Karhutla Bromo Meluas 176 Hektare, Dua Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api

Lingkungan Hidup | 09 Aug 2026 | 16:43 WIB
Karhutla Bromo Meluas 176 Hektare, Dua Helikopter Water Bombing Dikerahkan Padamkan Api
Keterangan foto: Gubernur Khofifah Indar Parawansa terjun langsung meninjau penanganan karhutla di kawasan Taman Nasional Tengger Semeru, Probolinggo penghujung pekan lalu. [Istimewa]

Uwrite.id - Malang - Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru meluas hingga 176 hektare. Untuk mempercepat pemadaman, dua unit helikopter milik BNPB dikerahkan melakukan operasi water bombing di titik-titik api.

Berdasarkan data BPBD Jawa Timur, kebakaran pertama kali muncul di area Savana Kaldera Tengger dan merembet ke beberapa blok. Kondisi angin kencang membuat api cepat membesar dan sulit dijangkau tim darat.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BNPB untuk menambah armada udara. 

"Sabtu 8 Agustus ditambahkan satu helikopter lagi sehingga saat ini ada dua helikopter yang bertugas melakukan water bombing," ujar Khofifah.

Salah satu heli yang datang memiliki kapasitas angkut air lima kali lebih besar dari sebelumnya untuk mempercepat pembasahan di lokasi. Operasi udara difokuskan di blok Watangan dan sekitarnya yang masih mengeluarkan kepulan asap.

Kepala Balai Besar TNBTS Hendro Widjanarko menyebut sementara waktu sejumlah spot wisata ditutup demi keamanan. 

"Penanjakan, Bukit Teletubbies, dan Pasir Berbisik kami tutup dulu. Tapi view dari kantor kami masih bisa dinikmati wisatawan," katanya.

Tim gabungan di lapangan dibagi dua. Tim Atas bertugas memadamkan api di puncak, sementara Tim Bawah mencegah api merembet ke padang rumput atau savana. 

Selain water bombing, petugas juga melakukan pemadaman manual dengan gepyok dan 1 unit mobil tangki.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan satu helikopter sebelumnya digeser dari Gunung Arjuno ke Bromo untuk membantu pemadaman. Operasi udara ini menjadi opsi terakhir setelah upaya darat maksimal dilakukan.

BNPB mencatat biaya operasional water bombing cukup besar. Satu jam penerbangan menghabiskan sekitar Rp150 juta atau 11.500 USD. 

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyebut denda bagi pelaku karhutla Rp1,5 miliar masih jauh lebih kecil dibanding biaya pemadaman.

Potensi dan Tantangan Anggaran Operasi Udara

Menurut Kepala BNPB Suharyanto, operasi water bombing memang menjadi "jalan terakhir" karena biayanya sangat tinggi. "Itu mengangkut air water bombing per satu jam 11.500 USD atau 150 juta rupiah itu," terang Suharyanto. 

Ia menyebut negara harus mengeluarkan anggaran besar untuk tiap jam terbang mengangkut dan menyiramkan air di titik hotspot.

Lebih rinci lagi, BNPB juga menghitung bahwa satu menit penerbangan bisa mencapai Rp300 juta. Karena itu pemilihan waktu dan lokasi operasi harus sangat cermat agar anggaran tidak terkuras sia-sia. 

Strategi efisiensi dilakukan dengan mengombinasikan operasi modifikasi cuaca dan water bombing hanya saat titik api masih sedikit.

Selain mahal, pemerintah juga harus menyewa helikopter dari pihak ketiga. 

Suharyanto menjelaskan APBN akan lebih terkuras jika negara memiliki helikopter sendiri, karena perawatan dan maintenance membutuhkan biaya rutin meski tidak digunakan terbang. 

"BNPB itu bekerja sama dengan pihak ketiga. Instansi lain punya tiga helikopter saja berat merawatnya," katanya.

Meski mahal, potensi water bombing dinilai efektif untuk area yang sulit dijangkau tim darat. Di Riau misalnya, satu unit helikopter water bombing BNPB mampu melakukan 13 sortie dengan total 710 kali pengeboman air dan menumpahkan sekitar 3,19 juta liter air untuk menjinakkan api. 

Kapasitas angkut air tiap heli juga bervariasi, ada yang bisa membawa 4.000 liter sekali bombing dengan daya jelajah 4 jam terbang.

Dengan skema impor sementara, Bea Cukai juga memberikan pembebasan bea masuk, PPN, PPnBM, dan PPh 22 impor untuk 5 helikopter BNPB yang digunakan patroli, pemantauan hotspot, hingga water bombing. 

Fasilitas ini bertujuan mempercepat deteksi dini dan respons pemerintah dalam menghadapi potensi karhutla agar tidak meluas dan menelan biaya lebih besar.

Hingga Sabtu 8 Agustus pukul 16.40 WIB, luasan lahan terbakar di areal TNBTS diestimasi ± 274,71 hektare dan tidak ada korban jiwa. Cuaca di lokasi terpantau cerah.

Praktisi lingkungan hidup dari WALHI Jatim, Purnawan Dwikora, menilai kebakaran Bromo adalah bentuk kelalaian kolektif. Ia menyebut ekosistem sabana di Bromo butuh puluhan tahun untuk pulih.

"Karhutla di kawasan konservasi ini bukan sekadar kehilangan rumput. Ini merusak rantai makanan, habitat satwa, dan sumber air masyarakat Tengger. Kalau tidak ada efek jera, tahun depan bisa terulang lagi," ujarnya secara tak langsung mengingatkan pentingnya penegakan hukum.

Sementara itu penggerak pecinta alam Mapala Unesa, Dimas Ardiansyah, menyoroti perilaku wisatawan sebagai pemicu utama. Ia meminta ada aturan lebih ketat dan edukasi masif sebelum pendakian.

"Kami di lapangan sering temukan puntung rokok dan bekas api unggun. Bromo itu rumah bersama. Jangan karena satu orang ceroboh, gunung yang dibayar mahal untuk dipulihkan," kata Dimas.

Budayawan lokal Tengger, Dukun Adat Desa Ngadas, Joko Supriyono, juga menyampaikan keprihatinan. Menurutnya, kebakaran ini melukai nilai spiritual masyarakat adat.

"Gunung Bromo bagi kami bukan hanya tempat wisata. Ada doa, ada Yadnya Kasada. Kalau hutan terbakar, itu pertanda kita kurang menjaga. Pesan leluhur harus kita ingat: jaga alam, maka alam menjaga kita," tuturnya.

Petugas mengimbau masyarakat bijak menggunakan api di kawasan hutan. "Sampah jangan lagi dibakar. Apalagi di hutan, termasuk kejadian di Bromo kemarin juga sangat disayangkan," tegas Kepala BNPB Suharyanto. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar