
Uwrite.id - Jam Delapan Pagi di Terminal Bayangan.
Jam delapan pagi adalah jam yang aneh.
Tidak sepagi subuh, tidak sesibuk siang. Terlalu terang untuk disebut rahasia, terlalu sepi untuk disebut normal.
Terminal kecil itu tidak pernah benar-benar ramai. Bus antarkota besar tidak berhenti di sana. Yang singgah hanya angkutan lama, elf, dan bus ekonomi yang catnya memudar. Orang-orang menyebutnya terminal bayangan—ada di peta, tapi jarang diingat.
Rudi duduk di bangku panjang dekat loket kosong. Seragam kerjanya masih ia pakai. Kemeja biru pucat, celana hitam, sepatu yang belum sempat dibersihkan. Bau malam masih menempel, meski matahari sudah tinggi.
Ia menguap, menutup mulut dengan tangan. Kopi di gelas plastik tinggal setengah. Sudah dingin.
“Belum pulang?” tanya seorang lelaki tua dari bangku seberang.
Rudi menoleh. Lelaki itu membawa tas kain besar, isinya entah apa.
“Belum,” jawab Rudi. “Nunggu jam sembilan.”
Lelaki itu mengangguk. “Sama.”
Mereka diam lagi. Di terminal ini, percakapan jarang panjang. Semua orang membawa sisa-sisa malam atau beban siang yang belum mulai.
Rudi bekerja sebagai petugas kebersihan gedung perkantoran di pusat kota. Shift malam. Pekerjaan yang jarang dibicarakan orang, tapi selalu dicari hasilnya. Lantai mengilap, toilet bersih, sampah hilang sebelum jam kerja dimulai.
Ia selesai kerja pukul enam pagi. Biasanya langsung pulang. Tapi hari ini berbeda. Hari ini ia harus ke rumah sakit—mengantar ibunya kontrol. Janjinya jam sepuluh. Terlalu cepat untuk pulang, terlalu lama untuk menunggu di rumah.
Terminal jadi tempat singgah.
Di sekitar mereka, beberapa orang duduk terpencar. Seorang perempuan dengan seragam minimarket menguap sambil memegang ponsel. Dua buruh bangunan makan nasi bungkus. Seorang anak kecil tidur di pangkuan ibunya.
Terminal ini adalah pertemuan orang-orang yang bekerja saat orang lain tidur.
“Kerja malam?” tanya lelaki tua itu lagi.
Rudi mengangguk.
“Capek ya.”
“Iya.”
“Kenapa nggak pindah siang?”
Rudi tersenyum tipis. “Siang banyak saingan.”
Lelaki itu tertawa pelan. “Bener juga.”
Bus kecil datang. Beberapa orang naik. Beberapa turun. Terminal tetap setengah kosong.
Rudi meneguk kopi terakhirnya, lalu berdiri sebentar, meregangkan punggung. Tulang-tulangnya terasa tua, padahal usianya belum empat puluh.
Ia ingat pertama kali kerja malam. Tubuhnya menolak. Kepala pusing. Tidur tidak nyenyak. Lama-lama, tubuh menyerah. Bukan beradaptasi—menyerah.
Di pagi hari, dunia terasa seperti milik orang lain.
Seorang petugas terminal lewat, menyapu lantai. Mereka saling mengangguk. Tidak kenal nama. Tidak perlu.
Jam mendekati sembilan. Matahari makin tinggi. Terminal mulai lebih hidup, tapi tetap pelan.
Seorang perempuan duduk di bangku dekat Rudi. Wajahnya lelah. Rambut diikat asal. Ia membuka tas, mengeluarkan roti tawar, memakannya tanpa selai.
“Mas, bus ke arah kota lewat sini?” tanyanya.
“Iya,” jawab Rudi. “Yang kecil. Nanti juga lewat.”
“Terima kasih.”
Perempuan itu mengangguk, lalu kembali diam. Tangannya sedikit gemetar.
“Shift malam?” tanya Rudi, refleks.
Perempuan itu tersenyum kecil. “Iya.”
Mereka saling memahami tanpa banyak penjelasan.
Jam sembilan lewat. Bus yang ditunggu Rudi datang. Ia berdiri, mengangkat tas kecilnya.
“Duluan,” katanya pada lelaki tua itu.
“Iya,” jawab lelaki itu. “Hati-hati.”
Rudi naik bus. Duduk di dekat jendela. Bus bergerak pelan, meninggalkan terminal bayangan.
Di dalam bus, beberapa penumpang tertidur. Kepala bersandar ke kaca. Mulut terbuka sedikit. Tidak ada yang malu. Pagi hari memberi izin untuk lelah.
Rudi memejamkan mata sebentar. Ingatannya melayang ke malam tadi: lantai gedung yang luas, lampu neon, suara mesin pel. Kesunyian yang hanya diisi dengung AC.
Ia membuka mata saat bus berhenti. Rumah sakit.
Rudi turun. Matahari terasa lebih panas. Bau obat menyambut.
Di ruang tunggu, ibunya sudah duduk. Rambutnya memutih. Tas kecil di pangkuan.
“Kamu belum tidur?” tanya ibunya.
“Belum,” jawab Rudi.
“Capek.”
“Iya.”
Ibunya menatapnya lama. “Kamu kurus.”
Rudi tersenyum. “Kerja, Bu.”
Mereka duduk berdampingan. Menunggu nomor dipanggil.
Di sekitar mereka, dunia siang berjalan cepat. Perawat mondar-mandir. Anak-anak menangis. Televisi menyala tanpa suara.
Ibunya masuk ke ruang periksa. Rudi menunggu di luar. Matanya berat. Ia menahan agar tidak terlelap.
Di saat seperti ini, ia merasa hidupnya terbelah dua. Malam miliknya. Siang orang lain. Ia hanya singgah sebentar di siang hari, seperti terminal tadi.
Setelah selesai, mereka pulang naik angkot. Ibunya tertidur di sampingnya. Kepala bersandar ke bahunya.
Rudi menatap keluar jendela. Orang-orang lalu-lalang. Kantor buka. Toko ramai. Hidup normal.
Ia merasa seperti tamu.
Sampai di rumah, ia mengantar ibunya masuk, memastikan obat tersimpan rapi.
“Kamu tidur,” kata ibunya.
“Iya.”
Rudi masuk kamar. Menutup tirai rapat. Dunia luar menghilang.
Ia berbaring. Tubuhnya berat. Sebelum tertidur, ia berpikir tentang terminal bayangan itu. Tentang orang-orang yang duduk di sana, menunggu waktu yang tidak sinkron dengan dunia.
Mereka bukan pengangguran. Mereka bukan malas. Mereka hanya hidup di jam yang jarang dihitung.
Rudi tertidur saat matahari tepat di atas kepala.
Di luar, dunia siang terus berjalan.
Dan nanti malam, ketika sebagian orang mulai memejamkan mata,
orang-orang seperti Rudi akan bangun—
membersihkan sisa-sisa hari,
menjaga kota tetap berjalan,
lalu kembali menghilang di pagi hari,
singgah sebentar di terminal bayangan
sebelum hidup berputar lagi.

Tulis Komentar