Gunung Anak Krakatau: Dari Letusan 1883 yang Mengguncang Dunia Hingga Kehadiran Daratan Baru

Peristiwa | 24 Sep 2026 | 08:23 WIB
Gunung Anak Krakatau: Dari Letusan 1883 yang Mengguncang Dunia Hingga Kehadiran Daratan Baru
Keterangan foto: Munculnya daratan baru pasca letusan Gunung Anak Krakatau. [Ilustrasi]

Uwrite.id - Rajabasa - Sejarah panjang Gunung Krakatau selalu menyimpan cerita dramatis. Jauh sebelum ada Anak Krakatau, gugusan pulau ini hanya mengalami letusan sedang pada tahun 1680.

Namun, segalanya berubah drastis pada 26 Agustus 1883 pukul 13.00. Ledakan pertama mengirimkan awan abu hitam setinggi 27 km ke langit. Sehari kemudian, pada 27 Agustus pukul 10.00 pagi, puncak letusan terjadi. Suara ledakan terdengar hingga 3.500 km jauhnya di Australia, abu menyembur hingga 80 km, dan tsunami setinggi 37 meter menyapu Jawa dan Sumatra. Sekitar 36.000 orang tewas. Dunia pun mencatatnya sebagai "ledakan yang terdengar di seluruh dunia".

Tidak berhenti di situ, letusan tersebut memuntahkan hampir 21 kilometer kubik batuan dan menebarkan abu seluas 800.000 kilometer persegi. Kawasan sekitar diselimuti kegelapan lebih dari 2 hari, debunya mengelilingi dunia beberapa kali, menciptakan matahari terbenam merah yang dramatis, dan bahkan menurunkan suhu global.

Lahirnya Sang Anak dan Tragedi Tsunami 2018

Setelah masa tenang yang panjang, bumi Selat Sunda kembali bergejolak. Pada Desember 1927, aktivitas baru muncul di dasar laut pada jalur yang sama dengan letusan 1883. Awal 1928, sebuah kerucut mulai menjulang ke permukaan, dan pada 1930 resmi menjadi pulau kecil. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Sejak saat itu, kerucutnya terus tumbuh hingga mencapai 318 meter pada tahun 2018, sebelum akhirnya runtuh drastis akibat erupsi besar dan menyisakan ketinggian hanya 110 hingga 157 meter.

Keruntuhan inilah yang menjadi pemicu tragedi berikutnya. Pada 22 Desember 2018, letusan Anak Krakatau memicu longsornya sisi selatan gunung ke bawah laut. Longsoran itu menggeser volume air laut yang sangat besar dan menciptakan tsunami Selat Sunda yang menghantam Banten dan Lampung hanya 24 menit setelah letusan, menewaskan ratusan orang.

Menariknya, para ahli memberikan penjelasan ilmiah yang mudah dipahami terkait fenomena tersebut.

"Teori utama adalah pergerakan daratan di bawah air. Jadi ketika daratan itu mendorong ke laut... itu menggeser permukaan laut sehingga menyebabkan perpindahan vertikal yang menyebabkan tsunami," ungkap seismolog GNS Science, Sam Taylor-Offord.

Analogi yang lebih sederhana disampaikan oleh ahli geologi gempa, Ben van der Pluijm. "Ketidakstabilan lereng gunung berapi aktif dapat menciptakan longsoran batuan yang menggerakkan sejumlah besar air. Longsoran itu menciptakan gelombang tsunami lokal yang bisa sangat kuat. Peristiwa ini seperti tiba-tiba menjatuhkan sekantong pasir ke dalam bak mandi yang penuh air," jelasnya.

Hingga kini, ancaman itu belum sepenuhnya hilang. "Kemungkinan terjadinya tsunami lebih lanjut di Selat Sunda akan tetap tinggi selama gunung berapi Anak Krakatau masih dalam fase aktifnya," tegas Richard Teeuw dari Portsmouth University.

Di Tengah Sejarah Kelam, Muncul Daratan Baru 30,3 Hektar

Dan di tengah kewaspadaan itulah, sebuah fenomena baru kembali mengejutkan publik. Material erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau ternyata membentuk daratan baru seluas sekitar 30,3 hektar di perairan antara gunung api tersebut dan Pulau Sertung. Temuan ini dikonfirmasi petugas pemantau pada Rabu (23/9/2026).

Daratan ini terbentuk secara bertahap akibat akumulasi lontaran material letusan sejak status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Area endapan berada tidak jauh dari kawah utama dan tercatat dalam pengamatan rutin Pos Pemantauan di Desa Hargo Pancuran.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, pun membenarkan dengan lugas.

"Oh iya, memang benar. Ya, hasil dari letusan kemarin itu. Kurang lebih 30,3 hektar," ujar Suwarno.

Ia menambahkan, lahan baru itu murni tumpukan material saat aktivitas meningkat. "Ya, enggak jauh, di sekitar itu aja. Hasil dari situ, lontaran apa... hasil erupsi kemarin itu di situ," katanya.

Menepis Isu "Cucu" Krakatau Baru

Tentu saja, kemunculan daratan ini langsung memicu spekulasi liar di masyarakat. Banyak yang menduga inilah cikal bakal gunung api baru, atau yang dijuluki "cucu" Krakatau. Namun, pihak pemantau dengan cepat meluruskan isu tersebut.

"Ya, enggak jugalah, enggak," tegas Suwarno saat dikonfirmasi terkait rumor tersebut.

Suwarno menjelaskan dengan bahasa sederhana, magma secara alami akan mencari celah batuan yang paling lemah untuk keluar. "Ya, namanya magma gitu kan, dia mencari celah-celah yang lebih ringan akan keluar. Enggak tahu juga gitu kan, namanya di dalam, di dalam bumi kita enggak tahu," ujarnya.

Hingga kini, belum ada deteksi pergerakan magma yang mengarah ke area daratan endapan tersebut. Material pembentuk lahan baru itu diperkirakan masih terhubung dengan sistem saluran magma utama Anak Krakatau. "Kalau masalah akan keluar cucunya, belum kita ketahui," katanya.

Sebagai informasi tambahan, aktivitas pembentuk daratan ini merupakan dampak dari erupsi terbaru pada Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Sabtu dini hari (5/9/2026) pukul 00.01 WIB. Status Gunung Anak Krakatau sendiri telah diturunkan kembali dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada) sejak Senin (21/9/2026) pukul 18.30 WIB seiring menurunnya kegempaan dan deformasi.

Kendati demikian, masyarakat tetap diminta waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap memberlakukan zona larangan aktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar