CERI Desak Menteri ESDM Jelaskan Status Kargo Rusia di Lawe-Lawe, Kilang Balikpapan Soroti Peran E-System FZ LLC

Ekonomi | 31 Jul 2026 | 10:51 WIB
CERI Desak Menteri ESDM Jelaskan Status Kargo Rusia di Lawe-Lawe, Kilang Balikpapan Soroti Peran E-System FZ LLC
Keterangan Foto: Ilustrasi tanker minyak bersandar di terminal Lawe-Lawe, Kalimantan Utara. [CERI]

Uwrite.id - Balikpapan - Center of Energy and Resources Indonesia CERI mendesak Menteri ESDM Bahlil Lahadalia segera menjelaskan status kargo minyak mentah Rusia yang bersandar di Terminal Lawe-Lawe, Kalimantan Utara.

Desakan itu disampaikan CERI menyusul beredarnya informasi bahwa kargo tersebut akan diolah di Kilang Pertamina Balikpapan. Padahal saat ini Indonesia masih terikat sanksi tidak langsung dari AS dan Uni Eropa.

Direktur Eksekutif CERI Yusri Usman menilai publik berhak tahu asal-usul, legalitas, dan skema pembelian minyak Rusia tersebut. Apalagi nilainya ditaksir mencapai puluhan juta dolar AS.

"Kami minta Menteri ESDM transparan. Jangan sampai ada pelanggaran sanksi internasional yang justru merugikan Pertamina dan negara," ujar Yusri, yang dikutip oleh Uwrite.id Rabu 30 Juli 2026.

Berdasarkan data pelacakan kapal, tanker yang bersandar di Lawe-Lawe terindikasi membawa minyak mentah Urals asal Rusia. Kargo itu kemudian akan disalurkan ke Kilang Pertamina Balikpapan.

CERI menyoroti, jika benar berasal dari Rusia, maka pembelian harus melalui mekanisme yang tidak melanggar price cap G7 sebesar 60 dolar AS per barel.

"Kalau harganya di atas price cap dan transaksinya pakai dolar, ini bisa jadi masalah. Apalagi melibatkan pihak ketiga," kata Yusri.

Nama perusahaan E-System Solutions FZ LLC ikut disorot CERI. Perusahaan yang berbasis di UEA itu disebut sebagai perantara dalam skema jual beli minyak Rusia.

Menurut CERI, keterlibatan perantara asing harus dijelaskan secara terbuka. Termasuk komisi, margin, dan tanggung jawab hukumnya.

"Siapa yang menunjuk E-System? Atas dasar apa? Apakah sudah melalui tender atau penunjukan langsung?" tanya Yusri.

Kilang Pertamina Balikpapan saat ini tengah menjalani RDMP dengan kapasitas 360 ribu barel per hari. Pengolahan minyak Rusia diklaim untuk uji coba dan diversifikasi sumber pasokan.

Namun CERI mengingatkan, jika tidak hati-hati, Pertamina bisa terkena sanksi sekunder dari AS. Dampaknya bisa ke asuransi, pembayaran, hingga teknologi kilang.

"Kami tidak anti impor minyak Rusia. Tapi harus sesuai aturan dan tidak menimbulkan risiko hukum bagi BUMN," tegasnya.

CERI mengajukan 3 poin desakan. Pertama, Menteri ESDM menjelaskan secara resmi status legalitas kargo minyak Rusia di Lawe-Lawe.

Kedua, membuka kontrak dan skema pembelian, termasuk peran E-System Solutions FZ LLC. Ketiga, memastikan tidak ada pelanggaran sanksi internasional.

"Keterbukaan ini penting untuk menjaga kredibilitas pemerintah dan Pertamina di mata publik dan mitra internasional," ujar Yusri.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian ESDM dan Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait kargo tersebut.

Sebelumnya, pemerintah memang menyatakan Indonesia membuka opsi impor dari berbagai negara, termasuk Rusia, untuk menekan harga dan mengamankan pasokan.

Namun CERI mengingatkan, opsi itu harus diimbangi tata kelola yang bersih. Jangan sampai niat menekan harga justru menimbulkan masalah baru.

Publik energi kini menunggu penjelasan resmi. Apakah kargo di Lawe-Lawe ini akan jadi pintu masuk impor minyak Rusia skala besar, atau hanya uji coba satu kali.

Dengan tekanan dari CERI, bola kini ada di tangan Menteri ESDM untuk memberi kejelasan sebelum polemik semakin melebar. (*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar