FKY 2026 di Sleman: Saat Aksara Menjadi Jalan Membaca Ulang Yogyakarta

Budaya | 08 Sep 2026 | 20:33 WIB
FKY 2026 di Sleman: Saat Aksara Menjadi Jalan Membaca Ulang Yogyakarta
Konferensi Pers Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 di Unit I Pemda Sleman (Any)

Uwrite.id - SLEMAN — Kebudayaan Yogyakarta kembali dibaca melalui sebuah festival. Kali ini, bahasa menjadi pintu masuknya.

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 akan berlangsung di Kabupaten Sleman pada 13–19 September 2026. Mengambil tema “Bahasa” dan tajuk “Aksara”, perhelatan ini dipusatkan di Kompleks Lapangan Pemda Sleman dan dirancang tidak sekadar sebagai panggung pertunjukan.

FKY 2026 ingin membawa masyarakat melihat bahasa sebagai bagian penting dari perjalanan kebudayaan. Di dalam bahasa tersimpan identitas, pengetahuan, sejarah, nilai, sekaligus cara masyarakat memahami perubahan di sekitarnya.

Gambaran mengenai konsep tersebut disampaikan dalam konferensi pers FKY 2026 di Lapangan Beran, Sleman, Selasa (8/9/2026).

Kepala Dinas Kebudayaan DIY atau Kundha Kabudayan, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan pemilihan bahasa sebagai tema tahun ini merupakan kelanjutan dari perjalanan tematik FKY dalam membaca berbagai unsur kebudayaan Yogyakarta.

Menurut dia, FKY sejak 2023 secara bertahap mengangkat unsur yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pangan menjadi tema pada 2023, kemudian benda pada 2024 dan adat istiadat pada 2025.

“Tahun 2026 dengan tema bahasa dan mengambil satu tematik, misalnya aksara,” kata Dian.

Rangkaian tema tersebut akan berlanjut pada 2027 dengan ritual. Dengan demikian, FKY tengah menjalankan sebuah perjalanan tematik yang dirancang untuk membaca kebudayaan Yogyakarta dari berbagai perspektif.

Dian menegaskan, FKY pada akhirnya diharapkan menjadi ruang perjumpaan berbagai produk kebudayaan.

Festival yang Tak Hanya Menyediakan Panggung

Konsep FKY 2026 mencoba memperluas batas festival. Pengunjung tidak hanya akan berhadapan dengan panggung pertunjukan, tetapi juga karya seni yang hadir di berbagai ruang.

Sejumlah program utama disiapkan, mulai dari Pawai Budaya, Pasar Budaya, Panggung Budaya hingga Pameran.

Uniknya, kawasan festival akan diperlakukan sebagai bagian dari karya. Sebanyak sembilan seniman dilibatkan untuk mengolah berbagai sudut kawasan melalui pendekatan seni terapan atau applied art.

Panggung utama FKY 2026 di Lapangan Beran Sleman (Any) 

Karya tersebut akan hadir dalam bentuk yang dekat dengan keseharian pengunjung, seperti rancangan infrastruktur, panggung, papan informasi, dekorasi, area pasar hingga sistem pengelolaan sampah.

Konsep ini membuat batas antara karya seni dan ruang publik menjadi semakin tipis. Pengunjung bukan hanya melihat karya, tetapi berada di dalam ruang yang sejak awal telah dirancang sebagai bagian dari ekspresi artistik.

Kolaborasi juga diperluas dengan melibatkan lima kabupaten/kota di DIY. Setiap harinya, akan muncul karya dan aktivitas berbeda yang dikerjakan bersama antara seniman dan komunitas masyarakat.

Pasar Budaya dengan Tiga Wajah

Ruang ekonomi rakyat juga mendapat tempat dalam FKY 2026. Pasar Budaya dirancang melalui tiga konsep yang berbeda.

Pasar Pangkon menjadi pasar statis yang akan beroperasi sepanjang tujuh hari festival. Sementara itu, Pasar Tematik berada di bagian tengah kawasan dengan empat sisi atau tenda yang diisi secara bergantian oleh perwakilan dari provinsi maupun kabupaten/kota di DIY.

Konsep yang lebih dinamis hadir melalui Pasar Wigyan. Pasar berjalan atau pasar eceran ini ditempatkan di luar area utama dan terdiri atas empat instalasi yang dirancang oleh seniman.

Tidak seperti pasar pada umumnya, instalasi tersebut akan dihidupkan oleh penari melalui konsep pertunjukan performatif.

FKY juga membuka ruang bagi Pasar Saptawara, yang diisi paguyuban UMKM yang selama ini beraktivitas di sekitar kawasan Lapangan Beran.

Kehadiran pasar-pasar tersebut menunjukkan upaya penyelenggara untuk mempertemukan kebudayaan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Festival tidak hanya menjadi tempat mempertontonkan karya, tetapi juga memberi ruang bagi produk dan pelaku ekonomi lokal.

Lima Ubarampe dan Semangat Gotong Royong

Menjelang pembukaan festival, semangat kolaborasi ditandai melalui kegiatan TasakuRUN.

Dalam kegiatan tersebut, FJ Kunting menyerahkan lima ubarampe kepada Kepala Dinas Kebudayaan DIY. Ubarampe itu menjadi simbol keterlibatan empat kabupaten dan satu kota di DIY dalam penyelenggaraan FKY 2026.

Lima ubarampe kemudian dibawa mengelilingi Lapangan Beran dalam kegiatan jogging bersama. Seniman, panitia, media, dan warga turut ambil bagian.

Lima uborampe berupa bambu dan padi sebagai simbol kolaborasi empat kabupaten dan satu kota dalam mensukseskan FKY 2026 (Any)

Tradisi dan aktivitas kontemporer dipertemukan dalam satu kegiatan yang menandai persiapan festival.

Rangkaian TasakuRUN ditutup dengan doa bersama, pemasangan bambu pertama, serta pemotongan tumpeng.

Membaca Yogyakarta Lewat Aksara

Pemilihan “Aksara” sebagai tajuk FKY 2026 menjadi upaya untuk mengajak publik melihat bahasa dengan cara yang lebih luas.

Bahasa bukan sekadar rangkaian kata untuk menyampaikan pesan. Ia menjadi rekaman perjalanan masyarakat, penanda identitas, tempat pengetahuan diwariskan, sekaligus cermin perubahan sosial.

Karena itu, FKY 2026 diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan seniman, budayawan, komunitas, generasi muda, akademisi dan masyarakat.

Dari Sleman, Yogyakarta akan kembali bercerita tentang dirinya sendiri. Kali ini, ceritanya dimulai dari aksara. (Any)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar