Harga Minyak US$200/Barel: Fantasi Liar atau Ancaman Nyata Depan Mata?

Uwrite.id - Jakarta - Iran memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi lonjakan harga minyak mentah dunia yang berpotensi menembus US$200 per barel di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Peringatan tersebut muncul setelah militer Iran melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang di kawasan Teluk pada Rabu (11/03).
Berdasarkan unggahan akun Instagram @middleeasteye, komando militer Iran menyatakan Amerika Serikat harus bersiap menghadapi lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel menyusul serangan terhadap tiga kapal di kawasan Teluk yang diblokade.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai peluang harga minyak dunia mencapai US$200 per barel memang ada. Ia memperkirakan kemungkinan tersebut berada di kisaran 40 persen.
"Probabilitas harga minyak naik ke US$200 per barel sekitar 40 persen. Artinya tetap mungkin meski saat ini IEA (International Energy Agency atau Badan Energi Internasional) telah memerintahkan pelepasan cadangan minyak," ungkapnya, Kamis (12/03).
Menurut Bhima, jika dibandingkan dengan krisis minyak pada 1973 saat embargo minyak terjadi, gangguan pasokan saat ini lebih besar. Pada krisis 1973, gangguan pasokan hanya sekitar 7 persen dari stok minyak dunia.
Sementara dalam konflik AS-Israel melawan Iran saat ini, sekitar 20 persen stok minyak dunia disebut berpotensi terganggu.
Ia mengatakan harga minyak bisa melonjak hingga US$200 per barel jika pembatasan di Selat Hormuz terus berlanjut dan serangan terhadap kapal tanker masih terjadi.
Selain itu, eskalasi perang berpotensi makin parah jika yang disasar adalah infrastruktur energi di Iran dan negara-negara Teluk.
Faktor lain yang dapat memicu lonjakan harga adalah jika cadangan minyak yang dirilis oleh IEA tidak cukup untuk menutup penurunan produksi global.
Peluang harga minyak mentah dunia menembus US$200 per barel semakin besar lagi jika pengembangan energi terbarukan sebagai sumber cadangan tidak dipercepat penerapannya.
Senada, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuabi juga menilai peluang harga minyak mencapai US$200 per barel cukup memungkinkan terjadi.
Namun, hal tersebut baru bisa terjadi jika konflik berkembang menjadi perang besar yang melibatkan kekuatan militer secara langsung.
Ia menilai lonjakan harga ekstrem bisa terjadi apabila kilang-kilang minyak di Timur Tengah milik negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Irak menjadi sasaran serangan.
Meski demikian, Ibrahim mengaku belum sepenuhnya yakin harga minyak akan benar-benar mencapai level tersebut. Salah satu faktor yang menurutnya menahan eskalasi adalah langkah Angkatan Laut Amerika Serikat di Selat Hormuz yang penuh kehati-hatian.
"Angkatan Laut Amerika tidak mau mengambil risiko di Selat Hormuz (karena) sampai saat ini ribuan ranjau sudah dipasang oleh pasukan Garda Revolusi Iran," kata Ibrahim.
China di Tengah Konflik Timur Tengah
Di tengah konflik yang berlangsung, China juga menjadi sorotan karena tetap menerima pasokan minyak mentah dari Iran.
Data dari TankerTrackers menunjukkan Iran telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah ke China melalui Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari 2024.
Bhima Yudhistira menilai langkah tersebut menunjukkan kemampuan China menjaga pasokan energi di tengah situasi perang.
Ia memprediksi ke depan Indonesia juga bisa bergantung pada China dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dan energi.
"Ke depan ekonomi Indonesia makin andalkan dukungan dari China, termasuk dalam pembelian berbagai bahan baku dan minyak dengan rute memutar. Biasanya beli dari Timur Tengah langsung, (sekarang) bisa saja impor dari China," kata Bhima.
Sementara itu, Ibrahim Assuabi menyebut China memang dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki kedekatan dengan Iran. Contohnya dalam hal teknologi.
Sebelumnya, muncul laporan yang menyebutkan Iran diduga menggunakan sistem navigasi satelit milik China untuk menargetkan aset militer Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Sejumlah pakar menilai Iran kemungkinan telah mengintegrasikan sistem navigasi China jauh sebelum delapan bulan terakhir.
Mantan direktur intelijen luar negeri Prancis, Alain Juillet, mengatakan dalam podcast independen Prancis Tocsin pekan ini bahwa Iran kemungkinan telah diberi akses ke sistem navigasi satelit BeiDou milik China.
Menurut Juliet, penggunaan BeiDou menjadi penjelasan yang masuk akal atas meningkatnya presisi serangan Iran.
"Kalau China masih bagus karena memang sampai saat ini China salah satu negara pendukung Iran kan. Teknologi-teknologi (yang dipakai Iran, red) semua kan dari China," kata Ibrahim.
Ibrahim juga mengatakan kapal-kapal dari negara tertentu masih dapat melewati Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, Iran bahkan dapat memilah kapal yang melewati jalur tersebut berdasarkan asal negaranya.
"Nah, di situ kan dipilah-pilah juga kapal yang melewati Selat Hormuz. 'Oh iya ini Indonesia, ini China, ini Jepang, ini Korea Selatan, silakan keluar'," ujarnya. (*)

Tulis Komentar