Gempa 7,7 Magnitudo di Flores NTT: Risiko Tsunami & Ekonomi

Lingkungan Hidup | 15 Aug 2026 | 07:36 WIB
Gempa 7,7 Magnitudo di Flores NTT: Risiko Tsunami & Ekonomi
5 daerah siaga yang ditetapkan BMKG — Manggarai Utara, Ngada Utara, Manggarai Barat Utara, Sikka Utara, dan Ende Utara — memiliki banyak rumah semi permanen.

Uwrite.id - Ende - Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi (15/08) memicu peringatan dini tsunami dari BMKG. Para pakar bencana nasional dan lokal menilai gempa berkekuatan sebesar itu berpotensi menimbulkan tingkat kerusakan yang signifikan, baik dari sisi infrastruktur maupun dampak sosial.

Kepala BMKG Manggarai Barat, Maria Patrica Seran, menyebut pusat gempa berada di laut Flores dengan kedalaman 10 km. "Dengan magnitudo 7,7 dan kedalaman dangkal, energi yang dilepaskan sangat besar. Ini masuk kategori gempa kuat yang bisa merusak bangunan dalam radius puluhan kilometer," kata Maria.

Dampak Tingkat Nasional: Risiko Rantai Bencana dan Ekonomi

Pakar mitigasi bencana dari BNPB, Dr. Ridwan Hakim, menjelaskan bahwa gempa 7,7 SR secara nasional masuk dalam klasifikasi "major earthquake". Pada skala itu, kerusakan bisa meluas jika tidak segera ditangani.

"Secara nasional, dampaknya bukan hanya di NTT. Kita bicara potensi gangguan logistik antar pulau, jalur pelayaran, bandara, dan distribusi bantuan. Jika pelabuhan Labuan Bajo terdampak, maka rantai pasok ke wilayah timur Indonesia bisa terhambat," ujar Ridwan di Jakarta, Sabtu (15/08).

Ia menambahkan, gempa sebesar ini juga memicu potensi gempa susulan dan tsunami. Dampak ekonomi nasional bisa terasa jika sektor pariwisata di Labuan Bajo lumpuh. "Pemerintah pusat harus menyiapkan skenario pemulihan jangka menengah. Kerusakan infrastruktur vital seperti jalan nasional dan jembatan bisa memutus konektivitas NTT dengan provinsi lain," katanya.

Ridwan menekankan pentingnya status tanggap darurat segera ditetapkan agar dana BNPB dan bantuan lintas kementerian bisa cair cepat. "Kerusakan level nasional ini butuh koordinasi 3 kementerian: PU, Sosial, dan Kesehatan. Kalau lambat, dampaknya akan berlipat," jelasnya.

Dampak Tingkat Lokal: Kerusakan Bangunan dan Permukiman Pesisir

Sementara itu, pakar kebencanaan lokal dari Universitas Nusa Cendana, Dr. Yohanes Laka, menyoroti kerentanan wilayah pesisir Flores bagian utara. Ia menyebut 5 daerah siaga yang ditetapkan BMKG — Manggarai Utara, Ngada Utara, Manggarai Barat Utara, Sikka Utara, dan Ende Utara — memiliki banyak rumah semi permanen.

"Di tingkat lokal, kerusakan paling parah biasanya terjadi pada rumah warga, sekolah, dan puskesmas yang bangunannya tidak tahan gempa. Dengan magnitudo 7,7, kita bisa melihat retak struktural, atap ambruk, bahkan longsor di daerah perbukitan," kata Yohanes.

Menurutnya, masyarakat pesisir juga menghadapi ancaman ganda. Selain kerusakan fisik akibat guncangan, mereka harus menghadapi potensi tsunami. "Jarak 10-15 menit dari pantai ke titik evakuasi itu krusial. Kalau jalur evakuasi rusak karena gempa, maka korban bisa bertambah," ujarnya.

Yohanes mencatat berdasarkan pengalaman gempa Flores 1992, kerusakan lokal bisa mencapai 60-70% pada bangunan di radius 50 km dari episenter. "Pemerintah daerah harus segera melakukan pendataan cepat. Fokusnya: air bersih, tenda, dan layanan kesehatan. Itu yang paling dibutuhkan 72 jam pertama," tegasnya.

Rekomendasi Pakar: Perkuat Struktur dan Edukasi

Kedua pakar sepakat bahwa kunci meminimalkan kerusakan ada pada kesiapsiagaan. Ridwan meminta pemerintah daerah segera mengaudit bangunan publik. "RS, sekolah, kantor bupati harus jadi prioritas. Kalau itu roboh, penanganan bencana akan lumpuh," katanya.

Yohanes menambahkan edukasi masyarakat harus terus dilakukan. "Warga harus tahu beda getaran gempa yang berpotensi tsunami. Jangan menunggu sirine. Begitu goyangan kuat lebih dari 20 detik, langsung ke tempat tinggi," ujarnya.

Hingga pukul 08.30 WITA, BPBD NTT masih melakukan asesmen cepat. Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena telah memerintahkan seluruh bupati di Flores untuk siaga penuh dan mendirikan posko darurat.

BMKG mengimbau masyarakat tetap menjauhi pantai dan mengikuti informasi resmi. Proses pemantauan gempa susulan masih berlangsung dan akan diperbarui setiap 15 menit. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar