Banjir Berulang, Proyek Tanggul Darurat Dipertanyakan: Siapa Bertanggung Jawab di Balik Jebolnya Sungai Citalahab?

Uwrite.id - Banjir yang kembali merendam wilayah Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, untuk kedua kalinya dalam sepekan memunculkan pertanyaan baru: mengapa tanggul darurat Sungai Citalahab yang sudah ditangani sementara tetap jebol saat hujan kembali turun deras?
Sedikitnya 295 rumah dan ratusan hektare lahan pertanian terdampak setelah tanggul di aliran kembali runtuh pada Senin (16/2/2026) sore. Padahal, titik kerusakan sebelumnya sudah ditutup melalui penanganan darurat pascakejadian banjir pertama pada 9 Februari lalu.
Data dari menunjukkan, banjir terjadi dua kali dalam rentang tujuh hari di wilayah . Pola berulang ini menandakan adanya kerentanan struktural pada tanggul serta belum optimalnya penguatan sementara yang dilakukan.
“Penutupan darurat memang bersifat sementara. Saat debit kembali tinggi, struktur belum cukup kuat menahan tekanan air,” demikian keterangan dalam laporan lapangan BPBD.
Perbaikan Sementara Tak Tahan Debit Ulang
Pada kejadian pertama, tanggul jebol setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu. Air meluap ke sawah dan permukiman warga. Penanganan awal dilakukan dengan metode darurat untuk menutup titik bocor agar aliran kembali terkendali.
Namun, hujan intensitas tinggi yang kembali terjadi sepekan kemudian membuat debit sungai naik cepat. Tekanan arus merusak kembali bagian tanggul yang belum diperkuat permanen. Air pun kembali melimpas ke dua desa terdampak.
Sejumlah warga menilai penanganan darurat terlalu minimal untuk menghadapi potensi hujan susulan. Mereka berharap ada penguatan struktur, bukan sekadar penutupan sementara.
Peran Lintas Instansi Disorot
Penanganan tanggul sungai melibatkan lebih dari satu otoritas. Pemerintah daerah menangani respons darurat dan dampak kebencanaan, sementara infrastruktur sungai menjadi kewenangan balai wilayah sungai.
Dalam kasus ini, perbaikan darurat tanggul melibatkan yang menurunkan alat berat untuk penutupan sementara dan normalisasi titik jebol. Di sisi lain, pemerintah daerah melalui BPBD dan dinas terkait fokus pada evakuasi, logistik, serta pemulihan awal warga.
Situasi ini memunculkan pertanyaan koordinasi: sejauh mana standar kekuatan penanganan darurat ditetapkan, dan siapa yang memastikan kesiapan tanggul menghadapi hujan susulan.
Pengamat kebencanaan menilai penanganan darurat sering kali efektif untuk menghentikan limpasan awal, tetapi berisiko tinggi jika tidak segera ditindaklanjuti dengan penguatan permanen, terutama di titik sungai dengan riwayat tekanan debit tinggi.
Kebutuhan Perbaikan Permanen
BPBD mencatat kebutuhan paling mendesak saat ini adalah pembangunan ulang tanggul secara permanen di titik rawan jebol. Tanpa perbaikan struktural, wilayah bantaran sungai berpotensi kembali terendam jika curah hujan tinggi berulang.
Selain perbaikan fisik, evaluasi menyeluruh terhadap peta risiko dan kapasitas tampung aliran sungai dinilai penting agar respons tidak terus bersifat reaktif.
Hingga kini, tim gabungan masih melakukan pembersihan material banjir dan pendataan kerugian. Sementara warga mulai kembali ke rumah, kekhawatiran akan banjir susulan tetap membayangi selama tanggul belum diperkuat secara menyeluruh.***

Tulis Komentar