Di Antara Cahaya Tarawih, Harapan Itu Datang ke Cintaratu

Peristiwa | 24 Feb 2026 | 20:33 WIB
Di Antara Cahaya Tarawih, Harapan Itu Datang ke Cintaratu
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat mengunjungi rumah salah seorang penerima bantuan Rutilahu, Senin, 23 Februari 2026. (Foto: Istimewa)

Uwrite.id - Langit malam di Desa Cintaratu, Kecamatan Lakbok, belum sepenuhnya larut ketika rombongan tarawih keliling Pemerintah Kabupaten Ciamis tiba. Di sela lantunan doa dan langkah warga menuju masjid, ada cerita lain yang pelan-pelan menguat—tentang rumah, tentang harapan, dan tentang perhatian yang akhirnya datang.

Malam itu, Senin, 23 Februari 2026, dua rumah sederhana menjadi tujuan langkah Bupati Ciamis, . Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan penyerahan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) kepada dua warganya: Supriyatin dan Sati.

Rumah Supriyatin berdiri dengan segala keterbatasannya. Dinding yang mulai rapuh dan bagian atap yang tak lagi sepenuhnya melindungi menjadi saksi keseharian yang dijalani dengan apa adanya. Tak jauh berbeda, rumah Sati—seorang janda dengan tiga anak—menyimpan cerita perjuangan yang lebih sunyi. Di ruang sempit itu, ia membesarkan harapan, meski kondisi rumah sering kali tak berpihak.

Bantuan sebesar Rp20 juta untuk masing-masing penerima, yang bersumber dari dana tanggung jawab sosial perusahaan milik , menjadi titik balik yang dinanti. Bukan hanya soal angka, tetapi tentang kemungkinan memperbaiki ruang hidup agar lebih aman dan layak.

Di hadapan warga, Herdiat menegaskan bahwa program Rutilahu bukan sekadar agenda rutin, melainkan ikhtiar bertahap menghadirkan hunian yang manusiawi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

“Bantuan ini adalah bentuk perhatian pemerintah. Kami berharap dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memperbaiki rumah,” ujarnya.

Namun malam itu, yang terasa bukan hanya pesan formal pemerintah. Ada kehangatan yang lebih dekat, ketika seorang kepala daerah berdiri di depan rumah warganya, menyapa langsung, dan melihat sendiri kondisi yang selama ini hanya tercatat dalam laporan.

Sati tak mampu menyembunyikan harunya. Ia mengaku tak pernah membayangkan akan menerima bantuan langsung, apalagi diserahkan di tengah aktivitas tarawih yang biasa ia jalani.

“Saya sangat bersyukur. Bantuan ini sangat berarti bagi kami,” ucapnya lirih.

Tarawih keliling, yang lazimnya menjadi ruang silaturahmi antara pemerintah dan masyarakat, malam itu menjelma menjadi jembatan yang lebih konkret—menghubungkan kebijakan dengan kebutuhan nyata.

Di Desa Cintaratu, cahaya lampu rumah mungkin belum sepenuhnya terang. Namun malam itu, di antara doa-doa yang melangit, dua keluarga membawa pulang sesuatu yang lebih dari sekadar bantuan: harapan untuk hidup yang lebih layak.***

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar