angka itu naik 196,51% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk. juga ikut tumbuh. ADHI mencatat laba bersih Rp8,49 miliar, meningkat 12,60% secara tahunan.
Di sisi lain, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk. masih mencatatkan rugi, namun nilainya sudah jauh menyusut. WSKT menekan rugi menjadi Rp1,91 triliun dari sebelumnya Rp2,30 triliun.
Sementara WIKA berhasil menekan kerugian ke Rp1,48 triliun dari Rp1,66 triliun. Penurunan ini ditopang pendapatan bersih WIKA yang naik 7,19% menjadi Rp6,27 triliun dan laba kotor yang melonjak 87,56% menjadi Rp886,33 miliar.
Strategi Efisiensi dan Pelunasan Utang
WIKA menjadi salah satu yang paling agresif dalam merapikan neraca. Sepanjang kuartal II/2025 sampai kuartal II/2026, total utang perseroan susut Rp2,15 triliun.
Setelah restrukturisasi tahap I pada 02, WIKA sudah melunasi kewajiban ke bank dan pemegang surat utang senilai Rp4,17 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp915,83 miliar dibayar dalam setahun terakhir.
Utang ke mitra kerja juga ditekan Rp5,02 triliun. Sebanyak Rp1,23 triliun di antaranya dilunasi pada periode yang sama, sehingga sisa utang usaha kini berada di Rp4,32 triliun.
Sekretaris Perusahaan WIKA, Ngatemin, menyebut efisiensi dan disiplin keuangan jadi fokus.
“Pengurangan utang, pengelolaan kas yang hati-hati, penguatan tata kelola, pemangkasan opex, dan penerapan lean construction adalah prioritas kami agar bisnis tetap berkelanjutan,” ujarnya pada (29/08).
Senada, Sekretaris Perusahaan PTPP, Joko Raharjo, mengatakan perseroan akan kembali ke bisnis inti konstruksi dan mempercepat penjualan aset non-core.
“Langkah ini diharapkan memperkuat arus kas perusahaan,” jelasnya.
Dorongan Penyehatan dari Danantara
Upaya pemulihan juga didukung penuh oleh Badan Pengatur BUMN bersama Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia.
COO Danantara merangkap Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyatakan pembenahan BUMN Karya menjadi prioritas, bersamaan dengan penataan PT Pos Indonesia dan dana pensiun.
Menurut Dony, proses koreksi pembukuan dan pelepasan aset merugi untuk tiga entitas itu diperkirakan mencapai Rp100 triliun. Skemanya meliputi impairment hingga cut loss. Sebelumnya, tahap awal penataan sudah menghasilkan perbaikan neraca Rp135 triliun.
“Harus ada koreksi, impairment, cut loss dan lainnya. Mau tidak mau dilakukan,” kata Dony.
Ia juga sudah bertemu manajemen WIKA dan PTPP untuk melihat kondisi keuangan secara realistis. Kepada WIKA, Dony meminta laporan yang jujur tanpa rekayasa.
“Kami ingin angka yang benar-benar riil. Yang sifatnya khayalan kami hapus,” tegasnya.
Bagi WIKA, arahnya adalah melepas aset yang bisa dijual untuk melunasi utang dan memperbaiki struktur modal. Sedangkan untuk PTPP, Danantara mendorong agar merger dilakukan lebih dulu sebelum masuk ke restrukturisasi lanjutan. Prosesnya dimulai dari pembenahan laporan keuangan agar transparan.
Setelah merger, PTPP akan ditata ulang agar bisnisnya lebih fokus.
“Harapannya PTPP punya struktur yang lebih ramping dan efisien, sehingga bisa memaksimalkan bisnis inti dan mendongkrak kinerja ke depan,” ungkap Dony..
Gambaran Umum
Secara keseluruhan, kinerja empat emiten BUMN Karya di semester I/2026 memperlihatkan tren positif. Baik PTPP dan ADHI yang sudah balik mencetak laba, maupun WIKA dan WSKT yang berhasil memangkas rugi. Dengan pengawasan ketat dari Danantara, proses penyehatan BUMN Karya diharapkan bisa berjalan lebih cepat dan terukur. (*)

Tulis Komentar