Di Balik Menara Gemuk Tambakberas: Ada Pesan "Kemerdekaan Sempurna" dari Sang Kiai

Uwrite.id - Jombang - Kalau kamu masuk ke kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, mata pasti langsung tertuju ke satu bangunan. Bukan gedung pesantrennya yang megah. Tapi sebuah masjid tua dengan menara yang bentuknya "ndak biasa".
Menaranya tidak ramping menjulang seperti kebanyakan masjid. Bentuknya justru pendek, gemuk, dan kokoh. Warga sekitar menyebutnya "Menara Tambakberas". Di balik bentuknya yang sederhana itu, tersimpan cerita panjang tentang Islam, pendidikan, dan darah para pejuang.
Dibangun dari Kebutuhan Santri yang Makin Banyak
Masjid Jami’ Bahrul Ulum ini sudah berdiri lebih dari 140 tahun. Awalnya didirikan sekitar tahun 1884 oleh KH. Chasbullah Said, ayah dari KH. Wahab Hasbullah.
Dulu namanya belum Bahrul Ulum. Pesantren ini masih disebut Pondok Selawe, karena santrinya cuma 25 orang. Seiring waktu, jumlah santri meledak. Akhirnya tahun 1910-1914 masjid ini direnovasi besar-besaran agar bisa menampung jamaah.
Bangunannya masih mempertahankan gaya Jawa klasik. Kotak, atap tumpang, dan 4 tiang saka jati yang sampai sekarang masih berdiri. Katanya, tiang itu hadiah dari Residen Belanda. Ceritanya unik. Dulu KH. Wahab Hasbullah muda pernah "nyalip" kereta kencana Residen di Ringin Contong. Bukannya dihukum, Residen malah memberi kayu jati terbaik untuk pembangunan masjid.
Dari Mimbar ke Medan Perang
Tapi fungsi masjid ini tidak berhenti di mimbar dan sajadah.
Masuk tahun 1942, suasana berubah. Belanda dan Jepang datang. Dan Masjid Bahrul Ulum berubah fungsi. Dari tempat ngaji, jadi markas.
Di sinilah KH. Wahab Hasbullah menggembleng para santri. Pagi ngaji tafsir, sore latihan pencak silat di halaman. Malamnya rapat strategi. Bahkan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, beberapa kali datang untuk menyusun siasat perang.
"Masjid ini saksi bagaimana santri tidak hanya pegang kitab, tapi juga pegang bambu runcing," ujar salah satu pengurus pesantren.
Momentum paling diingat adalah menjelang Pertempuran 10 November. Dari masjid inilah para pemuda Tambakberas berangkat dengan semangat "Hubbul Wathon Minal Iman".
Rahasia di Puncak Menara
Nah, bagian yang paling bikin merinding ada di menaranya.
Di dindingnya terukir 4 huruf Arab: خ ر ت م. Kalau disambung dibaca "Khuruun Taammiim". Artinya: Kemerdekaan yang Sempurna.
Huruf itu ditulis tangan oleh KH. Chasbullah Said jauh sebelum Indonesia merdeka. Beliau lalu menutupnya dengan kain satir dan berwasiat: "Kalau aku wafat, suruh Wahab buka tahun 1948."
Benar. Beberapa bulan setelah KH. Chasbullah wafat, tahun 1948 wasiat itu dibuka. Saat kain satir dibuka, para santri kompak membaca Shalawat Burdah. Setahun sebelumnya Indonesia sudah merdeka, dan tahun itu pula pengakuan dunia mulai berdatangan.
Bagi kiai dan santri, itu bukan kebetulan. Itu isyarat. Bahwa perjuangan pasti akan berbuah.
Masih Berdiri, Masih Bernapas
Di tahun ini, 2026, masjid itu masih berdiri. Masih dipakai shalat lima waktu. Masih dipakai ngaji santri. Menaranya masih kokoh meski katanya dibangun tanpa besi sama sekali.
Tahun lalu, saat peringatan 2 Abad Bahrul Ulum, ribuan orang datang. Mereka tidak hanya ziarah. Mereka datang untuk mengingat bahwa kemerdekaan ini ada harganya.
Dan harga itu, sebagian dibayar dari lantai masjid tua di Tambakberas.
Menara gemuk itu kini tidak lagi untuk adzan. Ada toa di atasnya. Tapi pesannya masih menggema: Khuruun Taammiim. Kemerdekaan yang sempurna. (*)
*) Referensi: Siar Jombang id, JoinMedia, BahrulUlum id, Wikipedia

Tulis Komentar