Haidar Alwi: Menangkal Terorisme Di Kalangan Generasi Muda

Opini | 23 Jun 2023 | 21:34 WIB
Haidar Alwi: Menangkal Terorisme Di Kalangan Generasi Muda

Uwrite.id - IR. R. HAIDAR ALWI, 

Generasi muda ibaratkan sebuah gelas kosong atau gelas yang belum terisi penuh. Bagaimana akhirnya tergantung dari zat apa yang dituangkan hingga gelas tersebut terisi penuh. Akan menjadi hina bila diisi dengan sesuatu yang berbahaya. Sebaliknya, akan menjadi mulia bila dipenuhi oleh sesuatu yang bermanfaat. Itu sebabnya, generasi muda merupakan kalangan yang lebih potensial untuk menjadi teroris. Walaupun sesungguhnya, siapa saja dan dari kalangan apa saja bisa menjadi teroris.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat generasi muda identik dengan internet dan media sosial. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia atau APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia pada kuartal 2 tahun 2020 mencapai 196,7 juta orang. Sebagian besar di antaranya adalah generasi muda. Sehingga, ruang kosong yang ada pada generasi muda menjadi rentan terisi oleh paham-paham yang berbahaya. Peluang ini dimanfaatkan oleh kelompok ekstrimis, radikal dan teroris untuk menyebarkan virus-virus mereka. Mulai dari postingan bernada provokatif yang memancing perdebatan di kolom komentar, bahkan tak jarang saling caci-maki dan menghina. Tidak hanya dari golongan mereka, tapi juga dari akun-akun yang mengaku paling Pancasilais. Dari saling serang ini mereka bisa melihat calon pengikut yang potensial untuk direkrut. Selanjutnya, akan ditindaklanjuti dengan DM (Direct Message) yang persuasif. Seiring berjalannya waktu dan intensnya komunikasi, penanaman paham intoleransi, radikalisme dan terorisme pun berjalan. Termasuk tutorial cara membuat bahan peledak dan merakit bom yang akan digunakan dalam setiap aksi mereka.

Data dari Badan Intelijen Negara atau BIN pada Februari 2021 membeberkan bahwa sekitar 16 ribu aktivitas jaringan terorisme ISIS menggunakan media sosial sebagai sarana propaganda. Sebanyak 160 grup di media sosial digunakan untuk membangun jaringan. Tidak mengherankan bila dalam satu hari setidaknya terdapat 90 ribu konten ISIS yang tersebar di media sosial. Hasilnya apa? Setidaknya 3.400 di seluruh dunia berhasil direkrut ISIS melalui media sosial. Menurut BIN, sasaran utamanya adalah generasi muda yang berusia 17 sampai 24 tahun. Secara keseluruhan, 80 persen dari jumlah kaum muda di Indonesia, rentan terpapar paham berbahaya.

Lalu, siapa saja generasi muda yang terlibat terorisme??? Ada contohnya??? Banyak. Zakiah Aini, perempuan penyerang Mabes Polri belum lama ini masih berusia 26 tahun. Lukman, pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar juga masih berusia 26 tahun. Tendi Sumarno, pria penusuk Bripka Frence di Depok, masih berusia 23 tahun. Rabbila Muslim Nasution, pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Medan masih berusia 24 tahun. Sultan Azianzah, penyerang pos lantas Cikokol Tangerang, berusia 22 tahun. Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriot bahkan masih berusia 18 tahun. Dan masih banyak lagi.

Oleh karena itu, untuk menangkal bahaya intoleransi, radikalisme dan terorisme di kalangan generasi muda, membutuhkan sinergi yang kuat antara Pemerintah dengan segenap elemen masyarakat. Mulai dari membekali diri sendiri dengan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, perbanyak referensi, aktif dalam kegiatan positif, hati-hati memilih organisasi di sekolah dan kampus hingga waspada terhadap ajakan bergabung dengan kelompok pengajian dan ormas tertentu. Sebab, penyebaran paham-paham berbahaya sudah merasuki semua lini kehidupan, tak terkecuali di lingkungan pendidikan. Sering kita dengar dan lihat pemberitaan bahwa beberapa buku-buku pelajaran di sekolah disusupi dengan materi-materi terselubung.

Karenanya, orang tua juga harus memiliki sikap kritis dan meningkatkan kewaspadaan bila melihat gelagat mencurigakan dari anak-anak yang terpapar doktrin berbahaya. Membatasi dan mengawasi kegiatan anak-anak di dunia maya dapat meminimalisir risiko tersebut. Jika orang tua lalai, peran lingkungan sekitar sangat diharapkan. Intinya, saling mengingatkan, bukan malah mengucilkan.

IR. R. HAIDAR ALWI, MT

PRESIDEN HAC-HAIDAR ALWI CARE

TOKOH TOLERANSI INDONESIA

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar