Degup Jantungku Berdetak Kencang, Penampakan di Balik Pemakaman Perempuan Jumbo Berbobot 300Kg di Sragen

Uwrite.id - Sragen - Siang itu matahari Sragen terasa menyengat di atas pemakaman desa. Kabar duka datang sejak pagi, seorang perempuan dengan berat badan sekitar 300 kg meninggal dunia di rumahnya. Warga berbondong-bondong datang, sebagian membawa payung, sebagian lagi menutup kepala dengan sarung. Aku ikut berdiri di barisan paling belakang, menatap rumah duka yang ramai.
Yang jadi perbincangan bukan hanya kepergiannya. Tapi bagaimana cara memakamkannya. Peti jenazah biasa jelas tidak akan muat, dan tenaga warga juga tidak akan kuat. Akhirnya perangkat desa memutuskan menghubungi Damkar dan menyewa crane. Ini pertama kalinya TPU di desa kami memakai alat berat.
Sekitar pukul 11.00 siang, dua truk Damkar tiba dengan sirine pelan. Turun sekitar 30 petugas dengan seragam lengkap dan wajah serius. Mereka langsung berkoordinasi dengan penggali kubur untuk mengukur ulang liang lahat. Liang itu dibuat jauh lebih lebar dan dalam dari ukuran normal.
Crane warna kuning diparkir di pinggir makam. Talinya diuji berulang kali, karena tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Jenazah dibaringkan di atas peti khusus dari papan tebal yang diperkuat besi. Enam orang mengangkatnya ke atas truk bak terbuka dengan bantuan petugas.
Aku melihat dari dekat, keringat bercucuran di wajah para petugas. Beban itu bukan hanya berat secara fisik, tapi juga emosional. Keluarga almarhumah menangis sejadi-jadinya, memanggil nama beliau berulang kali. Suasana haru bercampur tegang menyelimuti halaman rumah.
Prosesi berjalan pelan menuju TPU yang jaraknya sekitar 500 meter. Jalanan ditutup sementara, warga berdiri di pinggir sambil merekam. Anak-anak kecil mengintip dari balik pagar, lalu ditarik ibunya karena takut. Aku ikut berjalan kaki, jantungku berdetak kencang tanpa sebab.
Sesampainya di pemakaman, semua orang diminta mundur dan memberi jarak. Petugas Damkar memasang crane tepat di atas liang lahat. Operator crane memberi aba-aba dengan peluit, suaranya memecah keheningan siang. Angin bertiup pelan, membawa debu tanah galian.
Proses penurunan peti dimulai. Peti digantung perlahan, berayun sedikit karena angin. 30 petugas berjaga di sekeliling, sebagian memegang tali pengarah, sebagian siap sedia. Aku menahan napas, takut kalau terjadi apa-apa di tengah proses.
Tiba-tiba salah satu tali pengarah tersangkut di ujung liang. Beberapa petugas langsung berteriak memberi aba-aba agar crane berhenti. Jantungku rasanya mau copot. Setelah beberapa detik menegangkan, tali berhasil diurai dan penurunan dilanjutkan.
Saat peti menyentuh dasar liang, semua orang spontan mengucap "Alhamdulillah". Beban berat itu akhirnya turun dengan selamat. Beberapa petugas duduk di tanah, kelelahan dan memegangi bahu. Ini mungkin penurunan jenazah terberat yang pernah mereka lakukan.
Tanah mulai diturunkan dengan sekop dan bantuan ekskavator kecil. Setiap gumpal tanah jatuh terdengar jelas. Keluarga berdiri di depan liang, menabur bunga dan menyiram air mawar. Aku hanya bisa diam, mengingat almarhumah yang dulu ramah ke semua orang.
Di tengah prosesi, angin kencang datang dari arah barat. Plastik dan daun kering beterbangan. Beberapa ibu-ibu refleks menutup wajah dan membaca istighfar. Tidak ada yang berani bicara, hanya suara komando petugas yang terdengar.
Seorang petugas Damkar berbisik ke rekannya, "Ini baru pertama kali kita pakai crane buat ngubur orang." Yang satunya mengangguk sambil mengelap keringat. Mereka terlihat bangga tapi juga lega karena tugas selesai tanpa insiden.
Setelah tanah rata, dilanjutkan tahlil bersama di bawah tenda darurat. Panas matahari tidak menyurutkan warga untuk tetap duduk. Yasin dan doa dipanjatkan untuk almarhumah. Aku ikut mengaminkan, sambil sesekali melirik ke arah crane yang masih terparkir.
Pak modin memberi tausiyah singkat tentang sabar dan ikhlas. Ia juga mengapresiasi kerja keras Damkar dan warga. "Ini bukti gotong royong kita masih hidup," katanya. Semua mengangguk setuju.
Sebelum pulang, aku sempat melihat keponakan almarhumah duduk di samping nisan. Dia bercerita kalau almarhumah beberapa hari terakhir sering bilang capek dan ingin istirahat. Keluarga awalnya mengira itu karena sakit. Ternyata itu pamit.
Aku berjalan pulang dengan langkah pelan. Punggung masih terasa pegal karena berdiri lama di bawah matahari. Tapi yang lebih melekat di kepala adalah suara crane dan komando petugas siang tadi. Suasana yang tidak akan kulupakan.
Di rumah, aku langsung minum dan rebahan. Tapi mata masih susah terpejam, membayangkan beratnya peti dan tali yang menegang. Baru kali ini aku sadar betapa rapuhnya manusia. 300 kg, tapi akhirnya tetap kembali ke tanah.
Malamnya aku mimpi liang lahat itu. Tidak ada yang aneh, hanya tanah merah yang rapi. Mungkin karena lelah. Tapi mimpi itu membuatku makin yakin untuk banyak-banyak berdoa.
Keesokan harinya warga kembali ziarah. Makam sudah ditandai dengan nisan sementara dan payung. Tidak ada kejadian ganjil. Hanya ketenangan. Damkar pamit pulang, meninggalkan bekas roda di tanah.
Sampai sekarang, kalau ada yang tanya pemakaman paling berkesan, aku jawab yang itu. Bukan karena seram. Tapi karena di siang bolong, 30 orang dan sebuah crane harus bekerja sama untuk menurunkan satu peti. Dan di saat itulah aku sadar, manusia sekuat apa pun, akhirnya butuh tolong orang lain untuk dimakamkan. (*)

Tulis Komentar