Bukan Cuma Modal: UMKM Butuh Transendensi Mas’uliyyah

Ekonomi | 04 Aug 2026 | 16:53 WIB
Bukan Cuma Modal: UMKM Butuh Transendensi Mas’uliyyah
Bukan cuma soal modal, UMKM juga butuh kompas moral. Ketika setiap rupiah dipandang sebagai amanah, keputusan finansial tidak lagi sekadar mengejar untung, tetapi juga mempertimbangkan kehalalan, kemaslahatan, akuntabilitas,

Uwrite.id - Oleh: Erwin Budianto, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Manajemen, UNISSULA Semarang

Di tengah badai dan dinamika ekonomi global yang serba tidak pasti, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) senantiasa teruji sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Ketika krisis melanda, sektor domestik inilah yang tangguh menjadi penyangga kehidupan jutaan keluarga. Tak heran, intervensi pemerintah bergerak masif: pemicuan inklusi keuangan, perluasan akses pembiayaan, penguatan literasi finansial, hingga akselerasi digitalisasi. Harapannya jelas, agar UMKM makin berdaya saing di era disrupsi.

Namun, sebuah paradoks fundamental mengintai di balik gegap gempita kebijakan tersebut.

Mengapa di saat kran pembiayaan dibuka makin lebar, masih banyak UMKM yang terseok-seok, bahkan terpaksa gulung tikar? Mengapa ada segelintir pelaku usaha yang mampu melipatgandakan modal terbatas menjadi bisnis yang berkelanjutan, sementara yang lain justru tenggelam dalam jebakan utang meskipun disuntik tambahan modal segar?

Paradoks Akses Pembiayaan dan Anomali Keputusan

Jika dibedah secara mendalam, akar masalah ini acapkali bukan terletak pada kuantitas modal empiris, melainkan pada kualitas pengambilan keputusan finansial (financial decision-making behavior).

Realitas lapangan menyajikan fenomena yang memprihatinkan: pencampuran keuangan pribadi dan bisnis, penggunaan dana pinjaman produktif untuk konsumsi destruktif, pola "gali lubang tutup lubang", hingga keputusan ekspansi spekulatif yang dipicu oleh tren sesaat tanpa perhitungan rasional yang matang.

Keputusan-keputusan finansial yang keliru tersebut sering kali lahir bukan karena defisit pengetahuan (knowledge deficit), melainkan akibat bias emosional, kecemasan eksistensial, ketakutan akan kehilangan momentum (FOMO), dan dorongan mengejar profit instan.

Kacamata Ekonomi Perilaku: Batas Analisis Prospect Theory

Sisi psikologis dalam pengambil keputusan ekonomi sebenarnya telah dijelaskan secara komprehensif oleh pakar ekonomi perilaku, Daniel Kahneman dan Amos Tversky, melalui Prospect Theory. Teori ini meruntuhkan asumsi rasionalitas sempurna (homo economicus) dan membuktikan bahwa manusia mengambil keputusan berdasarkan persepsi subjektif atas potensi keuntungan dan kerugian.

Dinamika Saat Terdesak (Loss Aversion): Saat membayangkan ancaman kerugian, pengusaha cenderung mengambil keputusan berisiko tinggi secara nekad dengan harapan menutup kerugian dengan cepat.

Dinamika Saat Untung (Overconfidence): Sebaliknya, saat berada pada posisi untung, timbul rasa percaya diri berlebih (overconfidence) yang memicu pengabaian terhadap kalkulasi risiko jangka panjang.

Secara eksplisit, keputusan ekonomi tidak sekadar ditentukan oleh angka-angka numerik, melainkan oleh kognisi dan persepsi psikologis pengambilnya.

Meskipun Prospect Theory sangat cemerlang dalam membedah mengapa (deskriptif) manusia bertindak irasional dalam kondisi berisiko, teori ini memiliki keterbatasan mendasar: ia tidak menyediakan pedoman normatif tentang bagaimana seharusnya keputusan itu diambil agar tidak hanya efisien secara material, melainkan juga benar secara etis dan moral.

Mas’uliyyah Financial Development: Mengintegrasikan Etika dan Transendensi

Untuk mengisi kekosongan normatif tersebut, perspektif Islam menawarkan paradigma Mas’uliyyah (akuntabilitas transendental). Dalam pandangan Islam, harta bukanlah aset absolut, melainkan amanah (titipan) dari Allah SWT yang wajib dikelola dengan prinsip kebenaran, kemanfaatan, dan akuntabilitas multi-dimensi.

Orientasi keberhasilan usaha pun bertransformasi: keberhasilan tidak lagi sebatas diukur dari besarnya akumulasi laba (profit-maximization), tetapi juga dari kehalalan cara memperolehnya serta keberlanjutan dampaknya.

Inilah esensi dari Mas’uliyyah Financial Development—sebuah cara pandang yang menempatkan tanggung jawab sebagai fondasi utama pembangunan finansial UMKM.

Mas’uliyyah bukanlah tanggung jawab pasif yang hadir setelah keputusan berakibat fatal. Ia adalah kesadaran ex-ante—kesadaran transendental yang hadir sebelum sebuah keputusan diketuk. Kesadaran bahwa setiap rupiah membawa implikasi amanah; setiap pinjaman melahirkan kewajiban moral; dan setiap strategi bisnis harus berdampak positif bagi kemaslahatan publik dan bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.

Redefinisi Paradigma Pembangunan Finansial UMKM

Sudah saatnya lanskap pembangunan keuangan mengevolusi trifektar klasik—Financial Access, Financial Efficiency, dan Financial Stability—dengan menyuntikkan ruh pilar keempat: Mas’uliyyah (Etika & Akuntabilitas Transendental).

Inklusi dan literasi keuangan tanpa penguatan karakter serta mentalitas akuntabilitas justru berpotensi memicu timbulnya krisis utang baru di tingkat akar rumput. Gagasan Mas’uliyyah Financial Development tidak hadir untuk meniadakan teori-teori keuangan modern, melainkan untuk menyempurnakannya (completing the puzzle).

Jika Prospect Theory memberikan wawasan kognitif tentang kerentanan psikologis manusia, maka prinsip Mas’uliyyah bertindak sebagai kompas etis yang memandu pengambil keputusan agar tetap berada pada koridor kejujuran, keberlanjutan, dan keberkahan. Pembangunan UMKM berbasis tanggung jawab inilah yang akan melahirkan ekosistem ekonomi nasional yang tidak hanya tangguh, tetapi juga bermartabat.(*)

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar