Inovasi Kamper Aromatic Mahasiswa Unair: Pengusir Hama Alami

Kesehatan | 06 Aug 2026 | 09:54 WIB
Inovasi Kamper Aromatic Mahasiswa Unair: Pengusir Hama Alami
Keterangan foto: Mahasiswa program vokasi Unair Surabaya berhasil memenangkan Juara Harapan I pada dalam ajang Plant Protection Competition yang digelar Universitas Brawijaya [Istimewa].

Uwrite.id - Malang - Dua mahasiswa Universitas Airlangga Surabaya berhasil menciptakan inovasi produk kamper yang tidak hanya berfungsi sebagai pengusir hama, tetapi juga sebagai pewangi alami. Karya ini lahir dari keprihatinan terhadap penggunaan pestisida kimia yang berlebihan di sektor pertanian.

Tita Mutia Rachma dan Reza Akni Arifia Zidan, mahasiswa Program Studi Pengobatan Tradisional Fakultas Vokasi Unair, menamakan produknya "Kamper Aromatic". Produk ini memanfaatkan bahan dasar nonkimiawi berupa essential oil serai wangi dan peppermint.

Inovasi tersebut dipresentasikan dalam ajang Plant Protection Competition yang digelar Universitas Brawijaya. Dengan mengusung tema “Peran Perlindungan Tanaman menuju Indonesia Emas”, tim ini berhasil meraih Juara Harapan I.

Pemilihan bahan alami menjadi titik berat utama dalam penelitian mereka. Serai wangi dan peppermint dipilih karena memiliki kandungan senyawa aromatik yang kuat, namun aman bagi manusia dan lingkungan jika digunakan dengan tepat.

Berbeda dengan insektisida sintetis yang kerap meninggalkan residu berbahaya, Kamper Aromatic bekerja melalui pendekatan aromaterapi. Aroma yang dihasilkan tidak membunuh secara langsung, melainkan mengusir hama secara alami.

Menurut Tita selaku ketua tim, aroma kuat dari kedua minyak esensial tersebut mampu mengganggu sistem pernapasan pada hama tanaman. Akibatnya hama enggan mendekat sehingga tanaman terlindungi dari serangan.

“Karena aromanya yang kuat, hama akan pergi menjauh karena aroma tersebut mampu mengganggu sistem pernapasan pada hama,” jelas Tita dalam keterangan persnya di Surabaya.

Cara kerja produk ini sederhana. Kamper diletakkan di area pertanian atau penyimpanan hasil panen. Secara perlahan ia akan mengeluarkan wangi khas yang menyebar ke udara sekitar.

Wangi tersebut tidak menyengat bagi manusia. Justru sebaliknya, kombinasi serai wangi dan peppermint menghasilkan aroma segar yang menenangkan dan dapat berfungsi ganda sebagai pewangi ruangan.

Aspek kesehatan menjadi pertimbangan penting. Tim sengaja menghindari bahan kimia berbahaya seperti naftalena yang umum ditemukan pada kamper konvensional. Naftalena diketahui berpotensi menimbulkan iritasi dan gangguan kesehatan jika terhirup terus-menerus.

Dengan menggunakan bahan nabati, risiko residu pada tanaman pangan dapat diminimalkan. Hal ini sejalan dengan tren pertanian organik yang semakin diminati konsumen karena lebih aman untuk dikonsumsi.

Selain untuk pertanian, Kamper Aromatic juga berpotensi digunakan di rumah tangga. Produk ini bisa diletakkan di lemari, gudang, atau area penyimpanan untuk mencegah serangga sekaligus menghadirkan aroma alami.

Keunggulan lain terletak pada sifatnya yang biodegradable. Setelah masa pakai habis, bahan-bahan penyusunnya lebih mudah terurai di alam dibandingkan produk berbahan kimia sintetis.

Tim Battra Unair melihat inovasi ini sebagai bentuk penerapan ilmu pengobatan tradisional ke dalam konteks pertanian modern. Pengetahuan tentang khasiat tanaman obat diolah menjadi solusi praktis dan aplikatif.

“Kami ingin menguji kemampuan kami di bidang pengobatan tradisional dan membanggakan Unair,” ujar Tita. Baginya, kompetisi ini menjadi batu loncatan untuk mengembangkan produk lebih lanjut.

Dukungan terhadap produk nonkimiawi seperti ini juga sejalan dengan program pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia. Tujuannya untuk menjaga kesehatan petani, konsumen, dan kelestarian lingkungan.

Meski masih dalam tahap karya tulis ilmiah, tim berharap Kamper Aromatic dapat dikembangkan lebih jauh menjadi produk komersial. Uji efektivitas dan keamanan lebih lanjut diperlukan sebelum diproduksi massal.

“Kami menjadikan lomba ini langkah awal untuk menuju langkah yang lebih besar di kemudian hari nanti,” pungkas Tita.

Dengan inovasi ini, mahasiswa Unair membuktikan bahwa solusi pertanian sehat bisa dimulai dari bahan-bahan sederhana di sekitar kita. Tanpa mengorbankan kesehatan, alam dan manusia sama-sama diuntungkan. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar