Bisakah Target Operasional Tercapai Jika Motivasi dan Koordinasi Mulai Melemah?

Opini | 06 Jul 2026 | 08:17 WIB
Bisakah Target Operasional Tercapai Jika Motivasi dan Koordinasi Mulai Melemah?
Foto saat kordinasi

Uwrite.id - Satria Irawan, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Unilak, sekaligus Team Leader SCADA dan Master Station di UP2B Sumbagteng, melihat bahwa persoalan organisasi sebaiknya tidak hanya dibicarakan sebagai keluhan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran. Di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., Satria Irawan mencoba membaca pengalaman kerjanya dengan sudut pandang manajemen yang lebih tertata.

“Isu yang saya angkat berkaitan dengan koordinasi antarbagian dan motivasi kerja. Dalam pengamatan saya, motivasi kerja dan koordinasi antarbagian merupakan unsur penting yang mendukung keberhasilan pekerjaan organisasi. Di PT PLN (Persero) UP2B Sumbagteng, tingginya tuntutan operasional menuntut pegawai memiliki semangat kerja yang tinggi serta kemampuan berkoordinasi dengan baik antarunit. Karena itu, peningkatan motivasi kerja dan penguatan koordinasi perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung produktivitas dan pencapaian tujuan organisasi,” katanya.

Menurut Satria Irawan, akar masalahnya meliputi: (1) tingginya tuntutan pekerjaan; (2) perubahan teknologi yang cepat; (3) kebutuhan pegawai untuk terus meningkatkan kemampuan; (4) kurangnya penghargaan terhadap hasil kerja; (5) terbatasnya peluang pengembangan diri; (6) perbedaan fokus dan prioritas antarunit; serta (7) belum optimalnya pertukaran informasi. Kondisi tersebut berpotensi menghambat kelancaran pekerjaan dan efektivitas pencapaian tujuan organisasi.

Dari kondisi itu, dampak yang muncul adalah motivasi kerja menurun, keterlibatan pegawai berkurang, produktivitas melemah, pekerjaan terlambat diselesaikan, kualitas hasil kerja kurang optimal, komunikasi antarbagian terhambat, dan risiko kesalahan kerja meningkat. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kinerja organisasi dan menghambat pencapaian tujuan perusahaan.

Untuk memperkuat gagasannya, Satria Irawan mengaitkan persoalan tersebut dengan Goal Setting Theory, Social Exchange Theory, dan Role Theory. Goal Setting Theory menjelaskan pentingnya target kerja yang jelas, menantang, dan disertai umpan balik agar pegawai termotivasi. Social Exchange Theory menjelaskan bahwa dukungan, penghargaan, dan komunikasi yang baik dari organisasi dapat mendorong pegawai membalas dengan kinerja dan komitmen. Role Theory menjelaskan pentingnya kejelasan peran, tanggung jawab, dan koordinasi agar tidak terjadi kebingungan peran dalam pelaksanaan tugas.

Mengenai solusi yang paling realistis, Satria Irawan menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap. “Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.

Dr. Chandra, S.T., M.M. memandang gagasan Satria Irawan dari perspektif masyarakat, praktik manajerial, dan penelitian ilmu manajemen. Menurutnya, isu motivasi dan koordinasi antarbagian penting karena berhubungan langsung dengan pencapaian target operasional. Ia menyarankan agar gagasan ini diperkuat dengan ukuran target kerja, pola koordinasi lintas unit, serta indikator produktivitas pegawai. Dengan begitu, solusi yang ditawarkan dapat lebih mudah diterapkan dan dievaluasi secara objektif.

Satria Irawan

Goal Setting Theory; Social Exchange Theory; Role Theory

Menulis di Uwrite bisa dapat penghasilan, Investasikan tulisan anda sekarang juga
Daftar di sini

Jika anda keberatan dan memiliki bukti atau alasan yang kuat bahwa artikel berita ini tidak sesuai dengan fakta, anda dapat melakukan pengaduan pada tautan ini

Tulis Komentar

0 Komentar