Era Society 5.0: Saat Teknologi Kehilangan Amanah

Ekonomi | 06 Aug 2026 | 15:55 WIB
Era Society 5.0: Saat Teknologi Kehilangan Amanah
Teknologi boleh semakin canggih, tetapi tanpa amanah, ia bisa berubah menjadi alat manipulasi. Kepercayaan adalah kunci, amanah adalah fondasinya.

Uwrite.id - Oleh: Lis Tatin Hernidatiatin, Mahasiswa PDIM Angkatan 13 Unissula Semarang

Masyarakat dunia tengah memasuki era Society 5.0, sebuah konsep yang diperkenalkan Jepang untuk mewujudkan masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered society) melalui integrasi ruang fisik dan ruang siber dengan dukungan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), big data, Internet of Things (IoT), dan teknologi digital (Fukuyama, 2018). Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang lebih menitikberatkan pada otomatisasi dan efisiensi, Society 5.0 menempatkan teknologi sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan manusia sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

Namun, realitas yang berkembang justru menghadirkan sebuah paradoks. Ketika teknologi berkembang semakin canggih, kepercayaan masyarakat terhadap ruang digital justru semakin rapuh. Fenomena ini kemudian menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah teknologi benar-benar memanusiakan manusia, atau justru menjadikan manusia sebagai objek eksploitasi dalam ekonomi digital?

Paradoks tersebut tampak jelas dalam berbagai peristiwa yang terjadi. Misalnya, pada awal 2025, Kepolisian Republik Indonesia mengungkap kasus penipuan menggunakan teknologi deepfake yang mencatut wajah Presiden Prabowo Subianto untuk meyakinkan korban agar mentransfer sejumlah uang. Kasus tersebut menunjukkan bahwa kemajuan AI, selain menghadirkan inovasi, juga membuka ruang manipulasi yang semakin sulit dikenali masyarakat.

Selain itu, berbagai insiden kebocoran data pribadi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir turut meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan informasi digital. Data yang seharusnya menjadi hak privat konsumen justru dapat berubah menjadi komoditas ekonomi yang diperjualbelikan tanpa persetujuan yang jelas.

Krisis kepercayaan juga diperparah oleh praktik dark patterns, yaitu desain antarmuka aplikasi atau situs web yang sengaja dibuat untuk memengaruhi keputusan pengguna melalui manipulasi psikologis. Pengguna dapat diarahkan untuk memberikan persetujuan, membagikan data pribadi, atau berlangganan suatu layanan tanpa sepenuhnya memahami konsekuensi yang akan mereka hadapi.

Penelitian Zac, dkk. (2025) menunjukkan bahwa dark patterns mengeksploitasi bias psikologis pengguna sehingga mengurangi otonomi konsumen dalam mengambil keputusan. Sementara itu, Fagan (2024) menjelaskan bahwa algoritma digital modern memanfaatkan berbagai mekanisme psikologis seperti fear of missing out (FOMO), social proof, dan default effect untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.

Fenomena lain yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah maraknya penipuan melalui media sosial, marketplace, dan aplikasi pesan instan. Modus penipuan yang memanfaatkan AI, otomatisasi, serta rekayasa sosial (social engineering) semakin sulit dibedakan dari transaksi yang sah. Masyarakat pun mulai mempertanyakan keamanan transaksi digital, meskipun teknologi pembayaran dan perdagangan elektronik terus berkembang.

Melihat berbagai fenomena tersebut, persoalan terbesar di era Society 5.0 sesungguhnya bukan kekurangan teknologi, melainkan krisis kepercayaan. Teori pemasaran modern, Morgan dan Hunt (1994), melalui The Commitment-Trust Theory of Relationship Marketing, menegaskan bahwa kepercayaan (trust) merupakan fondasi utama dalam membangun hubungan jangka panjang antara perusahaan dan pelanggan. Tanpa kepercayaan, loyalitas pelanggan akan menurun, biaya transaksi meningkat, dan hubungan bisnis menjadi semakin rapuh.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Mayer, Davis, dan Schoorman (1995) yang menjelaskan bahwa kepercayaan dibangun atas tiga unsur utama, yaitu ability (kompetensi), benevolence (niat baik), dan integrity (integritas). Dalam konteks ekonomi digital, perusahaan mungkin memiliki kemampuan teknologi yang sangat tinggi. Namun, apabila kehilangan integritas dalam mengelola data pelanggan, memanfaatkan algoritma secara tidak transparan, atau membiarkan praktik manipulatif berkembang, kepercayaan konsumen pada akhirnya akan hilang.

Persoalan ini semakin relevan ketika dikaitkan dengan konsep Marketing 5.0. Menurut Kotler, Kartajaya, dan Setiawan (2021), teknologi digital seharusnya digunakan untuk kepentingan manusia (technology for humanity), bukan semata-mata untuk mengejar efisiensi dan keuntungan.

Sayangnya, dalam praktik bisnis digital dewasa ini, masih banyak perusahaan yang menempatkan data konsumen sebagai aset ekonomi yang dapat dimonetisasi. Orientasi tersebut menyebabkan inovasi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan etika. Kritik terhadap kondisi tersebut juga disampaikan oleh Martin & Murphy (2017), yang menegaskan bahwa perlindungan data pribadi telah menjadi isu sentral dalam pemasaran modern.

Penyalahgunaan data konsumen bukan hanya melanggar hak privasi, tetapi juga mengikis kepercayaan terhadap perusahaan dan platform digital. Ketika konsumen merasa tidak memiliki kendali atas informasi pribadinya, mereka akan semakin enggan membangun hubungan jangka panjang dengan penyedia layanan digital.

Ketika Teknologi Kehilangan Amanah

Paradoks Society 5.0 sesungguhnya terletak pada lemahnya fondasi moral dalam pemanfaatan teknologi. Inovasi berkembang sangat cepat. Perusahaan berlomba mengembangkan AI yang semakin cerdas, namun pada saat yang sama tidak jarang mengabaikan etika dan tanggung jawab moral terhadap masyarakat.

Akar persoalan tersebut dapat dipahami melalui konsep amanah. Amanah, sebagai prinsip dapat dipercaya, merupakan tanggung jawab moral untuk menjaga hak orang lain, berlaku jujur, transparan, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan yang dimiliki.

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. An-Nisa ayat 58: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil."

Rasulullah saw. juga bersabda: "Tidak beriman seseorang di antara kamu jika dia tidak dapat dipercaya, dan tidak sempurna agamanya orang yang tidak menepati janji" (H.R. Ahmad).

Ayat dan hadis tersebut menegaskan bahwa amanah merupakan syarat utama kesempurnaan iman yang berlaku kapan saja dan dalam kondisi apa pun, termasuk di dalam sistem ekonomi dan keuangan yang paling maju sekalipun.

Dalam konteks Society 5.0, data pribadi konsumen, algoritma, dan kecerdasan buatan adalah amanah. Ketika perusahaan menggunakan teknologi untuk melindungi kepentingan konsumen, teknologi menjadi sarana kemaslahatan. Sebaliknya, ketika teknologi digunakan untuk memanipulasi perilaku, mengeksploitasi kelemahan psikologis pengguna, atau mengabaikan hak privasi, maka amanah telah dilanggar.

Menurut Al-Attas (1995), akar berbagai krisis modern adalah loss of adab, yaitu hilangnya kemampuan manusia untuk menempatkan sesuatu pada posisi yang benar sesuai dengan tujuan penciptaannya. Di dunia digital, hilangnya adab tampak ketika teknologi tidak lagi dipandang sebagai sarana untuk melayani manusia, tetapi justru menjadi alat untuk mengendalikan, memengaruhi, bahkan mengeksploitasi manusia demi keuntungan ekonomi. Kondisi inilah yang kemudian melahirkan krisis kepercayaan sekaligus krisis moral.

Membangun Ekosistem Digital Berbasis Amanah

Untuk menjawab krisis kepercayaan tersebut, dibutuhkan pembangunan ekosistem digital yang berlandaskan amanah. Pemerintah perlu memperkuat tata kelola perlindungan data pribadi dan regulasi AI. Perusahaan harus menerapkan transparansi algoritma, memperjelas penggunaan data konsumen, serta menjadikan etika sebagai bagian integral dari strategi bisnis.

Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan juga memiliki peran penting untuk mengintegrasikan literasi digital dengan pendidikan etika. Tujuannya bukan hanya agar masyarakat cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu bersikap bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkannya.

Pada akhirnya, keberhasilan Society 5.0 tidak ditentukan oleh seberapa canggih kecerdasan buatan yang berhasil dikembangkan, tetapi oleh seberapa besar teknologi mampu memperkuat martabat manusia.

Kepercayaan merupakan modal utama ekonomi digital, sedangkan amanah adalah fondasi yang menjaga kepercayaan tersebut tetap hidup. Ketika amanah menjadi prinsip dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi, Society 5.0 tidak sekadar melahirkan masyarakat yang cerdas secara digital, tetapi juga masyarakat yang beradab, berkeadilan, dan bermartabat.(*)

 

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar