Fadli Zon: HKTI Rumah Pertama Prabowo, Mirza Kembali Pimpin HKTI Lampung 2026-2031

Uwrite.id - Bandarlampung - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia HKTI Provinsi Lampung menggelar silaturahmi dan dialog bersama Ketua Dewan Pimpinan Nasional HKTI Fadli Zon di Kinar Resto, Kota Bandar Lampung.
Acara itu sekaligus menjadi momentum konsolidasi pengurus HKTI Lampung menghadapi tantangan pertanian ke depan. Sejumlah tokoh pertanian, akademisi, dan anggota DPRD hadir dalam forum tersebut.
Dalam pertemuan itu HKTI Lampung juga mendeklarasikan dukungan penuh kepada Rahmat Mirzani Djausal sebagai Gubernur Lampung periode 2025-2030. Dukungan disampaikan secara terbuka di hadapan pengurus wilayah dan kabupaten/kota.
Fadli Zon dalam sambutannya menyebut HKTI sebagai organisasi yang lahir dari keresahan petani. Menurutnya, HKTI harus terus menjadi rumah perjuangan bagi petani di seluruh Indonesia.
Ia juga menyinggung sejarah panjang HKTI yang pernah dipimpin Prabowo Subianto. "HKTI ini rumah pertama Pak Prabowo. Dari sinilah beliau belajar tentang persoalan petani," ujarnya.
Kembali ke Kursi Ketua
Di tengah acara, nama Rahmat Mirzani Djausal kembali mengemuka sebagai figur yang dipercaya memimpin HKTI Lampung.
Mirza, sapaan akrabnya, pernah menahkodai HKTI Lampung dalam waktu yang cukup panjang, yakni sejak 2012 hingga 2023. Pengalaman itu dinilai menjadi modal penting untuk melanjutkan konsolidasi organisasi.
"Memimpin HKTI itu tidak mudah. Sektor pertanian ini penuh tantangan dan kompleksitas," kata Mirza dalam sambutannya.
Ia mengakui sudah banyak terobosan yang dilakukan selama memimpin HKTI sebelumnya. Namun menurutnya, program-program itu sulit berjalan maksimal tanpa dukungan kebijakan pemerintah.
Kini dengan statusnya sebagai Gubernur Lampung, Mirza diharapkan bisa menjembatani kepentingan petani dengan kebijakan daerah. Harapannya, HKTI tidak lagi hanya menjadi organisasi wadah, tapi juga mitra strategis pemerintah.
Lead: Momentum Baru HKTI di Bawah Kepemimpinan Mirza
Inilah bagian penting dari pertemuan itu. Setelah melalui diskusi panjang, forum secara aklamasi kembali menunjuk Rahmat Mirzani Djausal untuk memimpin HKTI Lampung periode 2026-2031.
Keputusan itu disambut tepuk tangan peserta. Bagi HKTI Lampung, kembalinya Mirza ke kursi ketua dianggap sebagai momentum baru.
Alasannya sederhana. Mirza saat ini juga menjabat Gubernur Lampung. Posisi ganda itu diyakini akan mempermudah HKTI mengakses kebijakan dan anggaran untuk petani.
Fadli Zon menegaskan, kepemimpinan Mirza harus dilanjutkan karena ia memahami betul denyut nadi pertanian Lampung. "Beliau sudah teruji 11 tahun memimpin HKTI. Sekarang punya kewenangan sebagai gubernur. Ini kombinasi yang langka," kata Fadli.
Dengan begitu, HKTI Lampung berharap bisa lebih agresif dalam memperjuangkan kesejahteraan petani.
Belajar dari Prabowo di HKTI
Mirza dalam pidatonya juga mengungkit kedekatannya dengan Prabowo Subianto di HKTI. Ia menyebut telah mendampingi Prabowo selama hampir 12 tahun di organisasi tersebut.
Menurut Mirza, Prabowo memilih berpolitik lewat jalur pertanian karena memahami persoalan dasar bangsa ada di desa dan di sawah.
"Pak Prabowo memulai dari HKTI. Beliau paham betul bagaimana susahnya petani, bagaimana tata niaganya, bagaimana hilirisasinya," ujar Mirza.
Ia berharap semangat yang sama bisa ditularkan ke pengurus HKTI Lampung saat ini. Terutama kepada kader muda dan anggota legislatif dari unsur pertanian.
"HKTI ini rumah pertama Pak Prabowo. Mari kita jaga semangat itu. Jadikan Lampung sebagai pijakan untuk memajukan pertanian Indonesia," pesannya.
Peran Ganda: Gubernur dan Ketua HKTI
Penunjukan Mirza sebagai Ketua HKTI Lampung 2026-2031 sejalan dengan posisinya sebagai Gubernur Lampung. Ia dilantik bersama Wakil Gubernur Jihan Nurlela oleh Presiden Prabowo pada Februari 2025.
Sebagai kepala daerah, Mirza memang getol memperkuat organisasi petani. Dalam beberapa bulan terakhir ia mengukuhkan pengurus KTNA Lampung 2026-2031 dan ISPI Lampung 2026-2031.
Dalam setiap kesempatan, Mirza menekankan pentingnya hilirisasi produk pertanian. Ia tidak ingin Lampung hanya menjadi pengekspor bahan mentah.
Pemprov juga mulai menyalurkan fasilitas pengering dryer di tingkat kabupaten dan desa untuk menstabilkan harga pascapanen. Targetnya, satu juta hektare lahan pertanian Lampung bisa terjangkau pupuk organik cair gratis.
Langkah-langkah itu sejalan dengan visi HKTI untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
Tantangan ke Depan
Meski optimis, tantangan HKTI Lampung ke depan tidak ringan. Fluktuasi harga, perubahan iklim, dan regenerasi petani masih menjadi PR besar.
Data Pemprov menunjukkan lebih dari 1 juta petani di Lampung menggantungkan hidup dari padi, jagung, dan singkong. Komoditas itu menjadi tulang punggung ekonomi perdesaan.
Mirza menilai, selama ini peningkatan produksi belum tentu diikuti peningkatan kesejahteraan. "Komoditasnya tumbuh, tapi petaninya tetap miskin. Ini yang harus kita benahi," tegasnya.
Karena itu ia mendorong HKTI untuk aktif mengawal kebijakan harga, tata niaga, dan akses teknologi bagi petani.
Di akhir acara, Fadli Zon menutup dengan pesan. Ia meminta HKTI Lampung menjadi barometer nasional dalam mengawal hilirisasi dan menjadi jembatan teknologi bagi petani di pelosok.
Dengan kepemimpinan baru, HKTI Lampung menargetkan Lampung benar-benar menjadi lumbung pangan dan lumbung ternak nasional. (*)

Tulis Komentar