Harga Kelapa Anjlok di Sejumlah Daerah, Petani Terancam Rugi Besar

Peristiwa | 11 May 2026 | 07:23 WIB
Harga Kelapa Anjlok di Sejumlah Daerah, Petani Terancam Rugi Besar
Seorang petani sedang mengupas kelapa hasil panen. (Foto: Istimawa)

Uwrite.id - Nasib petani kelapa di berbagai daerah di Indonesia kian memprihatinkan. Harga jual yang terus anjlok, pembeli yang semakin berkurang, hingga tersendatnya distribusi pasar membuat ribuan petani menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

Kondisi tersebut kini dirasakan petani kelapa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Riau hingga sejumlah daerah sentra perkebunan kelapa lainnya. Komoditas yang selama puluhan tahun menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir dan pedesaan kini justru tak lagi mampu memberikan keuntungan layak bagi petani.

Di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ribuan buah kelapa hasil panen milik petani di Desa Sungai Jawi, Kecamatan Batu Ampar, bahkan terpaksa dibiarkan menumpuk selama berminggu-minggu karena sulit terjual.

Kepala Desa Sungai Jawi, Effendi Sulaiman, mengatakan kondisi pasar kelapa saat ini menjadi salah satu yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pengepul mulai membatasi pembelian karena stok di gudang menumpuk dan belum terserap perusahaan penampung.

“Sekarang kami benar-benar dalam situasi sulit. Harga kelapa murah, pembeli hampir tidak ada,” ujar Effendi Sulaiman dikutip dari Insidepontianak.com, Minggu (10/5/26).

Menurutnya, harga kelapa bulat di tingkat petani saat ini hanya berkisar Rp1.300 per butir. Nilai tersebut jauh dari kata layak jika dibandingkan dengan biaya panen yang terus meningkat.

Baca Juga: Petani Wonogiri Dapat Alsintan Rp5 Miliar dari Program Pemerintahan Prabowo–Gibran

Upah pemanjat kelapa kini mencapai Rp3.500 hingga Rp4.000 per pohon, bahkan di beberapa wilayah bisa mencapai Rp6.500. Artinya, hasil penjualan satu butir kelapa bahkan belum mampu menutupi biaya memanen satu pohon.

Tak hanya kelapa bulat, harga kopra juga ikut anjlok. Saat ini harga kopra hanya berkisar Rp7.000 per kilogram. Padahal proses pengolahannya membutuhkan biaya besar mulai dari pemanenan, pengangkutan, pengupasan, pembelahan hingga pengeringan.

“Kalau jual kopra sekarang, hanya cukup menutup biaya upah. Kalaupun ada untung, sangat tipis,” katanya.

Effendi mengaku kondisi tersebut membuat sebagian petani mulai menahan panen karena khawatir semakin merugi. Namun di sisi lain, buah kelapa yang terlalu lama dibiarkan di kebun juga berisiko bertunas dan tidak lagi memiliki nilai jual.

Ia menilai harga ideal kelapa bulat setidaknya berada di kisaran Rp5.000 per butir dan harga kopra minimal Rp12.000 per kilogram agar petani bisa memperoleh keuntungan yang layak.

“Harga seperti itu pernah kami rasakan beberapa bulan lalu. Tapi sekarang justru jatuh paling parah,” ujarnya.

Kecamatan Batu Ampar dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan kelapa terbesar di Kalimantan Barat. Luas perkebunan kelapa di wilayah tersebut mencapai sekitar 36 ribu hektare dengan produksi puluhan ribu ton setiap tahunnya.

Sebagian besar masyarakat di kawasan pesisir menggantungkan hidup dari hasil perkebunan kelapa. Karena itu, anjloknya harga langsung berdampak terhadap roda ekonomi masyarakat.

“Dari zaman nenek moyang, kelapa jadi andalan ekonomi kami,” kata Effendi.

Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir perputaran uang di desa mulai melambat. Daya beli masyarakat menurun karena pendapatan petani terus menyusut.

Kondisi serupa ternyata tidak hanya terjadi di Kalimantan Barat.

Petani Kelapa di Samuda Juga Menjerit

Di Samuda, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, petani kelapa juga menghadapi situasi yang sama. Harga kelapa yang terus turun membuat komoditas andalan masyarakat itu tak lagi menjanjikan.

Berdasarkan laporan Klikkalteng.id yang diterbitkan Selasa (6/5/26), banyak petani mengeluhkan hasil penjualan yang tidak mampu menutupi biaya operasional kebun. Sebagian warga bahkan mulai mempertimbangkan beralih ke komoditas lain karena keuntungan dari kelapa terus menurun.

Baca Juga: Gibran Minta Maaf ke Jusuf Kalla, Tegaskan Usulan Kenaikan BBM Tak Sejalan Arahan Presiden Prabowo

Padahal selama ini kelapa menjadi salah satu sumber penghasilan utama masyarakat di kawasan pesisir Samuda.

Penurunan harga juga memengaruhi aktivitas perdagangan lokal. Pengepul mengurangi pembelian karena distribusi ke industri pengolahan dan pasar luar daerah ikut melambat.

Situasi tersebut membuat petani semakin terjepit karena hasil panen tidak terserap maksimal.

Dampak Kebijakan dan Pasar Global

Sejumlah petani dan pelaku usaha menilai anjloknya harga kelapa dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari melemahnya pasar global hingga kebijakan pembatasan ekspor yang diterapkan pemerintah.

Pemerintah pusat saat ini tengah mendorong program hilirisasi kelapa agar komoditas tersebut diolah menjadi produk turunan bernilai tambah seperti minyak kelapa, santan, kosmetik hingga produk pangan lainnya.

Namun di lapangan, industri pengolahan dalam negeri dinilai belum siap menyerap seluruh hasil panen masyarakat. Akibatnya stok kelapa menumpuk di tingkat petani dan harga jatuh.

Selain itu, perlambatan permintaan global juga disebut memengaruhi harga jual komoditas kelapa di pasar domestik.

Kondisi tersebut diperparah dengan naiknya biaya produksi, transportasi serta upah tenaga kerja yang membuat margin keuntungan petani semakin tipis.

Petani berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi anjloknya harga kelapa sebelum kondisi semakin memburuk.

Mereka meminta pemerintah membuka kembali akses ekspor secara bertahap sambil mempercepat pembangunan industri hilirisasi di daerah sentra produksi.

Selain itu, petani juga berharap adanya kebijakan perlindungan harga dasar agar harga kelapa tidak jatuh terlalu rendah di tingkat petani.

Menurut mereka, selama ini petani selalu menjadi pihak yang paling terdampak ketika pasar mengalami gejolak.

“Kami ingin ada perlindungan harga minimal supaya petani tidak selalu jadi pihak yang paling dirugikan,” ujar Effendi Sulaiman.

Petani juga meminta pemerintah daerah dan DPRD aktif menjembatani aspirasi masyarakat ke pemerintah pusat agar solusi yang diambil tidak hanya bersifat jangka panjang, tetapi juga mampu menyelamatkan ekonomi petani dalam waktu dekat.

Di tengah semangat hilirisasi yang terus digaungkan pemerintah, para petani berharap kebijakan yang dibuat tetap memperhatikan kondisi masyarakat kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi kelapa nasional.

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar