Kemajuan Teknologi vs Keyakinan Klenik: Mampukah Kita Menjadi Bangsa yang Berpikir Rasional?

Uwrite.id - Dunia sedang mengalami lompatan peradaban yang mungkin belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini mampu membantu dokter mendeteksi penyakit lebih cepat daripada manusia. Mobil tanpa pengemudi mulai diuji dan digunakan di berbagai negara. Robot sudah bekerja di pabrik, gudang logistik, hingga sektor pelayanan publik. Teknologi blockchain melahirkan sistem transaksi baru yang tidak lagi bergantung pada lembaga keuangan konvensional. Bahkan manusia kini sedang berlomba mengembangkan komputer kuantum yang diyakini akan mengubah wajah dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Di tengah revolusi teknologi tersebut, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: di mana posisi kita sebagai bangsa?
Ketika negara-negara lain berlomba mengembangkan teknologi masa depan, sebagian masyarakat kita masih disibukkan oleh berbagai perdebatan tentang santet, pesugihan, jin penglaris, ritual kekayaan instan, hingga berbagai tuduhan yang sering kali tidak didukung bukti yang jelas.
Fenomena ini bukan sekedar persoalan kepercayaan pribadi. Persoalan utamanya adalah ketika pola pikir yang tidak rasional mulai memengaruhi cara masyarakat memahami masalah sosial, ekonomi, politik, bahkan hukum.
Tidak sedikit konflik sosial yang berawal dari tuduhan santet. Tidak sedikit pula masyarakat yang menjadi korban penipuan berkedok kemampuan supranatural. Bahkan di era media sosial saat ini, fitnah dan tuduhan berbasis cerita gaib masih mudah menyebar dibandingkan penjelasan ilmiah yang berbasis fakta.
Padahal sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang maju bukanlah bangsa yang paling banyak sumber daya alamnya, melainkan bangsa yang paling mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan cara berpikir kritis.
Mengapa Manusia Mudah Mempercayai Hal-Hal Mistis?
Dalam ilmu psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan alami untuk mencari penjelasan atas sesuatu yang tidak dipahaminya.
Ketika ilmu pengetahuan belum berkembang, petir dianggap sebagai kemarahan dewa. Wabah penyakit dianggap kutukan. Gerhana dianggap pertanda buruk. Kematian mendadak dianggap akibat sihir.
Namun seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, manusia mulai memahami bahwa petir adalah fenomena listrik atmosfer, wabah disebabkan oleh virus atau bakteri, dan berbagai peristiwa alam dapat dijelaskan melalui penelitian ilmiah.
Sayangnya, pola pikir lama tidak sepenuhnya hilang. Di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, masih banyak masyarakat yang lebih mudah menerima penjelasan mistis daripada penjelasan ilmiah, terutama ketika berhadapan dengan peristiwa yang sulit dipahami.
Akibatnya, muncul budaya menyalahkan kekuatan gaib atas berbagai persoalan yang sebenarnya dapat dijelaskan secara logis.
Nyi Roro Kidul: Antara Mitos, Budaya, dan Politik Kekuasaan
Salah satu contoh menarik adalah legenda Nyi Roro Kidul yang sangat terkenal di Pulau Jawa.
Bagi sebagian masyarakat, Nyi Roro Kidul dipercaya sebagai penguasa Laut Selatan yang memiliki hubungan spiritual dengan raja-raja Mataram. Cerita ini telah hidup selama berabad-abad dan menjadi bagian dari khazanah budaya Jawa.
Namun sejumlah sejarawan dan budayawan menawarkan perspektif berbeda.
Sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, dalam pidato tertulisnya saat menerima penghargaan Ramon Magsaysay tahun 1988, menyampaikan pandangan bahwa legenda Nyi Roro Kidul dapat dipahami sebagai konstruksi politik dan budaya yang lahir dalam konteks sejarah tertentu.
Menurut Pramoedya, setelah kegagalan Sultan Agung menaklukkan Batavia dan menguasai jalur perdagangan di Pantai Utara Jawa, muncul kebutuhan simbolik untuk mempertahankan wibawa kekuasaan Mataram. Dalam konteks tersebut, legenda mengenai penguasaan Laut Selatan melalui figur Nyi Roro Kidul dipandang sebagai simbol kekuatan yang tetap dimiliki kerajaan.
Pandangan ini tentu bukan satu-satunya interpretasi. Namun yang menarik adalah metode berpikir yang digunakan. Pramoedya tidak menerima mitos sebagai fakta sejarah begitu saja. Ia mencoba menelusuri kemungkinan latar belakang sosial, politik, dan budaya yang melahirkan cerita tersebut.
Pendekatan semacam inilah yang menjadi ciri masyarakat maju: mempertanyakan, meneliti, dan mengkaji, bukan sekedar mempercayai.
Santet dalam Perspektif Rasional
Topik santet mungkin merupakan salah satu isu mistis yang paling banyak dipercaya masyarakat Indonesia.
Dalam berbagai cerita rakyat, santet digambarkan sebagai kemampuan gaib untuk menyakiti seseorang dari jarak jauh menggunakan bantuan makhluk halus. Cerita-cerita tersebut kemudian diperkuat oleh film, sinetron, dan berbagai kisah turun-temurun yang terus diwariskan.
Namun jika dilihat secara historis dan ilmiah, banyak kasus yang dahulu dianggap sebagai santet ternyata memiliki penjelasan yang lebih rasional.
Dalam masyarakat tradisional, praktik meracuni merupakan salah satu metode kejahatan yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Sebelum berkembangnya ilmu toksikologi dan forensik modern, masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi racun secara ilmiah.
Ketika seseorang tiba-tiba sakit, muntah darah, mengalami kelumpuhan, atau meninggal secara misterius, penjelasan yang paling mudah diterima adalah adanya serangan gaib.
Padahal dalam banyak kasus, gejala tersebut dapat disebabkan oleh racun alami maupun bahan kimia tertentu.
Menariknya, dalam tradisi Jawa kuno sering ditemukan penggunaan air kelapa sebagai salah satu bentuk pertolongan terhadap korban yang diduga terkena santet. Dari perspektif modern, air kelapa memang memiliki kandungan elektrolit yang dapat membantu proses pemulihan tubuh dalam kondisi tertentu, meskipun tentu bukan penawar universal untuk semua jenis racun.

Fakta-fakta seperti ini menunjukkan bahwa di balik cerita mistis sering kali terdapat realitas yang sebenarnya dapat dijelaskan secara ilmiah.
Mengapa Banyuwangi Identik dengan Santet?
Banyuwangi sering dijuluki sebagai "kota santet". Julukan ini begitu melekat hingga dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia.
Namun jika ditelusuri secara historis, citra tersebut tidak muncul begitu saja.
Pada abad ke-19, seorang penulis dan pengamat Belanda bernama W.R. Baron Van Hoëvell menulis mengenai keberadaan pohon upas atau ancar di wilayah Banyuwangi. Pohon ini dikenal karena getahnya yang sangat beracun.

Kisah mengenai racun dari pohon tersebut kemudian menyebar ke Eropa dan menjadi bahan berbagai tulisan yang menggambarkan Jawa sebagai wilayah yang penuh misteri.
Dalam proses penyebaran informasi yang panjang, fakta mengenai pohon beracun perlahan berubah menjadi berbagai cerita fantastis. Dari sinilah muncul berbagai stereotip mengenai wilayah tertentu yang dianggap sebagai pusat ilmu hitam atau santet.
Fenomena semacam ini menunjukkan bagaimana sebuah informasi dapat berubah bentuk ketika bercampur dengan imajinasi, cerita rakyat, dan sensasi.
Perspektif Budaya Osing: Santet Tidak Selalu Bermakna Jahat
Menariknya, tidak semua masyarakat memaknai santet sebagai upaya mencelakai orang lain.
Dalam budaya masyarakat Osing Banyuwangi, istilah santet memiliki makna yang jauh lebih luas dan kompleks dibandingkan gambaran yang populer di masyarakat umum.
Tokoh Komunitas Osing Pelestari Adat dan Tradisi (KOPAT), Sanusi Marhaedi atau Kang Usik, pernah menjelaskan bahwa dalam tradisi Osing terdapat berbagai bentuk ilmu pengasihan yang oleh sebagian masyarakat juga dimasukkan ke dalam kategori santet. Namun tujuan praktik tersebut bukan untuk menyakiti, melainkan untuk menarik simpati, mempererat hubungan, atau membantu keberhasilan usaha.
Masyarakat Osing mengenal istilah seret dan pesesren yang lebih dekat dengan konsep pengasihan daripada serangan gaib. Bahkan terdapat istilah mesisan kanthet yang bermakna mempererat hubungan pasangan, serta mesisan benthet yang dimaknai sebagai upaya memisahkan hubungan tertentu.
Perspektif ini menunjukkan bahwa istilah santet dalam budaya Nusantara tidak selalu identik dengan pembunuhan gaib atau ilmu hitam. Dalam banyak kasus, istilah tersebut berkembang sesuai konteks budaya masing-masing daerah.
Karena itu, memahami santet tidak cukup hanya melalui sudut pandang mistis, tetapi juga perlu melalui pendekatan sejarah, antropologi, dan budaya.
Bahaya Ketika Mitos Mengalahkan Logika
Masalah terbesar bukan terletak pada keberadaan mitos itu sendiri.
Setiap bangsa memiliki mitologi. Bangsa Yunani memiliki kisah Zeus dan Poseidon. Bangsa Nordik memiliki legenda Odin dan Thor. Jepang memiliki berbagai cerita rakyat tentang roh dan makhluk supranatural.
Masalah muncul ketika mitos tidak lagi dipahami sebagai bagian dari budaya, melainkan dipercaya sebagai kebenaran mutlak yang mengalahkan fakta dan akal sehat.
Ketika masyarakat lebih percaya pada dukun daripada dokter, maka kesehatan menjadi taruhannya.
Ketika masyarakat lebih percaya pada fitnah mistis daripada bukti hukum, maka keadilan menjadi korbannya.
Ketika masyarakat lebih percaya pada ritual kekayaan instan daripada pendidikan dan kerja keras, maka kemajuan ekonomi menjadi sulit dicapai.
Dalam kondisi seperti itu, mitos tidak lagi menjadi warisan budaya, tetapi berubah menjadi hambatan sosial.
Membangun Budaya Berpikir Kritis
Berpikir kritis bukan berarti menolak budaya. Berpikir kritis juga bukan berarti memusuhi tradisi.
Berpikir kritis adalah kemampuan untuk membedakan mana yang merupakan fakta, mana yang merupakan simbol budaya, mana yang merupakan kepercayaan pribadi, dan mana yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Bangsa yang maju tetap menghormati warisan budayanya, tetapi tidak membiarkan warisan tersebut menghalangi perkembangan ilmu pengetahuan.
Jepang tetap melestarikan tradisi samurai dan Shinto, tetapi menjadi salah satu pusat teknologi dunia.
Korea Selatan tetap menjaga budaya leluhurnya, tetapi juga menjadi negara pemimpin industri digital dan elektronik.
Artinya, tradisi dan kemajuan tidak harus saling bertentangan. Yang harus ditinggalkan bukan budayanya, melainkan cara berpikir yang menolak fakta dan ilmu pengetahuan.
Masa Depan Indonesia Ada pada Cara Berpikir Kita
Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia bukanlah kurangnya sumber daya alam, bukan pula kurangnya jumlah penduduk.
Tantangan terbesar bangsa ini adalah membangun masyarakat yang berpikir rasional, kritis, dan berbasis bukti.
Di era kecerdasan buatan, robotika, komputasi kuantum, dan revolusi digital, bangsa yang mampu bersaing adalah bangsa yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai fondasi pembangunan.
Jika kita terus terjebak dalam pola pikir yang mengutamakan mitos di atas fakta, maka kita hanya akan menjadi penonton dari kemajuan dunia.
Namun jika kita berani membangun budaya berpikir kritis, menghargai ilmu pengetahuan, dan tetap memahami budaya secara proporsional, maka Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam peradaban masa depan.
Kemajuan teknologi pada akhirnya bukan hanya soal mesin yang semakin canggih. Yang lebih penting adalah kemajuan cara berpikir manusia yang menggunakannya.

Tulis Komentar