Citra NASA: Kalimantan Tertutup Asap Tebal Akibat Karhutla

Uwrite.id - Samarinda - Lembaga antariksa Amerika Serikat, NASA, merilis potret terbaru kondisi Kalimantan. Pulau yang disebut paru-paru dunia itu kini hampir tidak terlihat karena diselimuti asap tebal imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Foto tersebut diambil pada Selasa (01/09) oleh instrumen MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) pada satelit Aqua milik NASA. Selain kabut asap, satelit ini juga menangkap titik api atau hot spot yang tersebar di sejumlah wilayah Kalimantan.
Salah satu pemicu karhutla tahun ini adalah fenomena El Nino kategori kuat. Robert, pengembang instrumen Global Fire Weather Database untuk prakiraan cuaca kebakaran secara real-time, memprediksi kondisi 2026 bisa lebih parah dibanding 1997 dan 2015.
"Indonesia baru berjalan sekitar tiga minggu memasuki musim kebakarannya, tetapi kita sudah melihat aktivitas api melonjak tajam, mirip seperti tahun 2015," kata Robert, dikutip dari situs resmi NASA.
"El Nino yang kuat membuat musim kemarau menjadi jauh lebih kering di daerah-daerah rawan kebakaran dan memperparah situasi, persis seperti yang sudah kita perkirakan," ujarnya.
Data Global Fire Emissions Database (GFED) menunjukkan emisi karbon dari kebakaran di Kalimantan dan Sumatra pada Agustus 2026 sudah mencapai 120 juta ton CO2. Angka itu 3 kali lipat dari rata-rata Agustus 2010-2024. Lonjakan tertinggi terjadi di Kalimantan Tengah dan Selatan, wilayah dengan tutupan gambut terdalam di dunia.
Menurut laporan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Uni Eropa, kolom asap dari Kalimantan pada 1 September 2026 terdeteksi mencapai ketinggian 4.500 meter dan terbawa angin hingga ke Malaysia, Singapura, hingga Laut China Selatan. Indeks kualitas udara di Pontianak dan Palangkaraya sempat menyentuh level "Berbahaya" dengan PM2.5 di atas 300 µg/m3.
Badan Kesehatan Dunia WHO memperingatkan paparan asap dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko ISPA, penyakit jantung, dan gangguan kehamilan. Pada karhutla 2015, studi di The Lancet memperkirakan ada 100.300 kematian dini di Asia Tenggara akibat polusi asap. Pemerintah RI saat ini telah mendistribusikan 2,3 juta masker N95 ke 5 provinsi terdampak.
Sementara itu, World Resources Institute (WRI) mencatat Indonesia kehilangan 2,45 juta hektar hutan primer pada 2015 karena gabungan deforestasi dan kebakaran. Dari luasan itu, 1,1 juta hektar berada di lahan gambut. Kerugian ekonomi akibat karhutla 2015 ditaksir Bank Dunia mencapai 16,1 miliar dolar AS, setara 1,9% PDB Indonesia saat itu.
Dalam kondisi normal, lapisan gambut di bawah tanah Kalimantan, Sumatra, dan Papua terlalu basah untuk memicu penyebaran api. Namun saat kekeringan melanda, situasinya berubah.
"Kebakaran di permukaan sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, tetapi ketika api sudah menjalar ke bawah tanah, api tersebut sangat sulit dihentikan," kata Robert.
"Apinya akan terus membara sampai hujan turun di bulan Oktober atau November," lanjutnya.
Dampak emisi juga mulai terlihat. Pada 2015, setelah terbakar lebih dari tiga bulan, kebakaran di Indonesia melepaskan 1,75 miliar ton setara gas rumah kaca, melebihi total emisi tahunan Jepang.
Sementara itu, hingga Rabu (02/09), kebakaran tahun ini yang baru berlangsung sekitar satu bulan telah melepaskan emisi sekitar 10 persen dari total emisi kebakaran 2015.
Di tengah besarnya dampak tersebut, pemantauan menjadi kunci. Untuk itu, pemerintah Indonesia memanfaatkan pengamatan dari satelit NASA dan NOAA melalui sensor MODIS dan VIIRS guna memantau titik api secara near-real-time. Platform SiPongi milik Kementerian Kehutanan mencatat ada 946 titik panas pada 31 Agustus 2026.
Namun, sensor MODIS dan VIIRS memiliki keterbatasan. Alat ini sulit mendeteksi api yang tertutup asap tebal, awan, berada di bawah kanopi hutan, atau di bawah permukaan tanah gambut. Akibatnya, saat kebakaran mencapai puncak, jumlah api yang terekam justru bisa terlihat menurun.
"Peristiwa asap terparah, secara paradoks, justru menjadi yang paling sulit diamati dari luar angkasa dengan MODIS dan VIIRS," kata Mark Cochrane, ahli ekologi dari University of Maryland Center for Environmental Science.
Kondisi kekeringan tahun ini juga dikonfirmasi BMKG. Sama seperti 2015, Indonesia tengah berada di tengah cengkeraman kekeringan parah dan meluas pada musim panas 2026. Sekitar 90 persen wilayah Indonesia mencatat curah hujan sangat sedikit hingga tidak ada hujan sama sekali pada awal Agustus. (*)

Tulis Komentar