Deforestasi Tesso Nilo: Ancaman Sawit bagi Konservasi Riau

Uwrite.id - Bayangkan sebuah hutan yang dulunya menjadi rumah bagi gajah dan harimau sumatera, yang menyimpan lebih dari 218 spesies tumbuhan vaskular salah satu yang tertinggi di dunia kini tersisa hanya seperlimanya. Bukan karena bencana alam, bukan karena kebakaran spontan, tetapi karena hamparan hijau itu perlahan berubah menjadi kebun sawit, satu pohon demi satu pohon, satu hektar demi satu hektar.
Inilah yang terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Ketika Komoditas Bertemu Kawasan Konservasi

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa sawit adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Negeri ini menyumbang sekitar 59 persen produksi minyak sawit dunia, dan Riau saja berkontribusi hampir 29 persen dari total produksi nasional. Sawit membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi desa, dan menjadi sumber devisa yang tidak kecil.
Tetapi di balik angka-angka itu, ada cerita lain yang jarang terdengar.
Di sekitar Tesso Nilo, dalam rentang hanya sepuluh tahun (2005-2015), tutupan hutan menyusut dari 70.553 hektar menjadi 18.043 hektar. Lebih dari 52.000 hektar wilayah yang hampir setara dua kali luas Kota Pekanbaru berubah fungsi menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman baru. Perubahan terbesar terjadi antara 2006 hingga 2009, ketika sekitar 28.120 hektar hutan lenyap hanya dalam tiga tahun.
Yang lebih mengkhawatirkan, konversi lahan ini bukan hanya masalah angka statistik. Ia adalah hilangnya fungsi ekologis yang selama ini menopang kehidupan: sumber air, habitat satwa, penyerap karbon, dan pelindung dari bencana.
Desa yang Tampak Sejahtera, Tapi Rentan
Di dua desa yang berbatasan langsung dengan Tesso Nilo Lubuk Kembang Bunga dan Air Hitam masyarakat memang merasakan peningkatan pendapatan dari kebun sawit. Lebih dari 80 persen pendapatan rumah tangga kini berasal dari perkebunan sawit. Angka itu terdengar seperti keberhasilan. Tapi di sinilah letak persoalannya.
Sebelum sawit mendominasi, masyarakat hidup dengan beragam sumber penghidupan: berkebun karet, berladang padi, memanfaatkan madu hutan, rotan, dan damar. Sistem nafkah yang beragam itu adalah penyangga alami ketika satu sumber gagal ada sumber lain yang bisa diandalkan.
Kini, sistem itu nyaris hilang. Ketika harga sawit jatuh di pasar global, tidak ada jaring pengaman. Pendapatan langsung anjlok. Rumah tangga lapisan bawah bahkan mencatat pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan mereka. Dan yang memperparah keadaan, lahan yang dulu ditanami pangan kini sudah penuh sawit, sehingga kebutuhan pangan pun harus dipasok dari luar.
Desa tampak sejahtera, tetapi sebenarnya makin rapuh.
Siapa yang Masuk ke Hutan?
Satu hal yang sering luput dari pemberitaan: ekspansi ilegal ke dalam Taman Nasional Tesso Nilo sebagian besar bukan dilakukan oleh masyarakat lokal asli. Berdasarkan informasi dari otoritas taman nasional dan WWF, para perambah umumnya adalah pendatang dari luar daerah yang masuk melalui jalan-jalan yang dulunya dibangun oleh perusahaan HPH (Hak Penguasaan Hutan).
Masyarakat lokal justru merasa dirugikan dua kali: hutan yang mereka jaga rusak, dan nama mereka yang terseret dalam tuduhan perusakan. Seorang warga Lubuk Kembang Bunga bahkan berkata, "Kami hanya dirugikan saja dengan adanya berita di luar yang mengatakan bahwa kami wargalah yang merusak hutan, padahal kami warga asli tidak berani masuk."
Ini adalah soal tata kelola yang gagal lemahnya penegakan hukum, ketidakjelasan batas kawasan, dan absennya negara di garis terdepan.
Bukan Hitam atau Putih
Perdebatan soal sawit sering terjebak dalam dua kutub yang saling berlawanan: sawit sebagai penyelamat ekonomi, atau sawit sebagai perusak lingkungan. Kenyataannya jauh lebih rumit dari itu.
Ada studi yang menunjukkan peningkatan nyata pada kesejahteraan keluarga petani sawit pendapatan lebih tinggi, aset bertambah, anak bisa sekolah lebih lama. Ada pula studi yang membuktikan bahwa sawit mempercepat deforestasi, menekan biodiversitas, dan menciptakan ketimpangan baru di desa.
Keduanya bisa benar secara bersamaan, tergantung di mana, bagaimana, dan oleh siapa sawit dikelola.
Yang berbahaya bukan sawit itu sendiri, melainkan ekspansi yang tidak dikelola yang masuk ke kawasan konservasi tanpa pengawasan, yang menggantikan keberagaman nafkah dengan satu sumber tunggal, dan yang mengabaikan dampak jangka panjang demi keuntungan jangka pendek.
Apa yang Perlu Berubah?
Dari kasus Tesso Nilo dan berbagai penelitian yang meneliti fenomena serupa di Indonesia, setidaknya ada beberapa hal yang mendesak untuk dibenahi.
Pertama, kepastian tata batas kawasan. Selama masyarakat tidak tahu mana batas taman nasional dan mana wilayah desa, konflik dan perambahan akan terus terjadi. Tata batas yang jelas, tersosialisasi, dan ditegakkan adalah syarat dasar.
Kedua, penegakan hukum yang serius. Ekspansi ilegal ke kawasan konservasi yang berlangsung bertahun-tahun tanpa tindakan nyata adalah sinyal bahwa negara absen. Ini bukan hanya masalah lingkungan ini adalah masalah keadilan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan dan menjaga hutan.
Ketiga, diversifikasi nafkah masyarakat. Ketergantungan total pada satu komoditas adalah resep kerentanan. Agroforestri, ekowisata berbasis komunitas, budidaya lebah madu, dan pertanian pangan terpadu adalah alternatif yang sudah terbukti bisa berjalan berdampingan dengan kebun sawit jika ada dukungan yang serius.
Keempat, ketahanan pangan lokal harus dijaga. Konversi seluruh lahan termasuk sawah dan ladang menjadi kebun sawit adalah keputusan yang mahal dalam jangka panjang. Kebijakan yang melindungi lahan pangan minimum di setiap desa perlu dipikirkan dengan serius.
Kelima, pelibatan masyarakat dalam perlindungan kawasan. Program patroli berbasis komunitas yang pernah berjalan di Tesso Nilo melalui kerjasama masyarakat, Balai KSDA, dan WWF adalah model yang baik. Bukan sekadar pengawasan dari luar, tetapi menjadikan masyarakat lokal sebagai mitra aktif dengan insentif yang nyata.
Penutup
Tesso Nilo bukan sekadar nama sebuah taman nasional. Ia adalah cermin dari dilema pembangunan yang dihadapi Indonesia: bagaimana mengelola sumber daya alam yang kaya tanpa mengorbankan ekosistem yang menopang kehidupan, dan tanpa meninggalkan masyarakat yang tinggal di dalamnya dalam kerentanan jangka panjang.
Hutan yang sudah dikonversi tidak bisa kembali dalam semalam. Tapi kebijakan, tata kelola, dan pilihan-pilihan kita hari ini bisa menentukan apakah yang tersisa akan bertahan atau ikut hilang.
Daftar Pustaka
Colchester, M., Chao, S., Dallinger, J., Sokharrano, H.E.P., Dan, V.T., dan Villanueva, J. 2007. Promised Land: Palm Oil and Land Acquisition in Indonesia: Implications for Local Communities and Indigenous Peoples. Bogor: FPP and SW.
Dharmawan, A.H. 2007. Sistem Penghidupan dan Nafkah Pedesaan: Pandangan Sosiologi Nafkah (Livelihood Sociology) Mazhab Barat dan Mazhab Bogor. Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia. 01(2). Agustus 2007.
Gillison, A.N. 2001. Vegetation Survey and Habitats Assessment of the Tesso Nilo Forest Complex: Biodiversity Survey in Tesso Nilo Sumatra Indonesia. WWF US.
Hidayah, N., Dharmawan, A.H., dan Barus, B. 2016. Ekspansi Perkebunan Kelapa Sawit dan Perubahan Sosial Ekologi Pedesaan. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan. Desember 2016, hal. 249–256.
Noordwijk, M.N., Lusiana, B., Leimona, B., Sonya, D., dan Wulandari, D. 2013. Negotiation-Support Toolkit for Learning Landscape. Indonesia: World Agroforestry Centre.
Rustiadi, E., Saefulhakim, S., dan Panuju, D.R. 2011. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Crespent Press dan Yayasan Obor Indonesia.
WWF Riau. 2013. Sawit dari Taman Nasional: Menelusuri TBS Sawit Ilegal di Riau Sumatera. WWF Riau.
Yulian, D. dan Dharmawan, A.H. 2018. Livelihood Dilemma of the Rural Household Around the Oil Palm Plantation. (Jurnal terkait dilema nafkah rumah tangga pedesaan di sekitar perkebunan sawit, Kalimantan Timur).

Tulis Komentar