Kebakaran Hutan Gunung Dloko di Ponorogo serta Penanganannya

Uwrite.id - Ponorogo - Gunung Dloko merupakan salah satu kawasan hutan di wilayah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Topografinya berbukit dengan vegetasi campuran jati, akasia, dan semak belukar. Kondisi medan yang curam serta banyaknya serasah kering membuat kawasan ini rawan terbakar, terutama saat musim kemarau panjang.
Kebakaran hutan di Gunung Dloko di Desa Tatung dan Gunung Gede di Desa Muneng, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur ini, umumnya dipicu oleh kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Faktor alam meliputi cuaca panas ekstrem, angin kencang, dan kelembapan tanah yang rendah. Sementara faktor manusia sering terkait pembukaan lahan, puntung rokok, atau api unggun pendaki yang tidak dipadamkan sempurna. Ketika api meluas, tutupan vegetasi, habitat satwa liar, dan mikroorganisme tanah menjadi korban. Kerusakan ini mengganggu rantai ekologi, menurunkan kesuburan tanah, dan meningkatkan risiko erosi saat musim hujan tiba. Kawasan resapan air di lereng gunung juga ikut terganggu.
Asap tebal dari kebakaran mengganggu kesehatan warga sekitar, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Aktivitas pertanian, wisata alam, dan pendakian juga terhenti. Petani di lereng gunung berpotensi kehilangan lahan dan sumber penghasilan akibat terbakarnya vegetasi produktif.
Pemantauan kebakaran hutan kini dibantu sistem informasi hotspot seperti SiPongi+ dari Kementerian Kehutanan. Data satelit ini memberi peringatan titik panas secara near real-time sehingga petugas dapat merespons lebih cepat sebelum api menjadi besar.
BMKG merilis Fire Weather Index sebagai indikator potensi kebakaran. Indeks di atas 7 menandakan api sulit dikendalikan, sementara di atas 13 masuk kategori sangat tinggi dan sangat sulit dipadamkan. Data ini menjadi acuan BPBD dan petugas lapangan untuk siaga penuh.
Meski tanggal spesifik kejadian di Gunung Dloko sering berubah tiap musim kemarau, pola yang muncul hampir sama: api muncul di titik kering, terbawa angin naik ke lereng, lalu meluas karena banyaknya bahan bakar berupa daun dan ranting kering. Medan terjal membuat pemadaman dari darat menjadi sulit.
Medan curam, keterbatasan akses air, dan angin yang berubah arah menjadi tantangan utama. Petugas juga harus menghadapi jarak tempuh jauh dari permukiman ke titik api. Kondisi ini menuntut strategi khusus agar pemadaman tidak membahayakan personel.
Komando Penanganan oleh BPBD Ponorogo
BPBD Kabupaten Ponorogo memimpin koordinasi penanganan bencana di wilayahnya. Saat terjadi kebakaran hutan, BPBD mengaktifkan posko, mengerahkan Tim Reaksi Cepat, dan berkoordinasi dengan TNI, Polri, Perhutani, relawan, serta masyarakat.
Metode yang digunakan meliputi sekat bakar untuk memutus jalur api, gepyokan dengan ranting basah, dan penyemprotan air bila sumber air terjangkau. Di titik yang sangat terjal, petugas lebih mengandalkan pembuatan ilaran atau garis pemisah alami menggunakan tanah mineral.
Penanganan melibatkan personel gabungan: BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, Perhutani, relawan Mapala, dan warga desa hutan. Pembagian sektor dilakukan agar tiap tim fokus pada satu sisi lereng. Sistem ini mencegah tumpang tindih dan mempercepat penguasaan api.
Peralatan yang dikerahkan meliputi pompa punggung, baju tahan api, alat komunikasi HT, GPS, serta jeriken air. Bantuan logistik bagi petugas seperti makanan, minuman, dan obat-obatan juga disiapkan BPBD selama operasi berlangsung.
Selain pemadaman, BPBD Ponorogo juga menjalankan program mitigasi seperti penghijauan untuk mengurangi risiko kekeringan dan kebakaran. Penanaman kembali di bekas lahan terbakar membantu memulihkan daya dukung lahan. Warga sekitar Gunung Dloko dilibatkan melalui program Keluarga Tangguh Bencana atau Katana. Program ini melatih keluarga agar siaga, mengenali tanda bahaya, dan tahu jalur evakuasi serta titik kumpul saat terjadi kebakaran.
Sebelum puncak kemarau, dilakukan sosialisasi larangan membakar sampah sembarangan, patroli gabungan, dan pemasangan papan peringatan di jalur pendakian.
Edukasi ini penting karena sebagian besar kebakaran berawal dari kelalaian manusia.
Setelah api padam, dilakukan assessment kerusakan, pendinginan titik api, dan rehabilitasi. Tahapannya meliputi pembuatan guludan, penanaman pohon cepat tumbuh, dan pemantauan erosi. Tujuannya agar lahan tidak kritis saat hujan datang.
Publik dapat memantau kondisi melalui peta hotspot SiPongi+ dan peringatan FWI BMKG. Keterbukaan data ini membantu relawan dan warga ikut waspada serta melapor bila melihat titik api baru.
Kebakaran Gunung Dloko menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya saat api menyala, tapi harus dimulai dari pencegahan, kesiapsiagaan, dan pemulihan. Sinergi BPBD, Perhutani, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat menjadi kunci agar hutan Ponorogo tetap lestari dan aman dari kebakaran berulang. (*)

Tulis Komentar