Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Warga Keluhkan Minimnya Informasi

Peristiwa | 10 Jun 2026 | 09:39 WIB
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250 per Liter, Warga Keluhkan Minimnya Informasi
Gambar Ilustrasi

Uwrite.id - Kebijakan kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang berlaku mulai 10 Juni 2026 menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Harga Pertamax (RON 92) yang sebelumnya Rp12.300 per liter kini naik menjadi Rp16.250 per liter atau mengalami kenaikan sebesar Rp3.950 per liter. Pada saat yang sama, Pertamax Green 95 juga naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Kenaikan tersebut menjadi perhatian publik karena besarnya lonjakan harga dalam satu kali penyesuaian. Di berbagai platform media sosial, banyak warga mengaku terkejut lantaran baru mengetahui perubahan harga setelah melihat unggahan pengguna lain atau saat datang langsung ke SPBU.

Salah satu reaksi datang dari Ririn, warga Tangerang, Banten yang mengaku tidak mengetahui adanya kenaikan harga sebelum melihat unggahan temannya di media sosial. Menurutnya, sehari sebelumnya ia masih membeli Pertamax dengan harga lama.

"Diem-diem bae lo dah, kaya selundupan! Berani naikin, gak berani posting. Kemarin saya beli masih belum naik, tiba-tiba hari ini lihat stori teman udah naik," kata Ririn, Rabu (10/6/26).

Ririn mengaku bukan hanya mempermasalahkan kenaikan harga, tetapi juga minimnya informasi yang diterima masyarakat sebelum kebijakan tersebut diberlakukan. Menurutnya, perubahan harga BBM merupakan kebijakan yang berdampak langsung pada pengeluaran harian warga sehingga seharusnya disampaikan secara terbuka dan masif kepada masyarakat.

Baca Juga: Skandal BBM Oplosan Rp 193,7 Triliun: Dirut Pertamina Patra Niaga dan Anak Riza Chalid Jadi Tersangka

Keluhan serupa juga muncul dari daerah lain. Antok Joko Samudra, warga Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, menyampaikan kritik melalui akun media sosial pribadinya. Antok mempertanyakan alasan yang selama ini sering dikemukakan terkait kondisi keuangan perusahaan, sementara di sisi lain perusahaan masih terlibat dalam berbagai kegiatan promosi dan sponsorship berskala internasional.

"Ngene iki ngomonge rugi terus... rugi tapi mampu nyeponsori MotoGP. Kan koclok," tulis Antok dalam unggahannya.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi merupakan konsekuensi dari mekanisme pasar dan fluktuasi harga minyak dunia. Namun sebagian lainnya mempertanyakan besarnya kenaikan yang terjadi serta efektivitas penyampaian informasi kepada masyarakat.

Berdasarkan daftar harga terbaru, Pertamax menjadi salah satu produk yang mengalami kenaikan paling signifikan. Dengan selisih hampir Rp4.000 per liter, pengguna kendaraan yang rutin mengonsumsi Pertamax diperkirakan harus mengeluarkan biaya tambahan yang cukup besar setiap bulan.

Baca Juga: Pertamina Tegaskan Tak Ada Larangan Mobil 1.400 Cc Isi Pertalite Mulai 1 Juni 2026

Sebagai ilustrasi, pengguna sepeda motor yang menghabiskan sekitar 30 liter Pertamax per bulan kini harus menambah pengeluaran sekitar Rp118.500 setiap bulan. Sementara pemilik mobil yang mengonsumsi sekitar 100 liter per bulan akan menghadapi tambahan biaya hampir Rp395.000 per bulan dibandingkan sebelum kenaikan harga berlaku.

Di tengah berbagai reaksi tersebut, pemerintah dan Pertamina menegaskan bahwa kenaikan hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi. Harga Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan sesuai ketentuan yang berlaku sehingga tidak mengalami perubahan.

Baca Juga: Resmi Berubah! Ini Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina per Oktober 2025

Meski demikian, respons yang muncul dari masyarakat menunjukkan bahwa persoalan harga BBM tidak hanya menyangkut aspek ekonomi semata. Bagi sebagian warga, yang menjadi sorotan adalah bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan kepada publik serta sejauh mana masyarakat memperoleh informasi yang memadai sebelum perubahan harga diberlakukan.

Reaksi yang disampaikan Ririn di Tangerang dan Antok Joko Samudra di Pracimantoro menjadi gambaran bagaimana kenaikan harga Pertamax tidak hanya berdampak pada dompet masyarakat, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai transparansi, komunikasi publik, dan kejelasan alasan di balik kebijakan yang memengaruhi jutaan pengguna BBM nonsubsidi di Indonesia.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar