Implementasi Tridharma, Dosen Unasman Berdayakan Petani Majene Lewat Pakan Fermentasi dan Pupuk Organik

Ekonomi | 04 Sep 2026 | 09:08 WIB
Implementasi Tridharma, Dosen Unasman Berdayakan Petani Majene Lewat Pakan Fermentasi dan Pupuk Organik
Keterangan foto: Dalam rangka Pengabdian Masyarakat, dosen Unasman melatih petani mengolah Pakan Fermentasi dan Pupuk Organik di Majene. [Ilustrasi]

Uwrite.id - Mandar - Sebagai wujud nyata Tridharma Perguruan Tinggi, dosen Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) turun langsung mendampingi petani di Majene. Selama 28–29 Juni 2026, Tim PKM Unasman melatih Kelompok Tani Randang Balisa di Kelurahan Tande Timur, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, untuk mengolah pakan fermentasi, pupuk kompos, dan pupuk organik cair atau biourin.

Kegiatan ini diikuti 25 anggota kelompok tani dan merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang mendapat dukungan Program Bantuan Inovasi Masyarakat (BIMA) Kemdiktisaintek dengan nomor 212/C3/DT.05.00/PM/2026; 488/LL9/PPIPPPM/2026; 106/UNASMANREKTOR/IX/V/2026.

Angkat Tema Ekonomi Sirkuler untuk Ketahanan Pangan

Pelatihan mengusung tema "Pendampingan Beternak Kambing Berbasis Ekonomi Sirkuler dan Berkelanjutan sebagai Strategi Adaptasi Iklim dan Ketahanan Pangan". Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek.

Ketua Tim PKM, Hasniar Burhan, S.Pt., M.Si., menjelaskan kegiatan ini adalah bentuk tanggung jawab kampus untuk menghadirkan solusi langsung ke masyarakat. 
"Kami ingin ilmu yang ada di kampus tidak berhenti di ruang kelas. Petani harus mampu mengolah sumber daya lokal jadi pakan fermentasi dan pupuk organik berkualitas. Ini lebih hemat biaya dan ramah lingkungan," ujarnya.

Tim pemateri dari Unasman terdiri dari Hasniar Burhan, Andi Tenri B. Astuti, Santi, dan Muh. Arman Yamin P., S.Pt., M.P.

Dari Kelas ke Lahan: Praktik Langsung Bersama Petani

Materi yang diberikan mencakup tiga hal utama: pembuatan pakan fermentasi dari daun jati, pembuatan pupuk kompos dari kotoran kambing, serta pembuatan pupuk organik cair dari urine kambing.

Tidak hanya teori, Dr. Andi Tenri Bau Astuti memandu peserta praktik langsung. Mulai dari pencampuran bahan, proses fermentasi, hingga pengemasan pupuk organik dilakukan bersama-sama di lokasi kelompok tani.

"Pendekatan praktik ini penting agar ilmunya bisa langsung diterapkan. Kami tidak mau pelatihan berhenti setelah tim pulang," jelas Andi Tenri.

Jawaban atas Mahal dan Sulitnya Pupuk Kimia
Ketua Kelompok Tani Randang Balisa, Rahman, menyambut baik kegiatan ini. Ia menyebut pelatihan ini menjawab persoalan yang selama ini dihadapi anggotanya. 

"Selama ini kami masih bergantung pada pupuk kimia dan pakan pabrik yang harganya naik terus. Sekarang kami tahu cara memanfaatkan bahan di sekitar untuk menekan biaya produksi," kata Rahman.

Arman menambahkan, pengolahan limbah ternak jadi pupuk juga punya dampak ganda. Selain mengurangi pencemaran, limbah yang tadinya tidak bernilai kini bisa jadi sumber pendapatan baru bagi petani.

Ekonomi Sirkuler sebagai Jalan Efisiensi Usaha Tani

Anggota Tim PKM, Santi, S.Pt., M.Si., menekankan bahwa ekonomi sirkuler menjadi ruh dari kegiatan ini. Limbah peternakan diolah jadi pupuk, bahan lokal diolah jadi pakan. Dengan begitu tercipta sistem pertanian dan peternakan yang tertutup, efisien, dan berkelanjutan.

Semangat belajar peserta terlihat tinggi selama dua hari. Diskusi aktif terjadi mulai dari teknik fermentasi yang tepat, standar kualitas pakan, hingga cara aplikasi pupuk organik ke tanaman.

Di akhir kegiatan, tim dan kelompok tani menyepakati rencana tindak lanjut. Teknologi yang dipelajari akan diterapkan rutin, dan Tim PKM Unasman berkomitmen melakukan monitoring serta pendampingan berkala.

Melalui kegiatan ini, Unasman menegaskan perannya. Tridharma Perguruan Tinggi tidak hanya soal mengajar dan meneliti, tetapi juga mengabdi untuk kesejahteraan masyarakat. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar