Imbas Insiden Keracunan Sudaryono Hentikan Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis Semarang

Kesehatan | 02 Aug 2026 | 09:22 WIB
Imbas Insiden Keracunan Sudaryono Hentikan Operasional Dapur Makan Bergizi Gratis Semarang
Sudaryono menjenguk korban keracunan menu MBG di Semarang.

Uwrite.id - Semarang - Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono memerintahkan penghentian sementara operasional dapur Makan Bergizi Gratis di Semarang. Keputusan itu diambil usai Sudaryono langsung menjenguk korban dugaan keracunan massal pada Kamis. BGN memastikan dapur yang bermasalah disuspend hingga proses investigasi tuntas. Seluruh biaya pengobatan korban juga ditanggung penuh oleh negara sebagai bentuk tanggung jawab program.

Tim dari BGN bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang langsung turun ke lokasi untuk menelusuri penyebab keracunan. Pemeriksaan mencakup kualitas bahan baku, proses pengolahan di dapur, standar kebersihan, hingga durasi distribusi makanan ke penerima manfaat. Langkah cepat ini diambil agar sumber masalah bisa segera diidentifikasi dan tidak berdampak lebih luas ke sekolah serta pesantren lain yang menjadi mitra MBG.

Kasus di Semarang menambah daftar panjang dapur bermasalah secara nasional. Berdasarkan data BGN, dari total 9.406 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang beroperasi di seluruh Indonesia, sebanyak 79 dapur telah diberi sanksi. Sanksinya bervariasi, mulai dari teguran tertulis hingga penutupan sementara tanpa batas waktu sambil menunggu hasil evaluasi. BGN menyebut pengetatan ini perlu dilakukan untuk menjaga standar keamanan pangan program MBG.

Buntut maraknya kasus keracunan, BGN mewajibkan seluruh mitra dapur SPPG melengkapi sejumlah dokumen. Persyaratan baru meliputi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi, sertifikat halal, dan sertifikat kelayakan air bersih. Selain itu, pengelola dapur juga diwajibkan mengikuti pelatihan keamanan pangan. Dapur yang tidak memenuhi syarat tidak akan diizinkan beroperasi kembali meski investigasi sudah selesai.

Sudaryono menegaskan evaluasi tidak hanya berhenti di dapur yang bermasalah. BGN melakukan audit menyeluruh pada rantai produksi MBG, mulai dari pengadaan bahan, penyimpanan, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi ke penerima manfaat. Tujuannya agar program MBG berjalan sesuai standar gizi dan keamanan. BGN juga berkoordinasi dengan Kemenkes dan BPOM untuk memperkuat pengawasan laboratorium terhadap sampel makanan.

Kasus keracunan MBG sebelumnya juga terjadi di beberapa daerah dan memicu kewaspadaan nasional. Di Majalengka misalnya, 22 siswa SMP, SMA dan relawan diduga keracunan setelah menyantap menu MBG dan dapur setempat langsung disuspend. Di Mojokerto, dapur MBG yang melayani 2.679 siswa dari 20 lembaga pendidikan juga dihentikan operasinya setelah ratusan santri mengalami gejala mual, muntah dan diare. Pola ini membuat BGN bergerak cepat menutup dapur bermasalah di berbagai wilayah.

BGN menargetkan 2026 menjadi tahun penguatan kualitas Program Makan Bergizi Gratis. Selain memperketat verifikasi dapur baru, BGN juga akan menambah jumlah tenaga ahli gizi dan ahli keamanan pangan di setiap wilayah. Sudaryono berharap langkah tegas ini bisa mengembalikan kepercayaan publik. "Kami tidak akan kompromi dengan keamanan. Jika ada dapur yang melanggar, pasti kami tindak, bahkan tutup permanen," tegasnya. Dengan evaluasi dan sanksi yang berkelanjutan, BGN berharap MBG bisa menjadi program nasional yang aman, bergizi, dan tepat sasaran bagi anak-anak Indonesia. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar