Dari Cuan ke Falah: Etika Bisnis Digital Bagi Gen Z

Ekonomi | 04 Aug 2026 | 16:28 WIB
Dari Cuan ke Falah: Etika Bisnis Digital Bagi Gen Z
Bisnis bukan sekadar mengejar cuan. Di era digital, Gen Z membutuhkan bisnis yang tidak hanya tumbuh secara finansial, tetapi juga menghadirkan manfaat, keadilan, keberlanjutan, dan keberkahan.

Uwrite.id - Oleh: Nurhana Dhea Parlina, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen (PDIM) Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang

PENDAHULUAN: Ketika Bisnis Digital Kehilangan Jiwanya

Dunia bisnis modern hari ini sedang bergerak dalam kecepatan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Hanya dengan beberapa ketukan jari di layar ponsel pintar, jutaan transaksi keuangan dan perdagangan barang berpindah tangan dalam hitungan detik. Di garda terdepan transformasi digital ini, berdiri anak-anak muda Generasi Z—mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—sebagai motor penggerak Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) digital, khususnya di wilayah Jawa Barat yang dikenal sebagai episentrum kewirausahaan muda Indonesia.

Namun, di balik kilaunya angka-angka penjualan, lonjakan nilai omzet, dan kepraktisan teknologi pembayaran, tersimpan sebuah krisis epistemologis mendasar: apakah bisnis modern yang kita jalankan hari ini benar-benar membawa ketenangan dan keberkahan, ataukah sekadar menjerat manusia dalam lingkaran siklus materialisme yang hampa nilai?

Selama ini, studi manajemen dan akuntansi bisnis didominasi oleh pendekatan mekanistik-kausalitas yang diwarisi dari tradisi positivisme Barat pasca-era Pencerahan (Enlightenment). Pendekatan ini meyakini bahwa ilmu pengetahuan harus bersifat bebas nilai (value-free). Dalam paradigma ini, kesuksesan sebuah bisnis diukur secara sangat kaku dan kering melalui rasio-rasio keuangan: Return on Investment (ROI), margin laba bersih, tingkat pertumbuhan penjualan, hingga skala valuasi pasar.

Dampaknya sangat terasa di lapangan. Ketika sains bisnis dilepaskan dari akar spiritualitas dan moralitas transendental, bisnis berubah menjadi arena pertarungan yang dingin. Manusia direduksi hanya sebagai unit produksi atau komoditas konsumen. Krisis ontologis ini melahirkan alienasi spiritual—sebuah kondisi di mana pelaku usaha merasa asing dengan dirinya sendiri, tertekan oleh kecemasan mental yang kronis, serta terjebak dalam obsesi pertumbuhan tanpa batas yang merusak ekosistem sosial dan lingkungan hidup.

KRISIS ONTILOGIS SAINS BEBAS NILAI & TEKANAN PADA GEN Z

Fenomena krisis nilai ini terlihat makin jelas pada ekosistem UMKM digital Gen Z. Di satu sisi, Gen Z memiliki tingkat adopsi teknologi yang luar biasa, mahir memanfaatkan platform e-commerce, menguasai algoritma media sosial, dan mengintegrasikan sistem pembayaran digital seperti QRIS dan financial technology (fintech). Namun di sisi lain, mereka dihadapkan pada volatilitas pasar yang sangat tinggi, perang harga yang brutal (predatory pricing), disrupsi algoritma yang berubah-ubah, serta tekanan gaya hidup konsumtif.

Tanpa landasan etika yang kokoh, tidak sedikit pelaku usaha muda yang terperosok ke dalam praktik-praktik bisnis destruktif: pemasaran manipulatif (gharar), utang pinjaman online berbasis riba demi mengejar modal kilat, hingga kelelahan mental (burnout) di usia muda. Angka-angka kering dalam laporan keuangan konvensional tidak pernah mampu merekam kecemasan batin pengusaha saat menghadapi krisis, kejujuran dalam berpromosi, atau ketenangan jiwa yang lahir dari rezeki yang halal dan berkah.

PERSPEKTIF SEYYED HOSSEIN NASR: MENGEMBALIKAN "SACRED SCIENCE" DALAM MANAJEMEN

Guna menjawab krisis metodologis dan moralitas tersebut, gagasan cendekiawan Muslim terkemuka Seyyed Hossein Nasr mengenai Sacred Science (Sains Suci) menjadi tawaran pemikiran yang sangat relevan dan mendesak. Nasr melontarkan kritik tajam terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan modern yang memisahkan antara yang profan (duniawi) dan yang sakral (spiritual). Menurut Nasr, alam semesta dan seluruh aktivitas di dalamnya—termasuk kegiatan ekonomi dan perdagangan—merupakan manifestasi atau tanda-tanda (ayat) keagungan Sang Pencipta.

Dalam konteks ilmu manajemen Islam, konsep Sacred Science mengkonstruksi ulang makna bisnis. Bisnis tidak lagi dipandang sebagai sekadar alat pemuas hasrat materi individual atau sarana maksimisasi keuntungan bagi pemegang saham konvensional. Sebaliknya, bisnis diposisikan sebagai pelaksanaan tugas Amanah dan Khalifah di muka bumi.

Keberlanjutan bisnis (sustainability) tidak diukur dari seberapa lama sebuah korporasi mampu mengeruk sumber daya alam dan memenangi persaingan pasar, melainkan seberapa harmonis bisnis tersebut menjaga keseimbangan antara: 1) Hubungan manusia dengan Allah (Hablum minallah); 2) Hubungan antarmanusia (Hablum minannas); dan 3) Hubungan manusia dengan alam semesta (Hablum minal 'alam).

TRILOGI EPISTEMOLOGI ISLAM: BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI

Untuk menerjemahkan gagasan holistik ini ke dalam tataran praktis operasional dan ilmiah, riset manajemen Islam mengintegrasikan tiga pilar epistemologi Islam yang saling melengkapi:

1) Epistemologi Bayani (Otoritas Teks Wahyu): Berperan sebagai pemandu etis normatif. Bayani bersumber dari Al-Qur'an, Hadis, dan derivasi hukum syariah (Maqasid al-Shari'ah). Pilar ini menetapkan batas-batas koridor hukum: apa yang halal, apa yang haram, larangan terhadap unsur riba, gharar (ketidakpastian/penipuan), dan maysir (perjudian/spekulasi), serta kewajiban menegakkan keadilan distributif (Al-Adl).

2) Epistemologi Burhani (Otoritas Rasio dan Empiris): Berperan mengumpulkan, memproses, dan menganalisis fakta-fakta objektif di lapangan secara ilmiah. Dalam studi manajemen, Burhani diwujudkan melalui survei lapangan, pengumpulan data operasional, analisis rasio keuangan dasar, serta pemetaan profil bisnis UMKM secara objektif dan akurat.

3) Epistemologi Irfani (Otoritas Intuisi, Emosional, dan Hikmah): Berperan menggali makna terdalam di balik angka-angka statistik. Irfani menyuntikkan dimensi emosional-spiritual, empati sosial, dan intuisi moral. Pilar ini memotret kebersihan niat, kejujuran nurani, ketenangan batin, serta rasa kepasrahan (tawakkal) yang dirasakan oleh pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya.

Ketika ketiga pilar ini disatukan secara harmonis, ilmu manajemen tidak lagi menghasilkan kesimpulan riset yang kaku dan mekanistik, melainkan melahirkan pemahaman yang kaya akan makna (rich description) serta humanis.

DEKONSTRUKSI VARIABEL BISNIS: MEMBACA ULANG OPERASIONALISASI ETIKA SYARIAH

Melalui perspektif deskriptif-fenomenologis, variabel utama dalam manajemen bisnis digital diredefinisi agar selaras dengan nilai-nilai Maslahah pada UMKM Digital Generasi Z di Jawa Barat.

Corporate Social Responsibility (CSR)

Konvensional: Instrumen promosi/PR, pemenuhan kewajiban regulasi, dan formalitas kriteria ESG.

Perspektif Maslahah: Maslahah CSR sebagai ejawantah prinsip Al-'Adl (keadilan), kepedulian sosial yang tulus, kontribusi/donasi rutin, serta komitmen terhadap pelestarian lingkungan.

Bagi UMKM digital Gen Z, tanggung jawab sosial tidak diukur dari seberapa besar megaproyek karitatif yang diliput media, melainkan dari konsistensi tindakan sehari-hari. Maslahah CSR mewakili penerapan prinsip keadilan distributif (Al-Adl). Contoh konkretnya di lapangan adalah komitmen pengusaha muda untuk memberikan porsi keuntungan bisnis bagi kegiatan sosial lokal, memperlakukan karyawan secara adil tanpa eksploitasi jam kerja, serta meminimalkan sampah plastik dalam kemasan produk pengiriman e-commerce mereka.

Digitalisasi Operasional

Konvensional: Berorientasi pada efisiensi teknis, otomatisasi sistem, dan pemanfaatan algoritma untuk meningkatkan konsumsi dan penjualan.

Perspektif Maslahah: Maslahah Digitalization melalui teknologi yang transparan dan beretika, menghindari gharar, menjamin kejelasan harga dan deskripsi produk, melindungi data konsumen, serta menggunakan fintech yang terhindar dari riba.

Digitalisasi bukan sekadar adopsi aplikasi canggih, melainkan tentang menjaga etika di ruang digital. Pelaku UMKM Gen Z yang mengadopsi Maslahah Digitalization akan menolak keras praktik iklan manipulatif (seperti foto produk yang jauh berbeda dari aslinya), menghindari penggunaan ulasan palsu (fake review), dan menjaga ketat privasi data konsumen. Dalam hal sistem keuangan, mereka memilih mengintegrasikan instrumen pembayaran digital (QRIS) dan perbankan syariah yang transparan serta bebas dari jebakan bunga riba berisiko tinggi.

Resiliensi Risiko (Risk Resilience)

Konvensional: Fokus pada manajemen risiko finansial, diversifikasi aset, dan efisiensi biaya.

Perspektif Maslahah: Resiliensi Sabr & Ikhtiar yang mengintegrasikan ketenangan jiwa (Sabr), kemampuan beradaptasi dan berinovasi (Ikhtiar), serta Tawakkal setelah melakukan usaha secara optimal.

Dalam dunia digital yang serba cepat, disrupsi bisa terjadi dalam sekejap—misalnya saat akun jualan diblokir sistem, algoritma media sosial berubah, atau tren pasar tiba-tiba bergeser. Bagaimana pengusaha Gen Z bertahan? Pendekatan Islam menawarkan mekanisme koping ganda: Sabr dan Ikhtiar. Sabr bukanlah sikap pasif atau menyerah pada keadaan, melainkan kemampuan menjaga stabilitas emosi, ketenangan pikiran, dan kebersihan jiwa di tengah tekanan krisis. Sementara itu, Ikhtiar adalah respons aktif dalam bentuk inovasi taktis, peningkatkan kualitas produk, dan pencarian strategi pemasaran baru. Kedua aspek ini diikat oleh Tawakkal—kesadaran transendental bahwa hasil akhir ada di tangan Allah. Kombinasi ini terbukti membentuk imunitas mental yang jauh lebih kuat dibandingkan sekadar kalkulasi risiko finansial konvensional.

Kinerja Usaha (Performance)

Konvensional: Berorientasi pada maksimalisasi laba, pertumbuhan omzet, serta indikator ROI/ROA.

Perspektif Maslahah: Kinerja Falah & Barakah yang mencakup kesejahteraan holistik duniawi dan ukhrawi, pertumbuhan finansial yang sehat, terbebas dari riba, kepuasan kerja, kebermanfaatan, dan ketenangan batin (Falah).

Puncak dari rekonstruksi etika ini adalah redefinisi terhadap kinerja bisnis itu sendiri. Dalam paham kapitalisme konvensional, bisnis yang sukses adalah bisnis yang terus membukukan pertumbuhan laba tanpa batas. Namun dalam Islam, keberhasilan sejati diukur melalui pencapaian Falah (kesejahteraan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat) serta keberadaan Barakah (bertambahnya kebaikan dan ketenangan dari rezeki yang diperoleh).

Sebuah UMKM digital yang membukukan omzet puluhan juta rupiah tetapi diperoleh dengan cara menipu konsumen atau meninggalkan kewajiban ibadah, dipandang mengalami kegagalan hakiki karena kehilangan unsur barakah. Sebaliknya, usaha yang menghasilkan keuntungan proporsional, mampu melunasi kewajiban operasional tanpa terlilit utang riba, serta memberikan ketenangan jiwa bagi pemilik dan karyawannya, merupakan wujud nyata dari pencapaian Kinerja Falah.

MENGAPA GEN Z DI JAWA BARAT MENJADI LOKUS STRATEGIS?

Pemilihan wilayah Jawa Barat sebagai fokus kajian bukanlah tanpa alasan. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah dengan jumlah UMKM terbanyak di Indonesia, sekaligus memiliki proporsi penduduk usia muda (Gen Z dan Milenial) yang sangat dominan. Karakteristik wirausahawan Gen Z di Jawa Barat menunjukkan dinamika unik: mereka sangat kreatif, adaptif terhadap perkembangan tren digital, dan memiliki semangat komunitas yang tinggi.

Namun, data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan tantangan serius. Tingkat literasi keuangan syariah di kalangan anak muda masih perlu terus ditingkatkan agar seimbang dengan tingkat inklusi keuangan digital mereka. Banyak wirausahawan muda yang mahir jualan secara online, tetapi belum memahami batas-batas etika muamalah syariah. Oleh karena itu, pendekatan deskriptif-taksonomis yang ditawarkan dalam penelitian ini hadir sebagai jembatan untuk mentransformasi potensi kewirausahaan Gen Z di Jawa Barat agar tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga berkarakter dan berintegritas spiritual.

IMPLIKASI PRAKTIS DAN REKOMENDASI KEBIJAKAN

Hasil pemetaan konseptual dan eksplorasi fenomenologis ini memberikan implikasi praktis yang sangat bernilai bagi berbagai pemangku kepentingan:

Pertama, Bagi Lembaga Keuangan Syariah (LKS). LKS dipacu untuk tidak hanya menilai kelayakan kredit/pembiayaan UMKM berdasarkan rasio arus kas atau jaminan fisik semata. LKS perlu memasukkan indikator "Ketahanan Moral-Spiritual" dan profil kepatuhan syariah pelaku usaha sebagai kriteria bobot dalam penilaian risiko pembiayaan.

Kedua, Bagi Regulator dan Pemerintah (Kementerian UMKM & OJK). Diperlukan penyusunan modul pelatihan literasi keuangan inklusif syariah yang dikemas secara modern, komunikatif, dan relevan dengan bahasa anak muda Gen Z. Modul ini hendaknya menekankan teknik manajemen risiko berbasis nilai Sabr dan Ikhtiar serta bahaya laten pinjaman online ilegal berbasis riba.

Ketiga, Bagi Komunitas UMKM Digital. Diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai kemaslahatan sebagai spiritual filter dalam setiap pengambilan keputusan bisnis harian—mulai dari memilih supplier, menetapkan strategi harga, hingga menyusun narasi promosi di media sosial.

KESIMPULAN: MENUJU PARADIGMA BARU EKONOMI BERKELANJUTAN

Rekonstruksi etika manajemen bisnis Islam yang memadukan pemikiran Sacred Science Seyyed Hossein Nasr dan Trilogi Epistemologi Islam (Bayani, Burhani, Irfani) telah membuktikan bahwa ilmu manajemen tidak boleh dibiarkan berjalan dalam lorong gelap positivisme yang bebas nilai. Bisnis modern, khususnya yang dijalankan oleh Generasi Z di era digital, membutuhkan "jiwa" dan kompas moral yang membimbing perjalanan usaha mereka.

Mengejar keuntungan materi dan memanfaatkan canggihnya teknologi digital bukanlah hal yang dilarang dalam Islam. Namun, menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya berhala kehidupan adalah sebuah kekeliruan ontologis yang fatal. Dengan mengintegrasikan nilai Maslahah CSR, Digitalisasi Anti-Gharar, Resiliensi Risiko Berbasis Sabr-Ikhtiar, serta berorientasi pada Kinerja Falah dan Barakah, wirausahawan muda Gen Z tidak hanya akan mampu bertahan di tengah gelombang disrupsi pasar, melainkan juga mampu membawa perubahan hakiki menuju peradaban ekonomi yang lebih adil, sejahtera, dan penuh keberkahan.(*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar