Kami yang Tidak Pernah Dianggap

Seni | 10 Jan 2026 | 12:11 WIB
Kami yang Tidak Pernah Dianggap
Kami yang Tidak Pernah Dianggap/Image by AI

Uwrite.id - Kami yang Tidak Pernah Dianggap

Di kota ini, pagi tidak pernah benar-benar dimulai. Ia hanya berpindah dari satu kelelahan ke kelelahan lain.

Joni bangun ketika azan subuh sudah lama selesai. Kamar kontrakannya sempit, dindingnya lembap, dan bau got dari belakang rumah selalu ikut masuk ke mimpi. Ia tak punya jam weker. Yang membangunkannya adalah bunyi perut kosong.

Di luar, jalan sudah ramai oleh orang-orang yang berpura-pura punya tujuan. Joni berjalan ke halte dengan sepatu yang solnya sudah terkelupas. Ia pernah kerja di pabrik elektronik. Sekarang pabrik itu tutup. Diganti gudang e-commerce. Diganti mesin. Diganti sistem. Yang tidak diganti: kemiskinan.

Ia berdiri di antara ratusan orang lain yang menunggu panggilan kerja harian. Mereka seperti barang diskon: banyak, murah, dan mudah dibuang.

“Bisa angkat barang?” tanya mandor.

“Iya.”

“Punya SIM?”

“Tidak.”

“Ya sudah, minggir.”

Satu kata itu—minggir—lebih menyakitkan dari makian. Karena artinya: kau masih hidup, tapi tidak berguna.

Joni menepi ke trotoar. Di sana, pedagang asongan, pengamen, dan pengemis duduk seperti sisa-sisa kota yang tak sempat dibersihkan. Ia bergabung tanpa salam. Mereka semua tahu rasanya sama: dilihat sebagai gangguan.

Menjelang siang, panas mulai memanggang kepala. Joni menghitung uang di sakunya. Cukup untuk nasi dan air putih. Ia makan di warung kecil, sambil melihat berita di televisi: pejabat bicara tentang pertumbuhan ekonomi.

“Ekonomi siapa?” gumamnya.

Di layar, grafik naik. Di perutnya, rasa lapar tidak pernah turun.

Sore hari, ia mencoba melamar ke proyek bangunan. Helm dipinjam. Sepatu keselamatan tidak ada.

“Kontrak?” tanya Joni.

“Kalau kuat, besok datang lagi,” jawab mandor. “Kalau mati, ya diganti.”

Itu bukan lelucon. Itu sistem.

Joni bekerja sampai tangannya bergetar. Mengangkat semen. Menghirup debu. Menyimpan sakit. Upahnya dibayar tunai, sebagian dipotong tanpa penjelasan. Ia tidak protes. Orang lapar tidak punya bahasa.

Malam turun. Ia pulang dengan langkah pincang. Di kontrakan, tetangganya diusir karena telat bayar. Tangisnya menembus dinding tipis seperti pengingat: sebentar lagi giliran siapa.

Joni duduk di kasur. Menghitung hari. Menghitung utang. Menghitung hidup.

Ia sadar sesuatu: di kota ini, orang miskin tidak mati karena kelaparan. Mereka mati karena dipaksa bertahan terlalu lama.

Dan esok pagi, ia akan bangun lagi. Bukan karena harapan, tapi karena belum sempat mati.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar