ITPLN: Indonesia Berisiko Rugi Rp40.000 Triliun Tahun 2048

Lingkungan Hidup | 13 Jun 2026 | 11:31 WIB
ITPLN: Indonesia Berisiko Rugi Rp40.000 Triliun Tahun 2048
Wakil Rektor III Institut Teknologi PLN (ITPLN), Purnomo mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga Rp40.000 triliun di 2048.

Uwrite.id - Jakarta - Wakil Rektor III Institut Teknologi PLN (ITPLN), Purnomo mengungkapkan bahwa Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga Rp40.000 triliun pada 2048 apabila transisi energi nasional tidak berjalan secara optimal. Hal tersebut ia ungkapkan dalam Seminar Series Dies Natalis ke-28 ITPLN bertema “Orchestrating the Solar Sovereignty Roadmap: Synergizing Global Innovation for National Energy Sovereignty and Local Excellence”, dikutip beberapa hari lalu.

Menurut Purnomo, potensi kerugian tersebut mengacu pada studi Bank Indonesia yang memperkirakan dampak pemanasan global dapat mencapai sekitar 40 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2048.

“Berdasarkan studi Bank Indonesia, potensi kerugian akibat pemanasan bumi bisa mencapai 40 persen dari PDB nasional pada 2048. Kalau diperkirakan PDB kita saat itu Rp100.000 triliun, maka potensi loss-nya sekitar Rp40.000 triliun,” ujar Purnomo.

Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi fiskal dan moneter nasional. Oleh karena itu, upaya transisi energi dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk mengurangi risiko ekonomi jangka panjang akibat peningkatan suhu global.

Purnomo mengatakan Indonesia telah menetapkan target mencapai net zero emission pada 2060. Komitmen tersebut telah diperkuat melalui ratifikasi Paris Agreement serta berbagai kebijakan dan perencanaan sektor energi, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

Menurutnya, percepatan transisi energi perlu dilakukan sejak dini untuk mengurangi risiko peningkatan suhu global yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kalau kita terlambat memulai transisi energi, suhu bumi bisa melampaui dua derajat Celsius dan dampaknya akan jauh lebih besar,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Purnomo juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat implementasi transisi energi nasional. Ia menilai pengembangan energi surya dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung pengurangan emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tema seminar yang mengusung konsep “orkestrasi” mencerminkan kebutuhan akan sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, dan masyarakat. Menurutnya, keterlibatan seluruh pemangku kepentingan diperlukan agar target transisi energi dapat dicapai secara efektif dan berkelanjutan.

ITPLN menilai bahwa percepatan transisi energi tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan target lingkungan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dalam menghadapi risiko perubahan iklim di masa depan. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar