Dirjen Hubla Seharusnya Mundur, Dua Laka Kapal Terbakar, KMP Mutiara Sentosa II dan KMP Putri Yasmin Waktu Berdekatan

Peristiwa | 12 Aug 2026 | 11:50 WIB
Dirjen Hubla Seharusnya Mundur, Dua Laka Kapal Terbakar, KMP Mutiara Sentosa II dan KMP Putri Yasmin Waktu Berdekatan
Capt Tony Adam menegaskan kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di Sumenep dan KMP Putri Yasmin di Laut Lombok harus jadi titik balik.

Uwrite.id - Padang Bai - Kecelakaan dua kapal penumpang yang terbakar dalam waktu berdekatan kembali menyorot keselamatan pelayaran nasional. KMP Mutiara Sentosa II terbakar di perairan Sumenep, Jawa Timur dan KMP Putri Yasmin terbakar di perairan Laut Lombok, Nusa Tenggara Barat. Peristiwa ini menimbulkan kepanikan dan korban luka di kalangan penumpang.

Pengamat Perhubungan Laut Capt Tony Adam menilai dua kejadian ini bukan musibah tunggal. "Kalau dalam waktu berdekatan ada dua kapal terbakar, ini jelas indikasi ada masalah sistemik di pengawasan dan penegakan standar keselamatan," ujar Capt Tony Adam.

Menurut Capt Tony Adam, kebakaran kapal biasanya berawal dari hal-hal mendasar seperti kelistrikan, dapur, hingga penanganan bahan berbahaya. "Kalau audit kelaikan benar-benar ketat, risiko ini bisa ditekan jauh lebih awal," tegasnya.

Capt Tony Adam juga menyoroti tanggung jawab pimpinan di Ditjen Perhubungan Laut. "Secara ksatria seharusnya mundur. Jabatan itu amanah. Ketika terjadi kejadian berulang di bawah komando, mundur adalah bentuk tanggung jawab moral," katanya.

Ia menambahkan, mundur tidak sama dengan bersalah secara hukum. "Ini soal etika. Pejabat publik harus memberi contoh bahwa keselamatan rakyat lebih penting dari jabatan," ucap Capt Tony Adam.

Dari sisi operasional, Capt Tony Adam mengkritik lemahnya fungsi syahbandar di pelabuhan. "Petugas harus berani menolak kapal yang belum lolos uji kelaikan. Jangan karena alasan keterlambatan jadwal lalu keselamatan dikompromikan," jelasnya.

Ia mendesak audit menyeluruh terhadap seluruh armada kapal Ro-Ro dan kapal penumpang. "Buka semua data hasil inspeksi ke publik. Transparansi ini penting agar masyarakat dan media bisa ikut mengawasi," kata Capt Tony Adam.

Capt Tony Adam juga menyinggung soal SDM awak kapal. "Pelatihan penanganan kebakaran, penggunaan APAR, dan prosedur evakuasi harus diuji secara berkala. Jangan hanya di atas kertas," ujarnya.

Pengamat kebijakan publik Yusack Sahrobi yang turut berkomentar menyebut pola ini berulang. "Setiap ada kecelakaan besar muncul janji evaluasi. Setelah itu senyap sampai kejadian berikutnya. Publik sudah lelah," katanya.

Yusack Sahrobi sependapat dengan Capt Tony Adam bahwa pejabat harus memberi contoh. "Di negara lain, menteri atau dirjen mundur setelah kecelakaan besar. Itu bukan lemah, itu menunjukkan negara serius melindungi warganya," ujarnya.

Capt Tony Adam menekankan regulasi sudah ada, tinggal keberanian mengeksekusi. "Operator nakal harus dicabut izinnya. Perusahaan yang abai keselamatan masuk daftar hitam. Jangan tebang pilih," tegasnya.

Sebagai penutup, Capt Tony Adam menegaskan kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di Sumenep dan KMP Putri Yasmin di Laut Lombok harus jadi titik balik. "Kalau tidak ada yang bertanggung jawab dan mundur, kita hanya akan menunggu kapal terbakar berikutnya," pungkasnya. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar