Das Sein Das Sollen Di Sekolah

Opini | 06 Jun 2023 | 09:40 WIB
Das Sein Das Sollen Di Sekolah
sourcepic:pixabay.com/vectors/school-design-building-learning-1727586/

Uwrite.id - Sekolah adalah miniatur masyarakat yang sangat otentik. Di sekolah ada yang berwenang mengatur dan ada yang diatur. Hampir semua norma hadir di sekolah, mulai norma hukum, norma sosial dan budaya, norma agama, norma kesusilaan, dan seterusnya. Sekolah ibarat panggung kehidupan bagi tiap manusia yang berada didalamnya. Sekolah juga tentu memiliki berbagai fungsi dimana salah satunya adalah dalam rangka memandirikan manusia Indonesia. Setiap sekolah menawarkan kekhasan dan keunggulan bagi siapapun yang mau masuk sebagai bagian dari miniatur masyarakat ini. Baik itu siswa, guru, petugas administrasi, tenaga sekuriti, pengelola kantin, hingga petugas kebersihan sekolah. Semua elemen masyarakat di sekolah  memiliki peranan yang sacara langsung maupun tidak langsung, besar ataupun kecil, membangun persepsi sekolah itu sendiri dimasyarakat luar kampus sekolah. Harapannya tentu sekolah mendapatkan persepsi yang baik-baik saja dimata masyarakat. 

Peran sekolah sangat krusial dalam membentuk dan mewarnai karakter para siswanya. Seperangkat aturan baik penghargaan maupun sanksi diramu sedemikian rupa sebagai norma-norma yang berlaku dilingkungan sekolah untuk menciptakan tatanan “masyarakat sekolah” yang teratur dan beradab. Para guru berperan sebagai coach sekaligus orang tua kedua yang mempunyai tanggung jawab penuh ketika anak-anak berada dikampus sekolah. Tak heran jika profesi guru sangatlah unik. Mereka sebenarnya tidak cukup sampai menguasai suatu ilmu pelajaran dan bagaimana cara mengajarkannya, namun juga seyogyanya memahami psikologi anak dan remaja, psikologi komunikasi, memiliki rasa empati yang khas, mampu melakukan afirmasi yang proporsional kepada siswa, mempunyai kesabaran yang dalam, mampu menjaga emosi dan amarah, memiliki kemampuan bahasa tutur yang memadai, dan masih banyak lagi seperangkat konsep dan paradigma dalam rangka memahami jiwa para siswa dan juga teman sejawat sesama guru dan petugas administrasi lainnya di sekolah.

Namun tidak bisa dipungkiri, menciptakan kondisi ideal dalam rangka pembangunan insan generasi penerus bangsa, dimana sekolah sebagai kawah candradimuka tidaklah sesederhana yang dikira. Realitas menyajikan berbagai fenomena yang berasal dari segelintir masyarakat sekolah yang cukup menguras batin dan emosi kita. Katakanlah fenomena tawuran antar pelajar, perundungan siswa, sex bebas, LGBT, budaya senioritas, dan lain sebagainya seolah rutin dari waktu ke waktu hadir di rumah kita melalui layar kaca atau gawai yang kita miliki. Tentu, kita tidak bisa mengatakan “sekolahnya yang bermasalah”, namun oknum-oknumnyalah yang bermasalah. Tapi kita menyadari bahwa yang disebut oknum-oknum bermasalah di sekolah itu selalu lahir pada tiap zamannya dan secara langsung maupun tidak, sedikit atau banyak, membawa pengaruh pada persepsi sekolah dimata masyarakat. Pendidikan jelas tidak bisa mengandalkan sekolah semata, setidaknya peran keluarga, komunitas dan masyarakat secara umum ikut memberi warna pada kualitas pendidikan seorang siswa.

Dalam tatanan masyarakat sekolah, seringkali harapan dan realitas, kenyataan dan idealisme, seringkali berlawanan arah. Apa yang seharusnya dilakukan tidak sejalan dengan kenyataan yang telah terjadi. Das Sein Das Sollen di Sekolah juga terjadi seperti halnya dalam tatanan masyarakat yang lebih luas yaitu berbangsa dan bernegara. Ketika sekolah menerapkan hukuman bagi siswa yang terlambat datang upacara bendera, maka selalu ada pada tiap zamannya oknum-oknum siswa yang datang terlambat namun mencari cara agar tidak dihukum. Pada setiap generasi selalu ada oknum-oknum siswa yang mencari cara agar tidak ketahuan ketika mencontek pada saat ujian. Pada setiap zamannya selalu terdapat oknum siswa yang megumpulkan tugas individu  padahal bukan dirinya yang membuat tugas itu. Das Sein Das Sollen di sekolah akan selalu lestari dari masa ke masa. Namun kita juga patut berbangga dan bolehlah kiranya menepuk dada, bahwa dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi hingga hari ini telah banyak mansia Indonesia yang berhasil membawa bangsa dan negara ini pada prestasi dalam berbagai hal. Negara ini dikelola dari waktu ke waktu oleh mereka yang berhasil "lulus" dari tatanan masyarakat sekolah itu tadi. Ada yang jadi pejabat pemerintahan, pengusaha, agamawan, ilmuwan, TNI atau POLRI, tenaga kesehatan, hingga kembali ke sekolah menjadi guru untuk melanjutkan kehidupan masyarakat sekolah. 

Refleksi das sein das sollen di sekolah bisa jadi terlihat juga pada keadaan masyarakat dari waktu ke waktu. Ada sebagian masyarakat yang taat berlalulintas, namun banyak pula yang dengan sadar melawan arus jalan raya atau menerobos palang pintu kereta api. Ada sebagian masyarakat yang sadar akan arti membuang sampah pada tempatnya, namun banyak juga masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan. Banyak para usia remaja yang melakukan vandalisme, namun banyak juga remaja yang aktif menjaga lingkungan agar tetap bersih dan asri. Begitulah kehidupan adanya, selalu ada yang taat aturan namun pada saat bersamaan selalu ada yang melanggarnya, pun demikian di lingkungan sekolah.

 

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar